Hatta dan Hassan Ouattara: Musnahnya Pecitraan Kala Berhaji

Kamis , 05 Sep 2019, 07:52 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
residen Partai Gading (Cote D'Ivore), Hassan Ouattara. Saat itu dia  tengah melaksanakan ibadah haji.
residen Partai Gading (Cote D'Ivore), Hassan Ouattara. Saat itu dia tengah melaksanakan ibadah haji.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

 

Belakangan ini seiring dengan pelaksaaan ibadah haji di tahun 2019 ada berita dan gambar yang menjadi viral di media sosial. Publik terkesan terkesima atas kabar tersebut. Mereka penasaran.

Apa kabar dan gambar foto tersebut? Jawabnya ternyata, kisah tentang seorang jamaah haji yang tengah tertidur di tengah keramaian. Mengapa ini menerik perhatian? Jawabnya ternyata yang tertidur di 'santai' saja di tengah hiruk pikuk jamaah haji bukan 'orang biasa'. Meki orang pentimng, dia terlihat seorang jamaah haji asal Afrika umunya yang bertubuh tinggi dan kokoh.

Publik kemudian makin penasaran karena banyak kisah yang kemudian bersliweran bila dia adalah bukan orang sembarangan. Lalu siapakah dia sebenarya kok jadi terkesan misterius?

Ternyata setelah dilacak, kalangan media sosial mendapat kenyataan memang jamaah yang tengah tidur menggeletak dia atas tanah dengan begitu saja adalah Presiden Partai Gading (Cote D'Ivore), Hassan Ouattara. Saat itu dia  tengah melaksanakan ibadah haji.

Uniknya lagi, meski dia seorang presiden, dia tak silau atas pencitraan. Bahkan, Hassan Beliau berhaji atas biaya sendiri dan menolak menggunakan dana negara dan tunjangan perjalanan.

Bahkan Hassan menolak hak istimewa dari Istana Kerajaan Saudi yang berlaku bagi presiden dan para pemimpin dunia untuk tinggal di istana kerajaan sebagaimana protokolat Kerajaan Saudi yang berlaku. Padahal orang biasa (jamaah haji biasa) setiap tahun ada yang mendapat fasilitas istimewa dari kerajaan Saudi ini, misalnya mendapat pengawalanan ketika umrah, tawaf, wukul, dan lainnya. Tapi fasilitas VVIP itu ditolaknya.

Kesederhaan alias kejuhudan Hassan ini memang telah membuat dia begitu dicintai rakyatnya. Hassan telah membawa Cote D'Ivore pada stabilitas keamanan, politik dan ekonomi semenjak naik ke tampuk kekuasaan. Serta, membaiknya income individu rakyat Pantai Gading (Cote D'Ivore).

Maka kemudian menjadi mengherankan bila Hassan yang ketika berkuasa mampu memeritah dengan adil bisa tidur nyenyak. Dia tak perlu merasa ketakutan.

Snapshotnya yang tengah tertidur di tengah-tengah jama'ah haji lain ini menjadi bahan ekspose berbagai media internasional.

Apakah hanya terjadi di Pantai Gading? Apakah tidak pernah pemimpin Indonesia mencontohkan sikap 'juhud' ketika berhaji? Lagi-lagi jawabnya 'ternyata ada!". Indonesia juga punya sosok seperti Presiden Pantai Gading itu. Dan dia adalah sang proklamator Moh Hatta (Bung Hatta).

Mohamad Hatta 1947.

Kisah Bung Hatta naik haji seperti ini. Meski saat itu dia menjabat sebagai Wakil Presiden, Hatta memilih pergi haji dengan ongkos pribadi. Dan ini masuk akal karena Hatta adalah cucu ulama tarikat besar di 'Ranah Minangkabau'. Nah, sebagai cucu ulama besar, Hatta jelas paham mengenai apa yang dimaksud dengan istilah wara' dan zuhud itu. Dua istilah ini sangat dikenal di dunia sufi atau tarekat serta dipakai untuk menyebut sebuah pribadi insan yang saleh secara pribadi dan soal, tidak tergila-gila gemerlap dunia, dan hidup sederhana.

Hal ini biasanya merujuk kepada kehidupan Nabi Muhammad SAW yang jauh dari suasana gemerlap. Rumah nabi di Madinah hanya berukuran 3 x 4 (seluas kamar kontrakan di Jakarta), hanya punya dua pasang pakaian, tidur dengan dipan pelepah kurma, kerap tak punya makanan atau meneruskan berpuasa setelah sebelumnya berbuka dengan tiga butir kurma dan meminum air putih, tak mengenakan perhiasan emas dan sutra (Rasul hanya memakai cincin besi dan berpakaian dari kain kasar), serta hanya memakan gandum olahan yang juga kasar.

Nah, dalam kehidupan nyata, kebiasaan pengikut tarekat seperti itu dijadikan acuan oleh Bung Hatta, terutama saat naik haji. Tawaran mendapat fasilitas dari Presiden Soekarno ditolaknya.Padahal saat itu dia akan disewakan pesawat terbang untuk ke Arab Saudi. Hatta memilih terbang dengan pesawat biasa.

Sikap 'kesederhanaan' terus dibawa hingga Bung Hatta wafat. Tak ada skandal yang pernah dia lakukan. Tak ada uang negara yang dipakai tanpa hak. Bahkan, saking hati-hatinya, Hatta kerap harus menabung bila ingin membeli sesuatu, seperti misalnya keinginannya membeli sepatu Bally yang saat itu merupakan sepatu favorit dan berharga mahal.

Bila mengunjungi rumahnya yang berada di Jl Diponegoro (di seberang kantor DPP PPP atau di samping kediaman Kedubes Palestina) tak ada hal yang mewah yang akan dilihat. Dekorasi rumahnya sederhana. Yang ada hanya perabot biasa dan lemari berisi buku. Halamannya pun sempit dan tak ada taman atau pendopo yang luas atau bangunan garasi yang bisa dimuati banyak mobil.

Hassan di Pantai Gading dan Moh Hatta di Indonesia ternyata bermakna sebagai cermin diri semua orang. Orang baik dan sederhana ternyata ada dan tak hanya ada dalam buku komik.

 
Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019
IMSAK SUBUH ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
04:28 04:28 11:50 15:00 17:52 19:00

widget->kurs();?>