Penyelenggaraan Haji-Umrah adalah Kerja Mulia
Senin , 15 Apr 2019, 12:00 WIB

Apa reaksi Anda?

Saya takut. Ya Allah apa iya saya harus pulang kampung lagi. Ternyata orang Singapura ini punya pikiran yang luar biasa. Sampai di Jakarta saya diperkenalkan dengan Karshinta Tour. Di sana saya menjadi general manager.

Di Karshinta Tour saya berkhidmah untuk membantu melayani tamu Allah. Segala potensi yang saya miliki dicurahkan untuk ketenangan beribadah para jamaah. Alhamdulillah, perusahaan berkembang pesat. Ketika itu belum ada yang menjadi provider visa.

Sedangkan Kita sudah memfasilitasi pelayanan visa ke Saudi. Kemudian kita juga membuka jasa tiket Royal Brunei. Banyak orang datang ke saya untuk membeli tiket, karena harganya lebih murah 5 dolar AS dibandingkan membeli tiket ke konter lain.

Di sini saya melihat berwirausaha bukan semata-mata kekuatan modal, tapi potensi apa yang kita punya. Insting bisnisnya di sini. Pada 2003, saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman untuk membangun brand sendiri. Pada 18 Februari 2003 saya menghadap notaris untuk merintis PT Gaido Azza Darussalam Indonesia.

Gaido itu kan bahasa Jepang. Artinya pembimbing, penunjuk. Mudah-mudahan saya bisa menjadi pembimbing dan penunjuk. Waktu di Makkah saya menjadi pembimbing jamaah untuk beribadah. Azza adalah travel yang di Singapura tadi. Darussalam adalah perusahaan holding. Indonesia adalah negara saya. Itulah perusahaan pertama saya.

Apa produknya?

Jauh sebelum kembali ke Indonesia saya menjual layanan land arrangement dengan target para jamaah haji dan umrah. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat. Travel memercayakan saya untuk menangani dan melayani kebutuhan para jamaah selama di Tanah Suci.

Gaido menjual pelayanan tadi. Ketika itu kami belum mengantongi izin untuk menyelenggarakan haji dan umrah, tapi melayani kebutuhan biro travel yang ber izin. Jadi saya melihat apa keunggulan yang tidak ada di sini? Ternyata handling dan land arrangement jamaah haji dan umrah di Saudi. Akhirnya itu yang saya jual di sini.

Ada pelayanan hotel, visa, transpor tasi, konsumsi, dan berbagai paket perjalanan. Banyak jamaah yang kita tangani. Setiap saat ada saja jamaah yang kita berangkatkan ke Tanah Suci. Sampai akhirnya kita menjadi konsorsium pada 2008. Travel yang jamaahnya kurang dari 45 orang akan menyerahkan penanganannya kepada kita sebagai konsorsium. Begitu aturan mainnya.

Bagaimana bisa Anda memberikan pelayanan seperti itu?

Tentu karena kepercayaan. Ini yang saya bangun selama tinggal di Saudi. Ada pihak Saudi yang memercayakan sebuah travel untuk membuka pelayanan visa di Indonesia. Namun, saya bisa membuka pelayanan yang sama. Sebabnya, pihak Saudi tadi mengetahui kemampuan saya.

 

 

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Erdy Nasrul

BERITA LAINNYA