REPUBLIKA.CO.ID | EPAPER REPUBLIKA
Saturday, 24 June 2017
29 Ramadhan 1438
Find us on:
Jamaah Bergerak ke Makkah
Thursday, 01 Jan 1970

MADINAH - Setelah menyelesaikan ibadah shalat Arbain di Masjid Nabawi, Madinah, sebagian calon jamaah haji (calhaj) Indonesia mulai bergerak ke Makkah, Selasa (9/9) ini, untuk melaksanakan umrah wajib.

"Insya Allah, besok, Selasa sore pukul 16.00 WAS, jamaah haji yang telah mennyelesaikan Arbain mulai didorong ke Makkah untuk melakukan umrah setelah sebelumnya melakukan niat umrah di Miqat Bir Ali," kata Kadaker Madinah Nasrullah Jassam, Senin (8/9).

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:Dokrep

Sesuai ketentuan, calhaj berada di Madinah maksimal selama sembilan hari. Setelah melaksanakan shalat Arbain, mereka harus mulai melaksanakan rukun-rukun haji. Dijelaskan Nasrullah, pergerakan jamaah diawali dari kelompok penerbangan (kloter) 1 JKG. Mereka akan diberangkatkan dari hotel masing-masing menuju Bir Ali. "Selanjutnya kita siapkan untuk tiga hari ke depan, hari kedua 10 kloter dan hari ketiga sekitar 10 kloter.''

Sebelum berangkat ke Makkah, kata dia, sejumlah persiapan telah dilakukan, di antaranya oleh Muassasah Maktab Indonesia dengan mengecek paspor jamaah bersama para ketua kloter. Tujuan pengecekan tersebut adalah untuk memastikan bahwa seluruh paspor dan dokumen jamaah tidak tertinggal.

"Paspor jamaah, ketentuannya 24 jam harus dicek oleh ketua rombongan, dipastikan tidak ada paspor jamaah yang hilang dan tertinggal. Bagi jamaah yang dirawat BPHI atau rumah sakit di Arab Saudi dan harus menyusul keberangkatannya, maka harus dipastikan paspornya tidak terbawa oleh kloternya,"  ujar Nasrullah.

Selain itu, proses keberangkatan juga didahului dengan sinkronisasi jadwal. Sebab, pemberangkatan jamaah dari Madinah ke Makkah ada mekanismenya. Menurut Nasrullah, pemberangkatan jamaah tidak boleh dilakukan setelah Maghrib.

"Dalam satu hari, sekitar 20 ribu jamaah dari seluruh dunia diberangkatkan dari Madinah ke Makkah. Maka, kalau ada lima pemberangkatan, bisa memicu macet di Bir Ali. Tidak boleh lebih dari 4.000 jamaah dalam satu kali pemberangkatan.''

Terkait proses pemberangkatan ke Makkah, Nasrullah meminta jamaah untuk mematuhi aturan yang telah disiapkan petugas haji Indonesia. Jamaah, misalnya, tidak boleh ''menumpuk'' di lobi hotel sebelum ada instruksi petugas. ''Hal-hal ini kerap terjadi di tahun sebelumnya, sekarang sudah diantisipasi. Bus sudah siap, tas sudah ditata, petugas yang akan mengatur di Bir Ali juga sudah siap menyambut jamaah dan mengatur keberangkatan mereka ke Makkah,'' kata Nasrullah, seperti dilansir Media Center Haji (MCH).

Koordinasi dengan Muassasah

Imbauan juga disampaikan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah PPIP Daker Madinah Ahmad Izzuddin. Ia mengimbau para pimpinan kloter segera berkoordinasi dengan pihak Muassasah dan semua pihak terkait keberangkatan jamaah ke Makkah. Terutama terkait paspor jamaah yang berada di tangan Muassasah Adilla dan Muassasah Thawwafah di Makkah.

Muassasah Adilla di Madinah memiliki tugas pokok menyambut para peziarah Masjid Rasulullah SAW. Sedangkan, Muassasah Thawwafah merupakan sebuah badan yang khusus melayani jamaah haji yang datang dari luar Kerajaan Arab Saudi dengan tugas pokok menyediakan pelayanan akomodasi yang layak selama jamaah berada di Makkah dan Masya`ir.

"Perlu dicek juga apakah di kloter tersebut ada jamaah yang tertinggal karena sakit dan dirawat di rumah sakit atau di BPHI," kata Izzuddin.

Sementara kepada para pembimbing ibadah, ia meminta untuk memastikan semua jamaah sudah mengenakan kain ihram saat meninggalkan hotel di Madinah. Sebab, mereka akan langsung mengambil miqat di Bir Ali.

"Semua jamaah ketika di hotel sudah mempersiapkan diri berpakaian ihram, kemudian menuju Makkah melewati miqat di Bir Ali. Di sana, mereka tinggal shalat sunah dan berniat ihram untuk melaksanakan ibadah umrah," katanya.

Pelaksana bimbingan ibadah haji PPIH Daker Makkah Zakaria Anshori juga mengingatkan hal serupa. Ia menegaskan, petugas pembimbing ibadah haji di Bir Ali harus memastikan bahwa semua jamaah sudah berniat ihram dengan benar. Para pembimbing ibadah juga harus memberi tahu kembali kepada para jamaah mengenai hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan setelah berihram.

Selain itu, kata dia, para pembimbing haji di sektor juga harus saling koordinasi supaya semua jamaah melakukan niat di Bir Ali. ''Jangan sampai terulang kejadian dua tahun lalu, ada satu bus yang tidak belok ke Bir Ali karena sopirnya tidak tahu dan ketua rombongan juga tidak mengingatkan. Akibatnya, satu bus membayar dam.''  rep:zaky al hamzah/neni ridarineni ed: wachidah handasah