15 Syawwal 1441

Nikmatnya Berangkat Umroh Sekeluarga Dari Prancis

Kamis , 02 Apr 2020, 13:01 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Dini Kusmana Massabuau ketika umrah sekeluarga dari Prancis.
Foto : Suratdunia.com
Dini Kusmana Massabuau ketika umrah sekeluarga dari Prancis.

Oleh: Dini Kusmana Massabuau, WNI Perantauan Tinggal di Montpellier, Prancis.

Umroh pernah saya jalani ketika saya masih remaja. Masih ingat bagaimana kala itu suasana di Mekkah begitu berbeda ketika saya kembali dengan keluarga.

 

Pemicu positif keinginan saya untuk kembali umrah adalah, ketika seorang kawan, mengirimkan whatsaap kepada saya dia berkata “Teh doakan saya ya, saya insyaAllah akan pergi haji tahun ini, ini sedang daftar, doakan lancar ya”.

 

Saya sempat kaget, bagaimana mungkin kok prosesnya secepatnya itu? Daftar pas bulan puasa dan langsung bisa berangkat di tahun yang sama untuk ibadah haji? Dengan sabar jadilah saya mengikuti perjalanan Hajinya. Bahkan ia sempat menuliskan pengalaman hajinya di rubrik surat dunia ini.

 

Saya yang mengedit tulisan teman saya itu, hati saya serasa diiris. Ada rasa rindu, rasa sakit sekali, ingat Tanah Suci, ingat ketika orang tua yang mengajak kami menjalankan umroh sepulang dari perjalanan liburan ke Amerika. Tapi saya merasa sebaiknya kami bisa memulai dengan umroh dulu, mengajak suami mendatangi rumah Allah.

 

Bulan Oktober, rasa sakit saya semakin. Dada ini kok rasanya perih sekali ya? Dan yang membuat semakin menjadi adalah ketika suara Azan terdengar terus di telinga. Berapa kali saya sampai bertanya, ke suami, ke teman, “ini sudah azan ya? atau “Eh ada suara azan ya?” “Hp saya bunyi azan ya?”. Jawaban mereka selalu seperti orang kebingungan “Dini ini ngomong apa sih?”

 

Saya pasrah saja, tapi keinginan itu saya sampaikan pada suami. Suami saya seorang mualaf, mantan atheis kepala batu. Alhamdulillah hidayah datang begitu indah padanya. Hingga sayapun luluh.

 

Kami mulai menghitung tabungan, apalagi baru saja Agustus kami pulang ke Indonesia, si bungsu di khitan dan namanya kalau pulkam sudah pasti liburan, dan biaya membengkak. Jadi rasanya kalau, umroh di tahun yang sama, mungkin agak berat. Jadi kami pastikan insyaAllah tahun depan.

 

Tapi hati ini semakin sakit, saya sampai menangis setiap shalat. Suami selalu menenangkan dengan berkata “sabar ya cheri, atau kalau mau ya berangkat saja akhir tahun.” “Tapi habis itu kita hemat ya”.

 

Mungkin itu yang namanya panggilan, akhir Oktober kami mendapat rezeki tak disangka. Saya dan suami berniat bila ada rezeki lebih, maka umrohlah yang akan kami lakukan. Saya sangat haru waktu itu, tapi juga panik. Karena keinginan saya untuk pergi umroh akhir tahun sangatlah mepet.

 

Mulailan saya cari tahu soal biaya, akomodasi dan keperluan lainnya untuk umroh.

 

Nah di sinilah saya baru tahu mengapa menggunakan travel agent jauh lebih baik dan memang sebaiknya dengan cara fasilitas dari mereka.