Ketika Ulama 'Ditipu' Jenderal

Senin , 22 Apr 2019, 07:03 WIB Redaktur : Elba Damhuri
Ikhwanul Kiram Mashuri
Foto : Republika/Daan
Ikhwanul Kiram Mashuri

Apa yang ada di kepala Turabi sebagai pemimpin gerakan Islam, menurut Charbel, sesungguhnya lebih besar daripada apa yang bisa dibebankan untuk Sudan. Kharisma, kewibawaan, dan kehadirannya di kancah perpolitikan Sudan sudah di luar dari toleransi Jenderal Bashir.

 

Bagi Bashir, yang jenderal dan sekaligus presiden, kehadiran tokoh kharismatis seperti Turabi sangat sulit untuk bisa diterima. Ia pun merasa terganggu, kendati ia tahu Turabi yang menjadikannya bersinggasana di istana dan yang bersangkutan dengan suka rela mau dijebloskan ke penjara, untuk melancarkan ia mengambil alih kekuasaan.

Kedua orang itu—Bashir dan Sheikh Turabi—akhirnya berbeda jalan. Jenderal Bashir pun tidak ragu untuk terus menjebloskan Sheikh Turabi ke penjara. Kali ini dengan kebencian!

Pada 1999, Charbel pun bertemu dengan Bashir di Khartoum. Menurut dia, Presiden Bashir waktu itu masih menyampaikan kekaguman dan terima kasihnya kepada Sheikh Turabi.

Namun, kekuasaan ternyata telah mengubah sikap Bashir. Ketika bertemu lagi di Riyadh pada 2017 dan mewawancarainya untuk media al-Sharq al-Awsat, salah satu pertanyaan pun ia ajukan, "Siapakah tokoh Sudan yang paling sulit berurusan dengan Anda?"

Tanpa ragu sedikit pun Presiden Bashir pun menjawab, "Dia adalah Hasan Abdullah Turabi (rahimahullah). Dia adalah tokoh kharismatik. Pengaruhnya sangat dominan dalam berbagai gerakan Islam dalam waktu lama. Pengalamannya juga sangat panjang dalam pergerakan dan perjuangan Islam sebelum konflik dengan kami. Dan, ia selalu menjadi pihak yang menang. Namun, kali ini, dan mungkin untuk pertama kalinya, ia kalah ketika berhadapan dengan kami."

Ya, begitulah bila sebuah rezim diktator bin otoriter berkuasa. Sang jenderal pun tidak segan untuk ‘menipu’ dan bahkan menjebloskan ulama yang membantunya berkuasa ke penjara. Selama 30 tahun berkuasa, Presiden Bashir telah menjerumuskan Sudan dalam kekacauan dan penderitaan.

Ia menggenggam kekuasaan erat-erat. Ia tidak peduli wilayah Sudan Selatan telah memisahkan diri dan pembantaian di Darfur telah menyeretnya ke Pengadilan Kriminal Internasional.

Ia mengira kekuasaan yang lama telah membentuk sebuah rezim yang membentenginya dari kemarahan rakyat. Namun, sejarah Sudan membuktikan kemarahan rakyat pasti berhasil mengakhiri rezim diktator-otoriter.

Kini, lembaran Sudan era rezim Presiden Bashir telah ditutup. Rakyat Sudan harus belajar dari masa lalu, termasuk dari dari negara-negara Arab lain yang baru dihantam revolusi rakyat, tapi kini terjerumus dalam kekacauan seperti Yaman, Libia, Suriah, dan lainnya.

 
Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019
IMSAK SUBUH ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
04:31 WIB 04:41 WIB 11:57 WIB 15:18 WIB 17:56 WIB 19:06 WIB