Mimpi Dewi Umrah yang Menjadi Kenyataan
Senin , 03 Dec 2018, 11:06 WIB

Republika/Fitriyan Zamzami
Jamaah umrah berebut mendekati pintu Ka'bah di Madjidil Haram (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, Suara gemuruh mahasiswa dan mahasiswi di Kampus Universitas Islam Djakarta, tidak membuat Dewi Periwi terpecah konsentrasinya. Wanita 56 tahun itu tetap fokus menceritakan mimpi indahnya semalam kepada rekan sejawatnya di kampus. Meski hanya menceritakan singkat mimpi berangkat Umrah, rekan Dewi tampak antusias mendengarkan Dewi bercerita.    

“Eh tahu saya semalam mimpi ikut umrah sama almarhum ayah saya,” cerita Dewi sambil merapihkan barang-barang di atas meja kerjanya. Teman satu meja Dewi begitu antusias dan langsung menghadapkan wajahnya ketika Dewi menyampaikan kata umrah.

“Terus gimana..” tanya rekan Dewi bergetar dan imajinasinya langsung membayangkan seperti apa proses ibadah umrah di Makkah. Tentunya, setiap umat Muslim pasti bahagia bisa berangkat ke Tanah Suci meski hanya baru dalam mimpi.

“Tapi, saya belum sampai di sana. Mimpinya itu baru sampai tangga pesawat,” kata Dewi melanjutkan ceritanya kepada temannya yang terlihat masih antusia mendengarkan.

“Tapi saya sudah memakai pakai ihram bersama ayah bareng melangkah ke tangga pesawat sambil bawa koper,” katanya.  Dewi tidak melanjutkan cerita selanjut kepada temannya itu. Selain sudah masuk waktu jam kerja, mimpi umrahnya barusan sampai naik tangga pesawat dengan pakain ihram.

Kepada Ihram.co.id, Dewi menceritakan, setelah menceritakan mimpi singkatnya itu masih tidak tahu jika di tempatnya bekerja di Universitas Islam Djakarta ada program umrah untuk seluru karyawan dan tenaga pengajar. Dewi pun tidak menyangka jika mimpi singkatnya akan segera menjadi kenyataan ketika Rekrtor Universitas Islam Djakat menyuruhnya membuat paspor untuk berangkat umrah.

“Sekarang kamu bikin paspor,” kata Dewi menirukan perkataan Prof Raihan. Katanya, Dewi masih tidak percaya dan memberanikan diri bertanya untuk menegaskan lagi kepada atasannya itu.

“Beneran nih...? Ah Prof Raihan bercanda nih,”

“ Iya beneran,” katanya masih menirukan jawaban Prof Raihan.

Karena yang memerintahkan merupakan atasnya, Dewi izin pulang cepat untuk bisa segera mengurus paspor seperti yang telah diperintahkan kepadanya. “Setelah saya sampai di rumah saya nangis. Saya sama sekali gak kepikiran bahwa mimpi saya itu jadi kenyataan. Buat saya uang dari mana bisa pergi umrah,” katanya, selama ini gajinya satu bulan pas untuk bayar sekolah anaknya dan keperluannya sehari.

Sepanjang perjalanan membuat paspor Dewi ingat akan kata-kata ayahandanya yang menyarankan untuk menabung agar bisa berangkat ke tanah suci. Ternyata saran ayahnya itu merupakan bagian dari doanya selama ayahnya masih hidup.

“Terima kasih Ya Allah sudah kabulkan doa ayah saya dan terima kasih juga Prof Raihan. Akhirnya, saya bisa umrah,” katanya yang tidak henti-henti bersyukur.

Suara Dewi mulai serak, air matanya tak lagi terbendung ketika ia menceritakan sesampainya di King Abdul Aziz. “Di dalam bus saya masih tidak percaya apa saya benar ini saya sudah sampai di tanah suci,” katanya.

photo
Ilustrasi Minum Air Zamzam

Di Madinah Dewi mendapatkan pengalaman yang paling mengesankan setelah selai berdoa di Raudah. Ketika itu, Dewi ingin mengambil air zam-zam. Namun, dia tidak bisa mendekatnya karena termos-termos besar berisi air zam-zam itu dekerubuti jamaah. 

Dalam hatinya berpikir, bagaimana dia bisa masuk dalam kerumunan itu demi mendapatkan air zam-zam. Katanya, dia hanya termenung sambil memeluk botol air minum. Ia tidak mau memaksakan diri ikut berdesakan dengan mengambil air zam-zam.

"Tiba-tiba ada orang mendekat dan langsung ngambil botol minum saya. Saya jadi bingung gimana mau bisa minum tempatnya saja sudah diambil. Saya pasarah dan memutuskan beli air minum di luar," katanya.

Belum jauh kaki Dewi melangkah, dia kaget di belakang ada yang nyolek bahunya dan memberikan botol air minum yang sudah terisi air zam-zam. "Indonesia this for you. Indonesia good, good Indonesia," katanya Dewi menirukan wanita kulit hitam itu. 

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Ali Yusuf

BERITA LAINNYA