Festival Atareek Bukti Jeddah Sarat Sejarah
Selasa , 18 April 2017, 19:00 WIB

Republika/ Amin Madani
Bangunan tua di balad jeddah

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Hidup di dunia modern tak lantas memenjara orang-orang di dalamnya. Bagi banyak orang, hiruk pikuk kehidupan modern bisa diselingi jeda melalui penelusuran sejarah masa lalu. Jeda yang diambil pun tak perlu jauh. Bagi warga Jeddah atau Jeddawi, mengunjungi Festival Sejarah Atareek bisa jadi opsinya.

Area sejarah Jeddah selalu jadi atraksi utama bagi wisatawan. Bahkan, jamaah haji pun menyempatkan diri berkunjung ke Jeddah al-Balad atau Kota Tua Jeddah untuk menyaksikan warisan sejarah kota ini. 

Festival Atareek yang digelar belum lama ini di Jeddah memberi kesempatan kepada warga Saudi dan para pendatang untuk melihat kembali sejarah negeri ini, khususnya Jeddah. Mereka diajak menyelami masa-masa jaya Saudi.

Kata atareek sendiri berarti lentera untuk menerangi jalan, rumah, dan pertokoan. Namun, di Hijaz, atareek juga berarti Kota Tua Jeddah. Karena Festival Atareek berbarengan dengan liburan musim semi, warga dari seluruh penjuru Saudi dan negara-negara tetangga tumpah di Jeddah, si Pengantin Laut Merah.

Festival Atareek digelar untuk memperkuat posisi Saudi sebagai sumber kultur budaya Islam dan Arab serta diharapkan bisa menjembatani sejarah masa lalu dengan kehidupan saat ini. Festival ini juga bertujuan untuk memperkenalkan situs bersejarah kepada para wisatawan dan menghidupkan nilai yang tersirat di dalamnya kepada warga setempat.

Festival ini pertama kali digelar pada 2014 dan merupakan festival pertama di Saudi yang berhasil menarik massa lebih dari 3 juta orang. Bagi warga yang datang, festival ini menjadi semacam nostalgia. Mereka dapat mengingat kembali wajah lama Kota Jeddah sebelum gedung-gedung berlomba menggapai langit dan kehidupan modern masuk.

Menurut Dewan Pariwisata dan Warisan Budaya Nasional Saudi (SCTH), Kota Tua Jeddah punya sejarah panjang, bahkan sebelum Islam datang. Namun, titik balik kota ini terjadi di era Khalifah Utsman bin Affan pada 647 M. Saat itu, Utsman memerintahkan agar Jeddah jadi gerbang dan wilayah pelabuhan Kota Makkah agar alur barang dan jasa bagi jamaah haji lancar.

Jeddah al-Balad punya banyak monumen dan bangunan bersejarah yang menarik secara arkeologi. Bangunan dan monumen ini tersebar dan berhadapan dengan bangunan-bangunan modern saat ini, termasuk Dinding Kota Tua Jeddah beserta area-area terbukanya, seperti al-Mazloom, al-Sham, al-Yemen, dan al-Bahr Haras. Ada pula masjid-masjid bersejarah dan pasar-pasar lama yang masih beroperasi menjajakan komoditas khas Jeddah.

Salah satu yang penting dari festival ini adalah gelaran makanan, baik makanan tradisional Hijaz maupun non-Hijaz. Sahutan penjual susu segar bisa didengar di tiap blok di tempat festival ini diselenggarakan. Bagi yang tertarik, ada pula bazar pakaian, aksesori hingga perkakas rumah

Festival Atareek digelar selama 10 hari dan kegiatannya dibagi berdasarkan kategori, yakni sejarah, budaya, dan hiburan. Area Kota Tua Jeddah yang dijadikan lokasi acara membuat pengunjung seolah dibawa menyelami Saudi 80 tahun silam. 

Mereka yang berkunjung ke Jeddah al-Balad disarankan melihat pameran bangunan berusia 200 tahun yang ditutup pembungkus khusus. Bangunan berusia 200 tahun ini pernah menjadi rumah perlindungan bagi wanita di abad ke-19. 

Pameran ini punya pesan tegas agar warga setempat ikut menjaga bangunan-bangunan lama dan tidak meninggalkannya lumat dimakan waktu. Festival ini tak hanya menarik bagi warga Saudi, tetapi juga bagi wisatawan asing. Bagi warga asing yang sempat dan masih menetap di Jeddah, Jeddah al-Balad seperti buku yang tak habis dibaca sekali duduk.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Fuji Pratiwi