8 Ramadhan 1442

KPHI Nilai Kenaikan Indeks Kepuasaan Haji tak Realistis

Ahad , 11 Mar 2018, 16:03 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agus Yulianto
Komisioner KPHI Syamsul Maarif
Komisioner KPHI Syamsul Maarif

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemanag) menargetkan indeks kepuasan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2018 naik menjadi 85 persen. Kemenag juga mengklaim selalu ada kenaikan indeks kepuasaan haji dalam setiap tahunnya.

Namun, Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Syamsul Maarif menilai, tren kenaikan indeks kepuasan tersebut tidak realistis. Pasalnya, di beberapa bidang, seperti bidang kesehatan dan pembimbingan jamaah haji masih kurang baik.

"Katakanlah tahun kemarin. Misalnya di aspek kesehatan, itu kan dianggap selalu naik juga indeksnya. Padahal, di satu sisi jumlah korban yang meninggal dunia jauh lebih besar di banding tahun lalu," ujar Syamsul saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (11/3).

Menurut dia, pada tahun 2016 lalu jamaah haji yang meninggal hanya berada di angka sekitar 200-300, tapi tahun 2017 kemarin angkanya naik dua kali lipat melebihi angka 500. "Tetapi indeksnya tetap naik gitu kan. Nah ukurannya seperti apa. Karena itu, kami dari komisioner berharap tidak muluk-muluk menaikkan indeks, tapi bagaimana menaikkan pelayanan," ucapnya.

Syamsul meliha, indeks kepuasaan jamaah haji memang cenderung naik setiap tahunnya, walaupun ada beberapa bidang yang masih perlu ditinjau ulang. Karena itu, yang memberikan nilai indeks tersebut harus dilihat juga, siapa yang menganggarkan pemberian nilai indeks tersebut. "Kalau indek harus dilihat dulu, sekarang yang menilai indeks itu siapa, lalu yang menganggarkan siapa?," katanya.

Selama ini, pemberian nilai indeks kepuasaan tersebut dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Tahun 2017 lalu, BPS menyebutkan bahwa tingkat kepuasaan jamaah haji Indonesia periode 2017 berada di level 84,85 persen. Padahal, menurut Syamsul, di bidang kesehatan jamaah haji masih jauh dari kata baik.

"Hubungan Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan itu memang tahun kemarin saya merasa tidak singkron. Jadi, ke depan harus dipeperbaiki," ujarnya.

Selain di bidang kesehatan, tambah dia, Kementerian Agama juga perlu memperbaiki pembimbingan jamaah haji. Menurut dia, pelayanan ibadah terhadap jamaah haji juga ada penurunan kualitas. Sejak awal, kata dia, banyak buku manasik yang cetakannya rusak. "Pelayanannya itu juga selalu terlambat, distribusi buku terlambat. Pelayannany sudah menderdekati pemberangkatan, sehingga konsentrasi calon jamaah haji kurang," katanya.

Syamsul mendorong, agar tahun ini Kemenag bisa meningkatkan pelayanan di seluruh bidang dan meningkatkan kerja sama dengan pihak lain yang terlibat. Apalagi, tahun ini jumlah perugas haji lebih banyak dibanding tahun lalu. "Jadi indeks itu mengalir saja, tidak harus ditargetkan. Indeks itu hanya menyempurnakan saja sifatnya," katanya.

Sebelumnya, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Nizar Ali menargetkan, indeks haji tahun ini bisa mencapai 85 persen. Hal ini disampaikan Nizar Ali saat diskusi bersama Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam Jamarah (Jagong Masalah Umrah dan Haji) di Ancol, Jakarta.

Menurut Nizar Ali, sejak 2014 sampai 2017, indeks kepuasan haji terus naik. Terkahir, tahun 2017 silam, indeks kepuasan haji pada point 84,85. Saya berharap tahun 2018 ini akan mencapai point 85,00, ujar Nizar seperti dikutip dari lama resmi Kemenag.

Ditjen PHU saat ini tengah melakukan persiapan penyelenggaraan haji. Tim akomodasi, transportasi, dan katering sudah bertolak ke Arab Saudi untuk mempersiapkan layanan bagi jemaah haji Indonesia di musim haji nanti. Sementara di Tanah Air, tim Ditjen PHU bersama Pokja DPR masih membahas Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

Jamaah haji Indonesia dijadwalkan akan mulai masuk asrama haji pada 16 Juli 2018. Mereka akan diberangkatkan secara bertahap ke Arab Saudi mulai 17 Juli 2018.

 

widget->kurs();?>