Jeddah, Pintu Masuk Dua Kota Suci
Selasa , 19 September 2017, 18:30 WIB

wikipedia.org
Pemandangan Pelabuhan Jeddah

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Beberapa studi arkeologi menyimpulkan, Jeddah sudah dihuni manusia sejak zaman batu. Para arkeolog menemukan beberapa peninggalan berupa artefak dan tulisan ''Thamoudian'' di Wadi Breiman dan Wadi Boib yang terletak di bagian timur dan timur laut Jeddah. Sementara, beberapa sejarawan mengatakan, Jeddah pertama kali dihuni oleh suku Bani Quda'ah pada 115 SM.

Sejarah juga mencatat, pada sekitar 2.500 tahun silam, sudah ada pelabuhan di pesisir Laut Merah, Jeddah. Di dekat pelabuhan itu terdapat sebuah permukiman nelayan kecil. Seiring berjalannya waktu, pelabuhan itu berkembang dan sempat menjadi pusat perdagangan yang didatangi pedagang dari mancanegara, seperti Yaman dan negara-negara Eropa.

Pada 647, Jeddah mulai berfungsi sebagai pintu masuk bagi jamaah haji yang hendak menuju Tanah Suci Makkah. Sejak saat itu, Jeddah menjelma menjadi kota yang memiliki posisi penting bagi pelaksanaan ibadah haji.

Pada tahun itu pula, Khalifah Utsman bin Affan menetapkan Jeddah sebagai pelabuhan utama untuk mengakses Kota Makkah melalui jalur laut. Saat itu, Jeddah masih dikenal dengan sebutan Balad al-Qanasil.

Dalam buku catatan perjalanannya, Ibnu Battutah dan Ibnu Jubayr mengatakan, Jeddah merupakan kota yang indah. Banyak bangunan megah dan kebanyakan bergaya arsitektur Persia. 

Sebelumnya, al-Maqdisi al-Bishari, penulis buku Ahsan al-Taqaseem fe Ma'rifat al-Aqaleem, juga mengulas tentang Jeddah dalam karya tulisnya itu. Menurut penulis yang wafat pada 900 M ini, Jeddah merupakan kota yang aman dan penuh dengan para pedagang serta orang kaya. Jeddah, menurutnya, juga merupakan ladang harta bagi Makkah dan tempat tinggal bagi orang Yaman dan Mesir.

"Ada masjid di sana. Namun, masyarakat sulit mendapatkan air meskipun kota ini memiliki banyak penampungan air. Masyarakat mendapatkan air dari tempat yang sangat jauh. Mayoritas penduduk Jeddah berasal dari kawasan Persia. Kota ini memiliki lorong-lorong lurus yang kondisinya terawat dengan baik. Sayangnya, kota ini sangat panas,'' tulis al-Bishari dalam bukunya. 

Dari sisi pemerintahan, Jeddah selama beberapa periode dipimpin oleh penguasa Muslim, mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, hingga Mamluk. Di antara beberapa dinasti tersebut, Mamluk merupakan dinasti yang paling lama menguasai Jeddah.

Di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk, posisi Jeddah kian mapan sebagai jalur perdagangan dan haji.  Dinasti ini memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga Tanah Suci dan dua masjid yang berada di dalamnya, yakni Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. 

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Retno Wulandhari