Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Tragedi dari Live Streaming Penembakan Masjid Christchurch

Sabtu 16 Mar 2019 07:19 WIB

Red: Indira Rezkisari

 File foto tidak bertanggal menunjukkan Masjid Al Noor di Deans Avenue, tempat penembakan massal, di Christchurch, Selandia Baru, (15/3/2019).

File foto tidak bertanggal menunjukkan Masjid Al Noor di Deans Avenue, tempat penembakan massal, di Christchurch, Selandia Baru, (15/3/2019).

Foto: EPA-EFE/Martin Hunter
Media sosial telah menjadi bagi saluran siapapun untuk memamerkan tindakannya.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Indira Rezkisari*

Pilu. Begitu rasa hati saya mendengar kabar penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3) pagi waktu Indonesia. Hati saya tambah kacau balau saat muncul video aksi penembakan yang disiarkan langsung oleh pelaku melalui saluran live akun Facebooknya.

Baca Juga

Berapa lama Anda sanggup bertahan melihatnya? Saya sekitar lima detik, ya mungkin 10 detik saja. Begitu kakinya menginjak masuk ke masjid, video yang viral di media sosial itu saya matikan. Saya tidak sanggup.

Di benak saya hanya terbayang wajah-wajah keluarga korban jika mereka sampai melihatnya. Lagi, saya tidak sanggup membayangkannya.

Dalam akun media sosial saya siaran langsung atau live di Facebook atau Instagram umumnya datang dari akun yang sedang menggelar acara penting baginya, misalnya artis yang meluncurkan album atau film baru. Ada juga beberapa akun jastip yang live shopping. Atau teman yang sedang jalan-jalan, menikmati liburannya di tempat menarik.

Saya, Alhamdulillah, tidak mengenal siapapun di media sosial yang berani mengunggah siaran langsung yang sifatnya tragedi.

Akun media sosial memang sifatnya pribadi. Ada yang menggunakannya sebatas untuk senang-senang, ada pula yang menjadikannya sebagai jendela dunia, dan tak sedikit yang memanfaatkannya untuk meraup uang. Pilihan mana yang terbaik? Jawabannya tidak ada. Karena semua bergantung pada pemilik akun masing-masing.

Tapi saya selalu berpikir memiliki akun media sosial itu sama seperti memiliki rumah. Kita bisa memilih mau menampilkan rumah yang seperti apa wujudnya. Termasuk memilih siapa yang boleh masuk dan tidak.

Tragedi dari siaran langsung media sosial memang tidak bermula dari pelaku penembakan masjid di Christchurch. Pengguna media sosial yang berusia remaja beberapa kali diketahui menyiarkan langsung momen bunuh dirinya. Jangan kira hanya remaja yang menyiarkan aksi bunuh dirinya secara langsung di Facebook. Dewasa juga termasuk melakukannya.

Dikutip dari laman Miami Herald, Profesor Psikologi Forensik dari Universitas Pennsylvania, Dr Katherine Ramsland, yang sudah meneliti bunuh diri selama 13 tahun mengatakan siaran langsung insiden bunuh diri menjadi lebih umum di era siaran televisi realitas.

Psikologi di balik tindakan bunuh diri yang disiarkan ke publik, katanya, sangat beragam. Sama seperti alasan seseorang melakukan tindakan bunuh diri itu.

“Ada orang yang ingin menghukum orang lain dengan bunuh diri. Orang lain ingin memiliki koneksi ke media sosial dan menghilangkan perasaan sendiri saat bunuh diri tapi tetap berada di lingkungan yang mereka rasa seperti rumah,” terangnya. “Orang lain ingin namanya tercetak di media, meski bukan untuk ketenaran, karena mereka tahu mereka tidak ada untuk merasakannya. Tapi karena mereka ingin perhatiannya dan mereka ingin orang lain untuk memperhatikannya.”

Ramsland menegaskan, siaran langsung atau live streaming memberi mereka kesempatan untuk menekankan apa yang pelaku ingin sampaikan.

Era media sosial memang memberi perspektif baru dalam memandang banyak hal. Sekarang dengan mudahnya kita tahu apa yang dimakan sebagai sarapan oleh teman kita di Amerika, hingga kemacetan parah yang diceritakan melalui Instagram Story oleh influencer yang kita ikuti. Sampai jeritan hati terdalam sekalipun kerap terunggah di halaman media sosial.

Dunia seakan tak terbatas bagi mereka yang senang berbagi di media sosial. Sama seperti pelaku penembakan masjid di Christchurch. Ada pesan yang ia ingin katakan ke dunia. Semua diunggahnya melalui Twitter dan Facebook.

Twitter tercatat memiliki 321 juta pengguna. Dan, Facebook yang dimanfaatkan pelaku untuk menyiarkan langsung aksi biadabnya selama 17 menit memiliki 2,3 miliar pengguna. Jumlah itu setara dengan sepertiga populasi dunia.

Efektif? Bisa jadi. Mungkin hampir semua penduduk dunia kini tahu dengan jelas wajahnya. Tahu motifnya. Bahkan tahu aksi kejinya.

Pelaku penembakan masjid Christchurch tapi mungkin terinspirasi orang lain. Seorang ekstrimis Norwegia bernama Anders Behring Breivik pada tahun 2011 membunuh 77 orang dalam serangan bom di Oslo dan aksi penembakan masal di kamp musim panas untuk anak-anak. Breivik saat ini menjalani hukuman 21 tahun penjara.

Breivik diketahui menulis 1.518 halaman manifesto sebelum aksi kejamnya itu. Manifesto diberi judul 2083: A European Declaration of Independence.

Aksi keji atau aksi bunuh diri memang bisa menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Menurut saya, itu salah satu alasan terbesar untuk tidak menyebarkan bahkan menonton video aksi kejahatan atau bunuh diri atau tragedi lain.

Seorang psikolog media, Pamela Rutledge, dikutip dari laman Guardian, mengatakan media sosial telah menjadi tempat bagi siapapun untuk menyombongkan tindakannya. Termasuk tindakan yang sifatnya teror dan kriminal.

Media sosial katanya memberi pelaku rasa memegang kendali atau perasaan dirinya penting. Apalagi media sosial dengan mudahnya bisa diakses oleh siapapun di mana pun.

Godaan pemirsa media sosial yang besar itu dikatakan Rutledge menutupi akal sehat. Mendorong mereka menyiarkan informasi apapun, termasuk yang memudahkan aparat berwenang untuk menangkap dan menghukum pelaku.

Rutledge mengatakan, di sisi lain banyak pelaku bunuh diri atau pelaku kekerasan dan teror merupakan generasi ‘digital native’ alias besar dengan pola perilaku digital.

Mereka lahir di dunia di mana semua kegiatan kehidupan dengan mudah didokumentasikan secara daring. Media sosial pun menjadi kunci komunikasi dan ekspresi diri bagi beberapa orang, mungkin termasuk para pelaku siaran langsung yang tidak tepat itu.

Yang terjadi adalah oversharing. Termasuk menyiarkan langsung aksi kekejaman di masjid Christchurch.

*penulis adalah redaktur di Republika.co.id

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA