Hajinya Orang Betawi, Penggusuran, atau Entah Apa Namanya?

Selasa , 13 Sep 2016, 08:16 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Haji Mujitaba dan rumah tradisional Betawinya
Foto : Republika/Rakhmawaty La'lang
Haji Mujitaba dan rumah tradisional Betawinya

Dari cerita Ahmad, Haji Mencong adalah seorang warga Betawi yang mempunyai tanah yang luas. Karena saking luas lahannya, ketika lahannya berkembang menjadi permukiman, maka untuk mengenangnya ruas jalan yang melewati bidang tanah itu disepakat diberi 'sebutan'  sesuai namanya. Keturunannya yang ketiga kini masih tinggal di sana. Berbeda dengan sang engkong, lahan mereka sudah sangat menyempit akibat dijual untuk berbagai keperluan, salah satunya naik haji.

 

Bagi orang Betawi, tanah dan haji selalu punya hubungan yang erat. Semua sudah mahfum, suku yang merupakan 'warga asli' ibu kota ini bisa dibilang penganut Islam yang taat. Sikap istiqamah ini dulu pernah dipuji ulama besar Buya Hamka, dengan menyebut sebagai suku yang sangat kokoh memegang igame (agama).

Menurut Hamka, meski hidup susah, miskin, dan tinggal di perumahan sederhana, namun dapat dipastikan mereka semuanya beragama Islam. Kalau pun ada yang klaim bahwa ada juga warga Betawi yang non-Muslim, itu adalah pernyataan dari orang yang melihat kaum pendatang yang datang ke Betawi pada kurun waktu  belakangan, yakni di awal abad ke-20. Data menyatakan, meski ratusan tahun hidup di bawah 'sepatu kolonial', ternyata hanya beberapa gelintir orang Betawi yang mengganti agamanya.

Kekentalan 'warna budaya' Betawi dengan ajaran Islam juga dibenarkan 'Dai Sejuta Umat', KH Zainuddin MZ. ''Mungkin mereka tak taat betul, misalnya shalatnya bolong-bolong, tapi kalau soal agamanya dilecehkan, maka orang Betawi akan langsung bangkit tak terima. Nyawa dijadikan taruhannya,'' begitu kata Zainuddin yang anak asli Betawi asal Kampung Gandaria itu.

Lalu bagaimana soal hubungan orang Betawi, haji, dan tanahnya? Situasi segitiga ini memang unik. Mendiang Gus Dur dulu pernah berseloroh bila kenaikan jumlah calon jamaah haji asal Betawi itu berbanding lurus dengan banyaknya penggusuran. Ini masuk akal, sebab semenjak Kota Jakarta mulai menggeliat dari 'Kampung Besar' menjadi kota metropolitan pada akhir tahun 50-an, pada saat itu mulai banyak penggusuran.

Proyek penggusuran pascakemerdekaan di Jakarta dimulai ketika terjadi pembangunan kawasan Jl Jendral Sudirman, MH Thamrin, hingga kawasan Senayan. Di sana ada pembangunan pusat perbelanjaan Sarinah, Jembatan Semanggi, hingga kompleks olahraga, gedung parlemen, studio TVRI, Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno), hingga pembuatan Jl Gatot Subroto. Dulu di Senayan misalnya terkenal sebagai kampung yang ditinggali para pembatik. Mereka kemudian dipindahkan ke Tebet. Dan tentu saja --berbeda dengan penggusuran yang kini kerap terjadi -- mereka mendapat ganti rugi yang lumayan, misalnya mendapat rumah dan lahan pekarangan yang lebih luas di tempat yang tak jauh dari kampung mereka.

Pemimpin Jakarta mulai melakukan penggusuran karena pada saat itu mereka melaksanakan dengan sungguh-sungguh amanat Presiden Sukarno, yang kemudian diulang kembali oleh Presiden pertama RI ini  pada pidato ulang tahun Jakarta ke 435 tahun 1935:

"Kita bangun Djakarta dengan cara semegah-megahnya, megah bukan saja karena gedung-gedungnya pencakar langit, megah di dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil dari pada marhaen di Djakarta harus ada rasa kemegahan!"

 
Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019
IMSAK SUBUH ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
04:31 WIB 04:41 WIB 11:58 WIB 15:18 WIB 17:56 WIB 19:06 WIB