Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Keberanian Zaid, Kebohongan Musailimah, dan Perang Uhud

Senin 22 Jul 2019 05:05 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Oase (ilustrasi)

Oase (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Sejarah mencatat Musailimah si pembohong sebagai sosok nabi palsu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dakwah Rasulullah sungguh berat. Cobaan yang menempanya sangat beragam. Mulai dari caci maki, penganiayaan, hingga kemunculan nabi palsu yang mengaku mendapat wahyu tandingan.

Sejarah mencatat Musailimah si pembohong sebagai sosok nabi palsu tersebut. Salah satu pengikut nabi gadungan ini adalah seseorang bernama Rajjal bin Anwafah. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah menyebut lelaki satu ini gerahamnya ada di dalam neraka yang sangat besar. Sebab Rajjal yang semula mengimani Islam kemudian berpaling kepada Musailimah.

Mendengar kabar tentang Musail mah itu, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW terbakar kemarahannya. Dialah seorang Zaid bin Khattab, saudara Umar Bin Khattab yang lebih tua, lebih dulu masuk Islam dan lebih dahulu pula syahid di jalan Allah. Zaid adalah seorang pahlawan kenamaan. Ia bekerja secara diam-diam.

Keimanannya sangat teguh. Ia tak pernah ketinggalan dengan langkah Rasulullah dalam setiap kejadian penting ataupun peperangan. Setiap pertempuran niatnya telah dipastikan menang atau syahid.

Seperti di Perang Uhud suatu pertempuran menjadi-jadi antara orang musyrik dan mukmin, Zaid bin Khattab menebas dan memukul lalu ia terlihat oleh adiknya Umar Bin Khattab sewaktu baju besinya terlepas ke bawah hingga ia berada dalam kedudukan yang mudah dijangkau musuh.

Maka, Umar berseru, Hai Zaid, ambil baju besiku. Pakailah untuk berperang. Lalu dijawab oleh Zaid, Aku juga menginginkan syahid sebagaimana yang kau inginkan hai Umar. Dia terus bertempur tanpa baju besi secara mati-matian dan dengan keberanian yang luar biasa.

Sama halnya dengan peperangan yang dipicu Rajjal, Zaid bersikeras ingin menghabisi pengkhianat itu dengan tangannya sendiri. Menurut pandangan Zaid, bukan saja Rajjal seorang yang murtad. Lebih dari itu, ia juga seorang pembohong, munafik, dan pemecah belah. Namun, niatnya bukan karena kesadarannya, melainkan mengharapkan keuntungan dengan kemunafikan dan kebohongan terkutuknya.

Kemudian Khalid bin Walid menghimpun tentara Islam. Lalu menyerahkan panji-panji kepada Zaid bin Khattab. Bani Hanifah pengikut Musailamah berperang dengan berani dan mati-matian pada mulanya, pertempuran akan berakhir menang di pihak lawan dan telah banyak di antara kaum Muslimin yang gugur syahid.

Saat melihat gejala jatuhnya mental dan gairah tempur merasuki hati sebagian kaum Muslimin, Zaid lalu mendaki sebuah tempat yang tinggi dan berseru kepada teman-temannya. Wahai saudara-saudaraku, tabahkanlah hati kalian menggempur musuh. Serang mereka habis-habisan.

Demi Allah, aku tidak akan bicara lagi sebelum mereka dibinasakan Allah atau aku menemuinya dan menyampaikan alasan kepada nya, seru Zaid. Kemudian dia turun dari tempat tinggi dan menggeretakkan gerahamnya sambil mengatupkan kedua bibir nya tanpa menggerakkan lidahnya untuk mengucapkan sepatah bisikan pun. Dia memusatkan serangan ke arah Rajjal dan barisan-barisan serta panah lepas dari busurnya terus mencari Rajjal sampai kelihatan olehnya.

Akhirnya ia dapat memegang batang lehernya dan menebaskan pedang ke kepalanya yang penuh dengan kepalsuan serta pengkhianatan. Dengan tewasnya si pembuat masalah, tokoh-tokoh yang lain cemas dan takut menjalari Musailimah. Perang ini terjadi untuk melawan si nabi gadungan. Meski mendapat kemenangan, 1.200 kaum Muslim gugur.

Banyak di antara mereka adalah para sahabat senior dan penghafal Alquran. Zaid gugur oleh laki-laki bernama Abu Maryam Al Hanafi, yang kemudian masuk Islam. Ketika berita kematian Zaid bin Khathab sampai ke telinga Umar, dia berkata, Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Zaid. Dia telah mendahului aku dalam dua kebaikan; dia masuk Islam sebelum aku dan mati syahid sebelum aku juga.

Umar pun berkata kepada Mutammim bin Nuwairah yang ketika itu juga tengah meratapi saudaranya melalui syair. Seandainya aku pandai melantunkan syair, aku pasti mengatakan seperti apa yang engkau katakan. Dengan penuh nostalgia, Umar yang kuat dan pemberani ini tak urung berkata tentang saudaranya, Embusan angin timur selalu mengingatkanku terhadap Zaid.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA