Merawat Kesehatan Ala Dr Tonny Melalui Gerakan Shalat
Jumat , 11 Jan 2019, 16:59 WIB

Republika/Wihdan Hidayat
Gerakan sujud dalam shalat.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Praktik ibadah di dalam agama Islam yang dilakukan sehari-hari memiliki banyak manfaat. Khususnya, terkait dengan kesehatan jasmani dan rohani, jika dilakukan sesuai tuntutunan syariat.

“Secara ilmu kedokteran ibadah itu efeknya bisa memberbaiki sistem tubuh, memperbaiki fungsi tubuh,” kata Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Dr Tonny Briliantono, kepada Republika.co.id, Jumat (11/1).

Salah satunya, kata Dr Tonny, dalam praktik ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim sebanyak 17 rakaat dalam sehari itu banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh. “Gerakan shalat itu dari awal sampai akhir ada stretching-nya untuk tulang belakang, untuk ginjal, untuk sakit maag, untuk lututnya. Pokoknya semua ada,” katanya.

Dr Tonny Briliantono akan bergabung dengan calon jamaah umrah PT Namira Angkasa Jayatama (Naja). Bergabungnya Tonny dengan jamaah dalam perjalanan ibadah umrah itu, dilakukan dalam rangka milad Naja yang ke-20.

Dalam kesempatan itu, Dr Tonny akan berbagi ilmu dan pengetahuan tentang “Ibadah yang Memberikan Nikmat Sehat” kepada para jamaah yang mendaftar di periode Januari sampai April 2019. Untuk itu, calon jamaah Naja diharapkan dapat memanfaatkan progam tersebut karena banyak keuntungannya.

“Pada prinsipnya bahwa kita beribadah itu mempunyai nilai tambah, badan jadi sehat,” katanya.

Selama ini, kata Dr Tonny, sebagai umat Islam tidak mengetahui bahwa gerakan-gerakan di dalam shalat itu banyak manfaatnya. Sehingga, shalat yang dilakukan kita ini hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa memahami manfaatnya. 

“Sementara ini, yang kita lakukan hanya ritualnya saja. Sama saja ketika awal kita belajar shalat, disuruh baca al-Fatihah. Kita baca saja, tapi tidak mengerti artinya. Namun, setelah kita dewasa dan mengartikan apa artinya surah al-Fatihah dan masuk ke dalam hati, itu efek shalat lain sekali,” katanya.

Dr Tonny mencontohkan, ketika shalat itu Muslim dianjurkan membuka mata, tidak boleh menutup mata. Secara ilmu kedokteran, jika dalam shalat membuka mata dan fokus kepada satu titik tempat sujud, maka banyak manfaatnya untuk kesehatan mata. 

Karena, kata Dr Tonny, pada saat berdiri jarak pandang mata sampai ke ujung kaki itu kira-kira 160 sampai 180 cm. Dan  jika orang dengan tinggi badannya 170 cm, maka jarak mata dengan tempat sujud itu tingginya kurang lebih sampai 180 cm. "Dan itu sama dengan mata kita melihat jauh," katanya. 

Pada saat kita melihat jauh, maka bola mata dan lensa itu semua tertarik menjadi gepeng. Dan saat rukuk dan juga sujud di mana mata masih terbuka, itu sama saja mata melihat dekat. 

"Malah ketika sujud, mata kita seakan nempel dan jaraknya hampir nol. Nah pada saat itu, bola mata kita akan terjadi kontraksi sehingga bola mata kita menjadi bulat," ujarnya.

Yang secara tidak sengaja, hal itu itu semua dilakukan selama 17 rakat sehari dan ini mempunyai efek yang baik terhadap mata. "Tidak menjadi mata jauh atau miopi, katarak, bahkan orang yang punya penyakit strabismus atau mata juling itu bisa diobatin hanya dengan shalat,” katanya.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Ali Yusuf

BERITA LAINNYA