Jejak Pohon Sukarno di Padang Arafah
Senin , 01 Agustus 2016, 15:40 WIB

Abc.net
Jutaan calon jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Padang Arafah dinamakan demikian karena Nabi Adam AS, 'Arafa atau berarti 'Dipertemukan kembali' dengan Hawa setelah ke duanya diturunkan dari surga dan terpisah di dunia. Lembah Arafah ini, merupakan daerah terbuka dan luas yang terletak 22 kilometer di sebelah timur luar kota suci Makkah.

Kawasan Padang Arafah ini seluas sekitar 1200 hektar dan dianggap kawasan luar Tanah Haram. Di tempat ini, umat Islam seluruh dunia menunaikan rukun wukuf pada 9 Dzulhijjah, karena jika tidak maka hajinya tidak sah.

Wukuf di Padang Arafah merupakan salah satu rukun haji, untuk mengingat kembali peristiwa di mana Nabi Adam AS dan Hawa telah diturunkan ke dunia dari Surga atas pengingkaran perintah Allah, karena tipu daya iblis. Mereka dipisahkan di dunia dan mengambil masa 40 tahun untuk bertemu kembali.

Tempat pertemuan mereka adalah di Padang Arafah, tepatnya di Jabal Rahmah. Di sinilah bertahun-tahun mereka memohon ampun kepada Allah atas kesalahan mereka. Allah akhirnya menerima permohonan maaf tersebut. Wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah berarti berhenti sejenak di padang ini.

Berada di Padang Arafah dalam suasana hangat dan panas terik memberi peringatan awal kepada umat Islam mengenai keadaan di Padang Mahsyar. Di mana saat nanti semua manusia tanpa memandang bangsa dan kedudukan dihimpun menerima pengadilan Allah berdasarkan amalan mereka di dunia.

Panas terik udara di Padang Arafah saat ini sedikit berkurang dengan hadirnya rerimbunan pepohonan yang tumbuh. Kondisi Padang Arafah yang ditumbuhi pepohonan ini tidak lepas dari peran dan gagasan presiden pertama RI Sukarno.


Presiden Sukarno memberi ide menghijaukan Padang Arafah saat Bung Karno usai menunaikan ibadah haji pada 1960an. Pohon setinggi empat hingga enam meter tersebut adalah jenis pohon mindi (melia azedarah). Jenis pohon ini karena tahan hidup di padang pasir.

Kini pohon ini di Arab Saudi dikenal dengan nama 'Pohon Soekarno'. Penanaman pohon di padang seluas 1.250 hektar tersebut merupakan bentuk penghargaan atas gagasan Bung Karno menghijaukan Padang Arafah. Pemerintah Saudi mengundang ahli kehutanan Indonesia untuk menjalankan program tersebut.

Untuk mendukung pertumbuhan pohon ini, kemudian dibawa tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Sedangkan untuk penyiramannya dipasangkan pipa-pipa air di bawah tanah dan setiap pohon mendapatkan satu kran air untuk pengairan. Sehingga di Padang Arafah tumbuhlah beberapa rerimbunan pohon seperti saat ini.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Amri Amrullah