Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Filosofi Lebaran Topat: Hakikat Hidangan Ketupat

Rabu 12 Jun 2019 18:02 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Nashih Nashrullah

Sejumlah laki-laki mengangkat 'topat' (ketupat) untuk disajikan saat mengikuti tradisi lebaran topat di pantai Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (12/6/2019).

Sejumlah laki-laki mengangkat 'topat' (ketupat) untuk disajikan saat mengikuti tradisi lebaran topat di pantai Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (12/6/2019).

Foto: Antara/Ahmad Subaidi
Lebaran Topat merupakan tradisi Idul Fitri masyarakat Lombok.

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK TENGAH – Masyarakat Suku Sasak (Lombok) di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki sebuah tradisi bernama Lebaran Topat (ketupat) yang dilaksanakan satu pekan setelah Idul Fitri.

Rektor IAIH Qamarul Huda di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Ahyar Fadli, mengatakan Lebaran Topat memiliki filosofi yang mendalam. 

Baca Juga

Ahyar menyampaikan Lebaran Topat dirayakan setelah menggenapkan puasa sunat Syawal selama enam hari, mulai 2 Syawal atau hari kedua setelah Idul Fitri.

"Sebagian besar masyarakat Sasak Lombok hanya merayakan lebarannya (Lebaran Topat), tapi tidak puasanya (puasa sunat)," ujar Ahyar di Lombok Tengah, NTB, Rabu (12/6).

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menyampaikan banyak masyarakat Sasak yang tidak mengetahui sejarah hingga filosofi dari Lebaran Topat. Meski begitu, Ahyar tidak menyalahkan ketidaktahuan tersebut.

Ahyar mengajak masyarakat Sasak untuk memahami substansi yang terkandung pada Lebaran Topat agar tidak terjebak pada rutinitas seremonial. 

Ahyar menjelaskan, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam di Jawa sejak masa pemerintahan Demak pada awal abad ke-15. Sebelum tegaknya Kerajaan Demak Islam, terutama di masa Majapahit kuno dan Padjajaran, ketupat merupakan demitologisasi dan desakralisasi pemujaan Dewi Sri.

photo

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Utara menggelar perayaan Lebaran Topat di Pantai Sira Indah, Rabu (12/6).

"Dalam konteks filosofi, ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani. Ketupat terdiri atas anasir-anasir materi yang harmoni dan terikat secara rapi. Anyaman Janur bercerita tentang kompleksitas masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturahim," kata Ahyar. 

Ahyar melanjutkan, bentuk ketupat bercerita tentang kiblat papat, mata angin, lima pancer kiblat (arah kiblat). Beras menggambarkan nafsu birahi. Janur sendiri berarti jatining nur (hati nurani). Ketupat bermakna ngaku lepat (mengaku bersalah).

"Jadi, Lebaran Topat berarti lebaran menyambut keberhasilan Muslim mengatur nafsunya dengan melakukan puasa sunat yang cukup berat," ucap Ahyar. 

Ahyar melanjutkan, Lebaran Topat sudah menjadi tradisi di Lombok, di mana masyarakat menuju ke pinggir pantai dan tempat wisata lainnya bersama sanak keluarga berbekal ketupat, lauk pauk, dan opor ayam sebagai santapan makan siang.

"Terlihat perbedaan antara lebaran Idul Fitri dan Lebaran Topat. Kalau Idul Fitri semua orang berhalal bi halal dengan keluarganya dan handai tolannya. Sementara, Lebaran Topat dimanfaatkan umat Islam Lombok untuk bersantai dan berekreasi," kata Ahyar menambahkan. 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA