27 Jumadil Awwal 1441

Petugas Kesehatan Haji Dibekali Pengetahuan Bahasa Daerah

Selasa , 16 Jul 2019, 15:54 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Hasanul Rizqa
 Sejumlah petugas haji Indonesia sedang menyambut kedatangan jamaah haji Indonesia di Bandara Madinah, Arab Saudi. (Ilustrasi)
Sejumlah petugas haji Indonesia sedang menyambut kedatangan jamaah haji Indonesia di Bandara Madinah, Arab Saudi. (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Jamaah haji Indonesia memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. Keberagaamn ini mesti disikapi dengan kemampuan komunikasi yang efektif. Demikian filosofi yang mesti dipahami tiap petugas kesehatan haji.

Baca Juga

Tim Promotif Preventif (TPP) menerapkan cara komunikasi yang memfasilitasi keanekaan bahasa daerah. Hal ini diterapkan khususnya pada daerah yang memiliki jamaah haji berjumlah banyak. Misalnya, kelompok terbang (kloter) dari Embarkasi Surabaya (SUB), Solo (SOC), dan Makassar (UPG).

Dengan menguasai bahasa daerah tiap jamaah, maka petugas haji dapat kian mudah berkomunikasi dengan mereka. Sebab, penyampaian materi kesehatan terkadang terkendala perbedaan bahasa.

Untuk mengatasinya, para penyuluh menggunakan bahasa daerah yang menyesuaikan dengan asal kloter tiap jamaah.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka mengatakan penggunaan bahasa daerah dalam memberikan penyuluhan merupakan cara efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada jamaah.

"Karena ini merupakan metode dakwah kesehatan dengan pendekatan kultural," kata Eka Jusup Singka, melalui keterangan tertulisnya kepada Ihram.co.id, Selasa (16/7).

Efektifnya penggunaan bahasa daerah dalam menyampaikan materi penyuluhan kesehatan kepada jamaah dirasakan Anggota TPP Muhammadong, asal Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Muhammadong menceritakan pengalamannya saat memberikan penyuluhan di kloter UPG 10 dari Embarkasi Makassar. Menurutnya pada saat memberikan penyuluhan, bahasa yang digunakan memang harus menggunakan bahasa daerah agar pesannya dimengerti.

Katanya, mengingat mayoritas jamaah asal Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang kental bahasa bugisnya. Maka, ia mengajak jamaah harus banyak minum air dengan bahasa Bugis.

"Aja tallupai minung wae pute merepe repe riolo madakkata (jangan lupa minum air putih sesering mungkin sebelum haus)," kata Muhammadong saat memberikan contoh bahasa yang digunakan untuk penyuluhan kepada jamaah asal Sulsel dan Sulbar kepada Kapuskes Haji Eka Jusup Singka.

Selain itu, pengalaman menarik yang juga disampaikan kepada Kapuskes Haji seperti disampaikan oleh Anis, anggota TPP asal Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya di Jawa Tengah itu ada dua jenis bahasa yang agak berbeda dan tidak ia kuasai semuanya.

Namun, hal itu Anis siasati dengan campuran bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Seperti ini bahasa campuran yang Anis gunakan.

"Dahar teratur kalian sayur lan buah, ngaso cekap kersane badan tetep sehat lan kuat (makan teratur dengan sayur dan buah yang cukup agar badan tetap sehat dan kuat)," kata Anis ketika memberikan penyuluhan dengan bahasa Jawa kepada jamaah kloter gabungan SOC 2 dan SOC beberapa waktu lalu.

Eka melanjutkan, penggunaan bahasa daerah tidak hanya pada komunikasi publik langsung, tetapi juga komunikasi melalui perantaraan media. Edukasi kesehatan juga memanfaatkan media sosial dan aplikasi penyampai pesan.

Untuk memenuhi perkembangan media komunikasi dan tuntutan akses informasi, TPP juga menghasilkan beberapa video yang berisi pesan-pesan kesehatan dalam beberapa versi bahasa, yakni: sunda, jawa, minang, maluku, dan bugis. Video-video edukasi ini telah diunggah dan disebarluaskan kepada petugas maupun jemaah haji melalui media sosial dan aplikasi messenger semisal WhatsApp.

Dengan bahasa dan kalimat yang mudah dimengerti oleh jemaah haji, Kemenkes berharap pesan-pesan kesehatan dapat lebih dipahami sehingga jemaah haji dapat menjaga kondisi kesehatannya selama berhaji di Arab Saudi.

 
Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020
IMSAK SUBUH ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
04:30 04:30 12:07 15:30 18:20 19:33

widget->kurs();?>