Kisah Air Zamzam
Sabtu , 05 Mei 2018, 16:22 WIB

istimewa
Sumur Zamzam masa dahulu

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Bagi pengunjung dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah), air zamzam yang sumbernya tak pernah mengering, menjadi tujuan utama. Kisah penemuan mata air zamzam selalu didengungkan sehingga umat Islam di berbagai zaman selalu mendengarnya.

Dahulu, Nabi Ibrahim AS (Lahir 2510 SM) mendambakan anak. Sementara istrinya, Sarah, tak kunjung hamil. Kisah-Kisah Shahih dalam Alquran dan Sunnahkarya Syekh Umar Sulaiman al- Asyqor menyebutkan, Ibrahim memohon kepada Allah untuk diberi keturunan yang baik.

Allah mewujudkan keinginan itu. Saat Ibrahim menetap di Baitul Maqdis, Sarah berkata kepada Ibrahim untuk menikah dengan hamba sahayanya Ha jar agar memiliki anak. Ibrahim kemu di an menikah dan setelah itu Hajar ha mil.

Ismail anak dari Hajar dan Ibrahim lahir di bumi yang diberkahi, Palestina. Hajar melahirkan Ismail saat Ibrahim ber usia 86 tahun, tepat tiga tahun sebelum kelahiran Ishaq.

Setelah Ismail lahir, Allah menurunkan wahyu kepada Ibrahim berisi berita gembira kelahiran Ishaq dari Sarah. Ibrahim langsung bersujud. Allah berfirman kepadanya, Aku telah mengabulkan permintaanmu terkait Ismail, Aku memberkahinya, Aku akan memperbanyak keturunannya, dan ia akan memiliki 12 orang besar dan Aku akan menjadikannya seorang pemimpin suku bangsa yang besar.

Saat Hajar melahirkan Ismail, kecemburuan Sarah semakin besar dan me minta Ibrahim agar membawanya per gi, supaya Sarah tidak lagi melihat wa jahnya. Ibrahim akhirnya membawa Hajar pergi bersama anaknya, lalu ditem patkan di sebuah padang pasir, Makkah. Ismail saat itu masih disusui.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya, Hajar mengikat kakinya ketika berjalan sehingga tak mening galkan jejak dan tidak ada yang bisa mengikutinya. Makkah ketika itu tak berpenghuni, hanya hamparan padang pasir tandus.

Saat Ibrahim meninggalkan kedua nya di sana dan beranjak pergi, Hajar menghampirinya dan menarik bajunya. Ia berkata, Ibrahim! Hendak pergi ke ma na engkau dan meninggalkan kami di sini tanpa perbekalan untuk mencu kupi keperluan kami? Ibrahim tidak me nya hut.

Namun, karena terus mendesak bertanya tanpa diberi jawaban, Hajar akhir nya bertanya, Allah-kah yang menyu ruhmu untuk melakukan hal ini? Ibra him mengiyakan. Hajar kemudian me yakini hidupnya tak akan telantar.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Ratna Ajeng Tedjomukti