Buah Surga di Negeri Para Nabi
Ahad , 16 Sep 2018, 18:31 WIB

Republika/Erdy Nasrul
Buah Delima

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul dari Makkah

Cuaca Saudi pada siang hari sangat menyengat kulit. Suhunya mencapai 45 derajat celsius. Rasanya seperti terbakar jika berdiri dan beraktivitas terlalu lama di luar ruangan.

Jamaah haji Indonesia, termasuk saya, tak terbiasa dengan panas setinggi itu. Mereka lebih memilih beristirahat di pemondokan sambil menikmati santap siang. Setelah mengonsumsi nasi dan lauk-pauk, saya ‘mencuci mulut’ dengan buah berbentuk bulat hijau muda. Di bagian bawahnya terdapat warna merah bersembunyi, seperti malu hendak menampakkan diri.

Saya membelahnya. Air merah sari buah tersebut menetes. Rasanya manis. Setelah dibuka, tubuh buah ini menampakkan bulir-bulir merah seperti permata ruby pada bagian luar dan putih di bagian dalam.

Saya cicipi beberapa bulir tersebut. Sensasinya luar biasa. ketika digigit, bulir tersebut memancarkan rasa manis sedikit asam memenuhi rongga mulut: segar. Sedangkan bagian putihnya terasa gurih seperti kacang.

Inilah delima yang dalam bahasa Inggris disebut pomegranate. Masyarakat latin menyebutnya punica granatum atau biji apel. Mesir kuno menyebutnya arhumani. Sedangkan dalam bahasa Arab, delima disebut dengan rumman (Ram Chandra, K Dhinesh Babu, Vilas Tejrao Jadhav, Jaime A Teixeira da Silva: 2010).

Dalam buku The Incredible Pomegranate Plant & Fruit Penulis Amerika Serikat Barbara L Baer menceritakan pengalamannya yang tak terlupakan ketika menikmati delima. Di masa kecilnya, wanita paruh baya itu sempat merasa aneh dengan buah delima yang dibeli orang tuanya. Rasanya lembut di awal, manis-segar, agak keras ketika menggigit biji kecil di dalamnya. Namun, bentuknya indah seperti permata merah.

 


Redaktur : Agung Sasongko

BERITA LAINNYA