Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Tokoh Perubahan Bahlil Lahadalia Sempat Alami Busung Lapar

Rabu 24 Apr 2019 14:30 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Indira Rezkisari

Ketua Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia saat di wawancarai Republika di Jakarta,Kamis (18/4).

Ketua Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia saat di wawancarai Republika di Jakarta,Kamis (18/4).

Foto: Republika/Prayogi
Bahlil membuktikan kerja keras bisa membawa anak buruh ke jenjang kesuksesan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Republika memilih Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2019. Tokoh-tokoh terpilih merupakan sosok-sosok yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan melakukan perubahan di tengah masyarakat.

Baca Juga

Bahlil dilahirkan dari pasangan buruh bangunan dan buruh cuci yang tinggal di kawasan perkampungan di Fak Fak, Papua. Sejak kecil, ia diajarkan mencari uang untuk dapat menghidupi diri sendiri. Termasuk untuk menempuh pendidikan dari SD sampai duduk di bangku kuliah

Saat SD, Bahlil berjualan kue buatan sang ibu di sekolah. Memasuki SMP, ia menjadi kenek angkutan umum dan ketika SMEA, menjadi supir angkutan umum. Kerja kerasnya tidak terhenti saat kuliah, ketika ia pindah ke Jayapura. Bahlil harus berkeliling sebagai loper koran hingga mendorong gerobak di pasar.

Perjuangan Bahlil untuk mencari uang bahkan sempat membuatnya busung lapar. Semasa kuliah, ia kerap mengonsumsi mangga muda dari pohon di belakang asrama yang dicampur dengan garam. "Waktu itu saya busung lapar bersama teman saya. Ia meninggal," tuturnya kepada Republika di kantornya, beberapa waktu lalu.

Kehidupan Bahlil perlahan membaik saat lulus kuliah. Ia membuka usaha konsultan keuangan dan IT bersama beberapa teman. Berbekalkan pendidikan perbankan dan keuangan semasa kuliah, Bahlil diangkat menjadi kepala wilayah Papua. Gaji Rp 30 juta per bulan hingga rumah didapatkannya kala itu.

Tapi, Bahlil tidak mudah puas. Ia tidak ingin berada di zona nyaman terlalu nyaman, sehingga memutuskan untuk berhenti. Ia mengembalikan semua fasilitas yang pernah diberikan oleh kantor untuk membuka bisnis baru.

Berbekalkan pesangon, Bahlil pun membuka usaha sendiri yang dimulai dari nol. Perjalanan Bahlil tidak selalu mulus. Ia terus mengalami berbagai tantangan yang dapat membentuk dirinya seperti saat ini. Sampai akhirnya ia menjabat sebagai ketum organisasi yang berisikan para pengusaha besar dari berbagai penjuru Indonesia.

Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan Hipmi Anggawira menuturkan, sosok Bahlil sangat tepat dijadikan sebagai tokoh perubahan. Lahir dan besar di tengah keluarga serba kekurangan, Bahlil dianggap memberikan inspirasi bahwa siapapun bisa jadi pengusaha. "Bahkan sampai menjadi ketua umum organisasi besar," ujarnya.

Anggawira menjelaskan, sosok Bahlil menjadi bukti sekaligus pengingat kepada banyak orang bahwa pengusaha dan orang sukses tidak harus berangkat dari anak pengusaha atau generasi kedua. Asalkan mereka memiliki komitmen, bekerja keras dan siap berkompetisi yang selama ini dilakukan seorang Bahlil.

Anggawira mengisahkan, dirinya sudah kenal Bahlil sejak belasan tahun lalu, semenjak masih aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saat itu, Anggawira yang lima sampai enam tahun lebih muda, belum terlalu dekat dengan Bahlil yang dipandang sebagai sosok ‘senior’. Perkenalan keduanya baru dekat saat keduanya masuk ke Hipmi.

Selama mengenal, Anggawira menilai, Bahlil adalah sosok pekerja keras yang memiliki ambisi besar. Orangnya sangat detail dan mempunyai jiwa petarung. Hal ini begitu terlihat ketika ia dicalonkann sebagai ketum Hipmi di tahun 2014-an. "Saat itu, saya menjadi ketua tim kampanye beliau," ucapnya.

Bahlil tak pantang menyerah di tengah persaingan dengan lawan yang berasal dari keluarga konglomerat ataupun politikus besar. Meski hidup dari keluarga ‘kecil’, Anggawira menilai, Bahlil tetap all out dalam kompetisi tersebut. Tak pelak, ia mampu meraih lebih banyak suara dan resmi menjabat sebagai ketum Hipmi pada 2015.

Sementara itu, CEO E-Tanee yang juga teman Bahlil, Cecep M Wahyudin, menilai, Bahlil merupakan soosk muda yang banyak menginsipirasi kaum muda. Baik untuk menjadi sosok yang lebih maju maupun berpikir ke masa depan.

Cecep menjelaskan, Bahlil merupakan sosok pemberani untuk mengambil sikap dengan berpegang pada prinsip kemajuan bangsa tanpa melihat kedekatan dan persahabatan. "Semata karena kejujuran dan hati nurani beliau. Ini harus dilanjutkan dan butuh terus dilakukan," ujarnya.

Menurut Cecep, Bahlil berani melakukan perubahan dalam hidupnya dan cara pandang beliau. Melakukan perubahan hal-hal sederhana dalam bisnsnya, tapi menghasilkan lompatan luar biasa sampai menjadi Bahlil saat ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA