Ditanya Alasan First Travel Murah, Ini Jawaban Anniesa
Rabu , 23 August 2017, 17:08 WIB

Republika/Mahmud Muhyiddin
Tersangka kasus penipuan calon jamaah umroh, Andika Surachman, Anniesa Desvitasari Hasibuan, dan Siti Nuraidah Hasibuan diperlihatkan pihak kepolisian saat acara rilis tentang kasus dugaan penipuan perjalanan ibadah umrah First Travel di Kantor Bareskrim Polri Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (22/8).

IHRAM.CO.ID, PADANG -- Salah satu agen resmi First Travel di Kota Padang, Sumatra Barat, Amna (60 tahun), pernah menanyakan alasan perusahaan penyedia layanan umrah tersebut bisa menawarkan tarif yang jauh lebih murah dibanding penyelenggara umrah lainnya. Pertanyaan dia lontarkan kepada Direktur First Travel, Anniesa Hasibuan.

Dibandingkan dengan tarif yang ditawarkan penyelenggara umrah pada umumnya sebesar Rp 20 juta ke atas, tarif umrah First Travel jauh di bawah, yakni Rp 14 jutaan. Lantas apa jawaban Anniesa atas alasan murahnya tarif First Travel? "Itu rahasia dapur kami. Sama seperti kenapa AirAsia bisa lebih murah dibanding maskapai lain," ujar Amna menirukan penjelasan Anniesa, Rabu (23/8).

Amna mengatakan, Anniesa tidak mau jujur menjelaskan kunci rendahnya biaya umrah First Travel. Apa yang Anniesa lakukan sama seperti manajemen First Travel lainnya yang cenderung tertutup tentang pengelolaan keuangan. Hal ini semakin buruk setelah penundaan demi penundaan keberangkatan umrah terjadi sejak awal 2017. Amna menyebut, pihak First Travel tidak mampu menjelaskan secara perinci alasan di balik penundaan tersebut.

First Travel diduga menggunakan modus skema ponzi untuk melakukan penipuan kepada para jamaahnya. Sebelumnya, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak, mengatakan tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai skema yang digunakan oleh First Travel. Hanya saja, kata dia, polisi menerima sebanyak 13 laporan masyarakat untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan skema lain yang dilakukan oleh First Travel.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kepada para pelapor, polisi menemukan modus tambahan yang dilakukan oleh pelaku, di antaranya meminta uang tambahan dengan promo-promo lainnya. Modus-modus baru yang dilakukan First Travel ini diketahui dari 35 ribu jamaah yang sudah membayar, tapi tidak bisa berangkat. Mereka diminta untuk melakukan pembayaran tambahan sebesar Rp 2,5 juta agar bisa segara diberangkatkan.

"Korban yang tidak bisa berangkat akhirnya ditawarkan ada carter pesawat, ini menawarkan jalur khusus dengan mencarter pesawat sendiri dengan biaya per jamaah Rp 2,5 juta, tapi ternyata yang bisa diberangkatkan hanya 10 persen. Sisanya tidak," ujar Herry.

First Travel juga menawarkan promo Ramadhan kepada para jamaah. Jamaah diminta menambahkan pembayaran sebesar Rp 2 juta hingga Rp 8 juta untuk segera bisa diberangkatkan. "Ternyata, sama, tidak diberangkatkan juga," kata Herry.

Kisruh pengelolaan First Travel juga dirasakan oleh ribuan jamaah yang menjadi korban iming-iming paket promo ibadah umrah. Di beberapa kota di Sumatra Barat, terutama Padang, Solok, Bukittinggi, Tanah Datar, Pasaman, dan Dharmasraya, jumlah jamaah yang belum diberangkatkan oleh First Travel ditaksir di atas 500 orang.

Amna bahkan mengoordinasi 500 jamaah yang tersebar di Sumatra Barat. Dari jumlah tersebut, lebih dari 300 jamaah belum bisa diberangkatkan hingga kini. Menurutnya, kisruh penjadwalan umrah mulai terjadi pada awal 2017. Sejak Januari, penjadwalan ulang atas keberangkatan umrah jamaah yang dia koordinasi mulai terjadi. Puncaknya terjadi sejak April 2017 saat penundaan keberangkatan belum bisa terealisasi hingga kini. Amna menyebutkan, terdapat sekitar 11 agen resmi First Travel di Sumatra Barat. Artinya, jumlah korban paket promo yang belum bisa berangkat umrah ditaksir sekitar 600-an orang.

Redaktur : Qommarria Rostanti
Reporter : Sapto Andika Candra