23 Zulqaidah 1441

Kemendag Jelaskan Penyebab Harga Cabai Melonjak

Jumat , 10 Jan 2020, 19:25 WIB Reporter :Iit Septyaningsih/ Redaktur : Ani Nursalikah
Kemendag Jelaskan Penyebab Harga Cabai Melonjak
Kemendag Jelaskan Penyebab Harga Cabai Melonjak

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan melakukan pemantauan harga secara intensif baik di Pasar Induk maupun pasar rakyat. Kemendag juga akan memantau potensi pasokan di beberapa sentra produksi.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto menyebutkan, harga jual di tingkat pedagang Pasar Induk Kramat Jati untuk cabai merah keriting Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu per Kg. Stok dipasok dari Majalengka, Tasikmalaya, Garut, Magelang, Wates, serta Boyolali.

Lalu harga jual cabai merah besar Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu per Kg. Berikutnya cabai rawit merah seharga Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per Kg, asal pasokan Blitar, Lombok, Magelang, Malang, dan Banyuwangi.

"Berdasarkan hasil wawancara kami dengan beberapa pedagang besar cabai di Pasar Induk Kramat Jati, terdapat indikasi penurunan pasokan cabai yang cukup signifikan. Itu apabila dibandingkan dengan pasokan normal di Pasar Induk Kramat Jati," ujar Suhanto kepada Republika.co.id, Jumat (10/1).

Dia menagatakan hal itu disebabkan oleh berkurangnya pasokan cabai dari beberapa sentra produksi seperti di Majalengka, Tasikmalaya, Garut, Magelang, Wates, Boyolali, Bali, Nusa Tenggara Barat. Pasokan normal seluruh varian cabai di Pasar Induk Kramat Jati berkisar 125 ton per hari, sedangkan saat ini pasokan hanya 90 ton per hari sehingga berkurang sekitar 28 persen.

"Berkurangnya pasokan ini disebabkan rusaknya tanaman cabai akibat peralihan musim," kata Suhanto.

Baca Juga

Ia melanjutkan, di berbagai sentra produksi, faktor musim hujan juga menyebabkan buruh petik tidak optimal dalam melakukan pemetikan cabai sehingga jumlah hasil panen yang dipasarkan berkurang. Dirinya menyebutkan, pasokan cabai di Pasar Induk Kramat Jati juga sempat terdampak banjir di tol Cipali pada 1 sampai 3 Januari 2020. Akibatnya, hanya beberapa truk yang bisa memasok.

"Saat ini kondisi distribusi sudah mulai normal kembali seiring dengan banjir di tol Cipali yang sudah surut," katanya.

Suhanto menambahkan, kurangnya pasokan membuat pedagang di Pasar Induk Kramat Jati turut bersaing mendapatkan pasokan cabai dari sentra produksi di pulau Jawa dengan pasar Induk lainnya seperti Pasar Induk Tanah Tinggi dan Cibitung. Masing-masing pedagang bersaing memenuhi kebutuhan di pasar walaupun harga tinggi.

Berdasarkan info dari beberapa pedagang besar cabai yang ditemui Kemendag di Pasar Induk Kramat Jati, diperkirakan harga cabai masih terus bertahan pada level harga tinggi sampai akhir Februari 2020. "Ini menunggu hasil tanam Januari 2020 dari sentra-sentra produksi. Diperkirakan akan mulai masuk musim panen pada Maret hingga April 2020," kata Suhanto.

Ia menyatakan, harga seluruh varian cabai perlu diwaspadai sebab diperkirakan tinggi hingga akhir Februari tahun ini. "Kami di hilir selalu koordinasi dengan Kementan (Kementerian Pertanian) untuk peningkatan produksi," kata dia.

 

widget->kurs();?>