Selasa , 03 Januari 2017, 20:23 WIB

Kisah Haji Damanhuri Zuhri, Jurnalis Peliput Perang Teluk

Red: Muhammad Subarkah
Photography-News.com/Brian Kelly
Seorang wanita dan anak-anaknya di kemah pengungsi Turki pada akhir Perang Teluk pertama
Seorang wanita dan anak-anaknya di kemah pengungsi Turki pada akhir Perang Teluk pertama

Oleh: Aris Eko Sediono*

========

"Bos saya berangkat yah. Mama Nadia sedang hamil euy."

Begitu SMS Damanhuri masuk dalam hape saya mengabarkan keberangkatannya ke Amman, Yordania, pada akhir Maret 2003. Dia sudah di bandara Cengkareng ketika itu, siap-siap meliput Perang Teluk 3. Saya sedang di kantor Republika, jalan Warung Buncit 37, Jakarta.

Saya bukanlah atasan Damanhuri. Kami sama-sama awak redaksi di Republika. Sapaan itu adalah kebiasaan dia yang senantiasa menghargai kawan. Jangankan dengan saya yang seusia, terhadap mereka yang lebih muda pun, Damanhuri acap menyapanya dengan 'bos'.

Namun saya tersentak juga dengan keberangkatannya ke Amman karena harus meninggalkan isterinya yang hamil. Ketika itu keputusan memilih Damanhuri meliput Perang Teluk ke 3 tergolong mendadak. Selain fasih berbahasa Arab, Damanhuri juga pernah meliput Perang Teluk ke 1 saat masih bergabung dengan Media Dakwah.

Hari-hari berikutnya, laporan Damanhuri tentang kondisi di Irak pasca bombardir pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat mengisi halaman pertama Republika. Damanhuri membuat laporan dari Amman, Yordania.

Saat hari Sabtu siang menjelang sore, saat saya sedang bertugas di kantor Republika ada SMS dari Damanhuri. Dia minta saya menelponnya. Segera saya minta operator telepon agar menyambungkan saya dengan Damanhuri yang sedang bertugas di Amman itu.

Kami pun saling berbicara. Dia menceritakan berbagai hal. Sejak keberangkatannya dari tanah air hingga sampai Amman. Seperti biasa, ada saja cerita menarik, lucu maupun heboh dari dia. Baik tentang selama penerbangan, mencari penginapan maupun mencari bahan berita.

Tak terkecuali dia juga mengatakan membawa bekal empal daging haji Dadih, Lebak Wangi, Parung yang menurutnya paling enak sedunia. Empal daging ini juga menjadi kegemaran pak Casmo T, mas J Osdar dan wartawan lain yang bertugas di Istana saat menjadi rombongan (Damanhuri juga ikut) kunjungan Presiden KH Abdurrahman Wahid ke Amerika.

Rupanya, Damanhuri menyampaikan bahwa dia akan segera berangkat menuju Baghdad. Bersama rekan wartawan dari Pikiran Rakyat, dia mengatakan sudah mendapatkan mobil carteran bersama sopir yang siap mengantarkan melalui jalan darat ke kota yang menjadi sasaran serangan tentara koalisi pimpinan Amerika.

Saya lebih banyak mendengarkan. Dia bercerita tentang tak mudahnya mencari kendaraan dan sopir yang bersedia mengantar ke Baghdad. Tentang rompi perang, bekal makan yang harus dibawa dan urusan lain yang harus dia siapkan saat melewati pos-pos pemeriksaan. Juga cara dia mengirimkan berita melalui faximili.

Tak lama kemudian, setelah kami berhenti berteleponan, rupanya mobil carteran dan sopir yang membawanya masuk Irak menuju Baghdad mmulai bergerak. Dia memberitahu melalui SMS. Sekitar 20 menit kami saling sapa melalui SMS. Ketika itu dia mengatakan sudah berada di kawasan Irak. Banyak hal yang dia sampaikan. Termasuk menyinggung kehamilan isterinya yang mengandung anak ke tiga.

Namun tiba-tiba SMS saya tak dia balas. Belakangan saat sudah kembali ke tanah air dia bercerita bahwa ketika itulah mobil yang dia tumpangi masuk dalam kawasan yang sudah dikendalikan tentara koalisi. Tidak ada sama sekali sinyal ponsel agar bisa berkomunikasi. Hal itu dia alami hingga sampai Baghdad. Saya agak lupa apakah dia menginap di hotel Jurnalis atau Palestine saat di ibukota Irak, ketika itu.