Cara Mengatasi Nyeri Telinga pada Jamaah Saat di Pesawat

Ahad , 18 Aug 2019, 01:27 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Israr Itah
Jamaah haji saat hendak menaiki pesawat. (ilustrasi)
Jamaah haji saat hendak menaiki pesawat. (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Jamaah haji akan kembali menempuh perjalanan panjang dengan menggunakan pesawat menuju Tanah Air. Saat penerbangan dari Arab Saudi, menuju Indonesia, terkadang jamaah haji merasakan nyeri telinga.

 

"Rasanya seperti tersumbat sesuatu," kata salah dokter spesialis kesehatan penerbangan haji Citra Kurniasari I Nampira, saat berbincang dengan Republika.co.id, Sabtu (17/8).

Citra menuturkan, dalam ilmu penerbangan, saat pesawat naik makin tinggi di lapisan atmosfer maka tekanan udara akan turun dari 760 mm Hg di atas permukaan laut. Ketinggian peswat menjadi sekitar 550 mmHg saat berada  pada ketinggian 7.000 kaki.

"Dengan bertambahnya ketinggian dan berkurangnya tekanan udara dalam kabin menyebabkan bertambahnya volume gas. Sebaliknya, saat ketinggian berkurang, tekanan udara kabin akan meningkat dan menyebabkan volume udara berkurang," katanya.

Citra menuturkan, perubahan volume udara tersebut juga mempengaruhi gas yang ada dalam rongga tubuh seperti telinga tengah. Ini menciptakan potensi adanya ekspansi gas yang terjebak di dalam tubuh manusia dan menyebabkan nyeri telinga.

"Nyeri telinga pada saat berada di ketinggian tepatnya saat bepergian dengan pesawat terbang disebut dengan barotitis media atau barotrauma atau aerotitis media," katanya.

Citra menyampaikan, barotrauma adalah gangguan telinga yang terjadi akibat perubahan tekanan udara di telinga luar dan telinga tengah yang dipisahkan oleh gendang telinga. Menurutnya ada dua faktor yang dapat memperberat terjadinya barotrauma. Pertama ada perubahan ketinggian. Misalnya penerbangan, menyelam dan bepergian ke daerah pengunungan. Faktor kedua, hidung tersumbat akibat alergi, pilek atau infeksi saluran napas atas.

Keluhan yang dirasakan adalah rasa nyeri pada salah satu telinga atau bahkan kedua telinga yang disertai dengan hilangnya pendengaran yang sifatnya ringan. Menurut Citra, jika keadaannya berlangsung lama, maka ketulian pada telinga bisa bertambah berat dan mungkin akan terjadi pendarahan pada hidung.

Citra menerangkan, di dalam telinga kita ada bagian yang bernama Tuba Eustachius. Bagian ini bertugas mengatur tekanan udara di dalam dan di luar telinga agar tetap sama.

Menurutnya, jika tekanan udara di dalam dan di luar telinga tidak sama, maka, akan timbul beberapa masalah seperti telinga berdenging dan pendengaran berkurang. Saat pesawat mulai terbang, tekanan udara di luar telinga akan berubah dengan cepat.

"Semakin tinggi pesawat terbang, semakin rendah tekanan udaranya," katanya.

Hal tersebut kata Citra, karena tekanan udara di luar telinga berubah dengan cepat, Tuba Eustachius tidak punya waktu untuk menyeimbangkan tekanan udara di dalam dan di luar telinga. Akhirnya, tekanan udara di dalam telinga lebih besar daripada tekanan udara di luar telinga. 

"Hal itu akan membuat gendang telinga bengkak. Pembengkakan gendang telinga inilah yang membuat telinga kita sakit saat naik pesawat," katanya.

Citra memastikan, kondisi ini bisa semakin parah kalau kita sedang mengalami flu atau pilek. Namun jamaah haji tidak perlu khawatir karena kejadian ini tidak berbahaya. Saat mendarat, telinga akan menyesuaikan diri lagi dan kembali seperti semula.

Citra menyarankan, jika selama penerbangan telinga terasa penuh dan nyeri, maka untuk mengurangi rasa nyeri bisa diatasi dengan melakukan hal sebagai berikut.

Pertama, mengunyah permen karet atau makanan lain. Gerakan mengunyah dan menelan bisa membantu telinga mengatur keseimbangan tekanan udara.

Kedu, melakukan manuver valsava yaitu menutup kedua hidung lalu menghembuskan napas dengan kencang sampai merasakan gendang telinga terbuka atau berbunyi ‘bleb’. Hal ini bisa membantu membuka Tuba Eustachius yang tersumbat selama penerbangan.

Ketiga, jamaah haji juga bisa menutup mulut dan mencubit hidung. Setelah itu, coba telah ludah beberapa kali. Keempat menguap. Dengan menguap, udara yang ada di telinga akan keluar dengan perlahan, jadi tekanan udara di telinga akan tetap terjaga.

Ketiga, menggerakkan rahang bawah. Menggerakkan otot rahang dengan mengisap permen (bukan permen karet) terutama pada saat pesawat akan take off dan landing, menelan ludah juga dapat membuka kembali tabung eustachius dan membantu menormalkan tekanan di sekitar gendang telinga.

Kelima, jamaah haji dengan infeksi saluran nafas atas (ISPA) atau alergi hidung dan tenggorokan bisa mengalami rasa nyeri ketika bepergian dengan pesawat terbang. Untuk meringankan penyumbatan dan membantu membuka Tuba Eustachius bisa diatasi dengan meneteskan dekongestan (obat tetes hidung) atau obat semprot.

 
Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019
IMSAK SUBUH ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
04:28 04:28 11:50 15:00 17:52 19:00