9 Rabiul Awwal 1442

Kisah Islam dalam Rentang Kejayaan Kekaisaran Mongol

Sabtu , 23 May 2020, 06:11 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Mausoleum Timur Lenk
Foto : Wikipedia
Mausoleum Timur Lenk

REPUBLIKA.CO.ID, Berikut ini kami akan muat secara serial khazanah peradaban Islam. Tulisan ini kami cuplik dari buku 'Sejarah Islam' karya Dr. Siti Zubaidah, M.Ag. Beliau adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Pasca Sarjana Universitas Islam Sumatra Utara, Medan.

 

Kali ini kisah berlanjut pada soal yang bertajuk 'KEKAISARAN MONGOL PASCA JENGIS KHAN DAN PENGARUHNYA DALAM PERKEMBANGAN ISLAM'. Kisah ini sangat penting untuk mengetahui kronologi awal dari berubahnya kekaisaran Mogol yang nomaden dan berhasil menghancurkan pusat peradaban Islam dinasti Abassiyah di Baghdad menjadi peduli terhadap ajaran Islam. Bahkan, nama 'Khan' yang eksis di India dan Pakistan menjadi sosok nama bagi para Muslim di sana. Begini tulisannya:

Pada saat kondisi fisiknya mulai lemah, Jengis Khan membagi wilayah kekuasaannya menjadi empat bagian kepada empat orang putranya, yaitu Juchi, Chagathai, Ogotai, dan Tuli. Dari keempat orang itu, muncul dinasti-dinasti yang secara langsung berpengaruh dalam memberikan warna dalam perkembangan Islam di Semenanjung Mongolia. Diantara dinasti-dinasti tersebut ialah Dinasti Chaghatai, Dinasti Golden Horde, dan Dinasti Ilkhan.

40 Facts about Tamerlane - Timur the Lame | Owlcation

A. DINASTI CHAGHATAI (1227-1369 M).

Dinasti Chaghatai terdiri dari wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Chaghatai Khan (ejaan alternative: Chagata, Chagta, Djagatai, Jagatai). Chaghatai (w. 1242) merupakan anak kedua dari Jengis Khan yang diberi wilayah kekaisaran Mongol yang membentang dari sungai Illi di bagian Timur Kazakhstan) dan Kashgaria (sebelah Barat Tarim Basin) sampai Transoxiana (Uzbekisthan dan Turkmenistan).

Setelah ayahnya meninggal, ia mewarisi lebih dari apa yang sekarang disebut lima Negara Asia Tengah dan Iran Utara. Chaghatai sangat taat kepada UUD Mongol dan membenci dengan aturan Islam dan membenci Umat Islam. Tetapi walau pun demikian, dalam pemerintahannya ia mempunyai seorang menteri Muslim yang bernama Qutub al Din Habs, yang di kemudian hari mempunyai peranan dalam perkembangan Islam di wilayah ini.

Menurut Bosworth, daerah kekuasaan dinasti Chaghatai membentang ke Timur dari Transoxania sampai Turkistan Timur atau Turkistan China. Cabang Barat keturunan Chaghatai di Transoxania segera masuk dalam lingkungan pengaruh Islam, namun ditumbangkan oleh Timur, Cabang Timur di Semirechye dan Illi serta T’ien Syan di Tarim, lebih tahan terhadap Islam. Namun, keturunan Chaghatai di Timur pada akhirnya membantu menyebarkan Islam di Turkistan China, dan mereka bertahan sampai abad XVII M.

Atas nama Chaghatai, dinasti yang berkembang dan dikendalikan oleh keturunannya, disebut Dinasti Chaghatai yang hampir 150 tahun (1227-1369 M) berkuasa di Tsansoxiana sebagai basis daerah politik mereka. Dinasti-dinasti Chaghatai setelah meninggalnya Chaghatai secara turun-temurun menurut M Abdul Karim adalah sebagai berikut:3

    a.    Kara Hulegu (1241-1248). 


    b.    Ishu Mongguki (1248-1251). 


    c.    Kara Hulegu (1251). 


    d.    Orghana (Janda Kara) (1251-1266).[13] 


    e.    Mubarak Syah (1266).[14] 


    f.    Buraq Khan (1266-1271). 


    g.    Nik Pay (1271). 


    h.    Buka Timur (1282). 


    i.    Dua Khan (1307) 


    j.    Ishen Bukay (1309-1318). 


    k.    Khan Kabag (1318-1326). 


    l.    Therma Shirrin (1326-1334).[15] 


    m.    Sebanyak 17 orang Chaghatai berkuasa (1334-1369). 


    n.    Tura (1364), boneka Timur Leng. 


    o.    Timur Leng 


Yang menarik dari dinasti di atas adalah dinasti Timur, karena ibunya berdarah Chaghatai dan ia juga sebagai penyambung dinasti tersebut di samping bapaknya adalah darah keturunan Turki. Karena Timur dipandang yang mempertahankan, memajukan, dan menerapkan syariat Islam di kalangan Chaghatai Islam, maka berikut secara khusus dijelaskan tentangnya secara singkat:

Tamerlane (1336 – 14 Februari 1405) (Bahasa Turki Chagatai: Tçmôr, “besi”), juga dikenal sebagai Temur, Timur Lenk, Taimur, atau Timuri Leng, yang artinya “Timur si Pincang”, karena kaki kirinya yang pincang sejak lahir adalah seorang penakluk dan penguasa keturunan Turki-Mongol dari wilayah Asia Tengah, yang terkenal pada abad ke- 14, terutama di Rusia Selatan dan Persia Timur, 4 Monumen Timur Lenk di Samarkand, Uzbekistan.

Timur dilahirkan di Kesh (kini bernama Shahr-i-Sabz, ‘kota hijau’), yang terletak sekitar 50 mil di sebelah Selatan kota Samarkand di Uzbekistan. Ayahnya bernama Turghai yang merupakan ketua kaum Barlas. Ia adalah cicit dari Karachar Nevian (menteri dari Chaghatai Khan, yaitu anak Jenghis Khan sekaligus komandan pasukan tempurnya), dan Karachar terkenal di antara kaumnya sebagai yang pertama memeluk agama Islam.

Turghai mungkin saja mewarisi pangkat yang tinggi di ketentaraan; tetapi seperti ayahnya Burkul, ia menggemari kehidupan beragama dan belajar.  Di bawah bimbingan yang baik, Timur ketika berusia dua puluh tahun bukan saja mahir dalam kegiatan-kegiatan luar ruangan, tetapi juga mempunyai reputasi sebagai pembaca Al-Qur’an yang tekun.

B. SERANGAN-SERANGAN TIMUR LENK

Timur Lenk merupakan keturunan Mongol yang sudah masuk Islam, dimana sisa-sisa kebiadaban dan kekejaman masih melekat kuat. Dia berhasil menaklukkan Tughluk Temur dan Ilyas Khoja, dan kemudian dia juga melawan Amir Hussain (iparnya sendiri). Dan dia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana, pelanjut Jagati dan keturunan Jengis Khan.

Timur Lenk adalah seorang yang sangat ambisius, merasa dirinya sangat kuat dan ingin menguasai seluruh dunia seperti Chengis Khan dan Alexander Agung. Ia pernah berkata, “Penguasa Tunggal di angkasa adalah Allah dan bumi pun hanya ada seorang penguasa tunggal, dan dia adalah saya, Timur Lenk”.

Setelah lebih dari satu abad umat Islam menderita dan berusaha bangkit dari kehancuran akibat serangan bangsa Mongol di bawah Hulagu Khan, malapetaka yang tidak kurang dahsyatnya datang kembali, yaitu serangan yang juga dari keturunan bangsa Mongol. Berbeda dari Hulagu Khan dan keturunannya pada dinasti Ilkhan, penyerang kali ini sudah masuk Islam, tetapi sisa-sisa kebiadaban dan kekejaman masih melekat kuat. Serangan itu dipimpin oleh Timur Lenk.

Sejak usia masih sangat muda, keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa sudah terlihat. Ia sering diberi tugas untuk menjinakkan kuda-kuda binal yang sulit ditunggangi dan memburu binatang-binatang liar. Sewaktu berumur 12 tahun, ia sudah terlibat dalam banyak peperangan dan menunjukkan kehebatan dan keberanian yang mengangkat dan mengharumkan namanya di kalangan bangsanya.

Tashkent and Karimov | Thea's blog

  • Keterangan foto: Patung Timur Lenk naik kuda di Tashkent.

Akan tetapi, baru setelah ayahnya meninggal, sejarah keperkasaannya bermula setelah Jagatai wafat, masing-masing Amir melepaskan diri dari pemerintahan pusat. Timur Lenk mengabdikan diri pada Gubernur Transoxiana, Amir Qazaghan Ketika Qazaghan meninggal dunia, datang serbuan dari Tughluq Temur Khan, pemimpin Moghulistan, yang menjarah dan menduduki Transoxiana.

Timur Lenk bangkit memimpin perlawanan untuk membela nasib kaumnya yang tertindas. Tughluq Temur setelah melihat keberanian dan kehebatan Timur, menawarkan kepadanya jabatan Gubernur di negeri kelahirannya. Tawaran itu diterima, akan tetapi setahun setelah Timur Lenk diangkat menjadi Gubernur pada tahun 1361 M, Tughluq Temur mengangkat puteranya, Ilyas Khoja menjadi Gubernur Samarkand dan Timur Lenk menjadi Wazir-nya. Tentu saja Timur Lenk menjadi berang. Ia segera bergabung dengan cucu Qazaghan, Amir Husain, mengangkat senjata memberontak terhadap Tughluq Temur.

Timur Lenk berhasil mengalahkan Tughluq Temur dan Ilyas Khoja. Keduanya dibinasakan dalam pertempuran. Ambisi Timur Lenk untuk menjadi raja besar segera muncul. Karena ambisi itulah ia kemudian berbalik memaklumkan perang melawan Amir Husain, walaupun iparnya sendiri.

Dalam pertempuran antara keduanya, ia berhasil mengalahkan dan membunuh Amir Husain di Balkh. Setelah itu, ia memproklamirkan dirinya sebagai penguasa tunggal di Transoxiana, pelanjut Jagatai dan turunan Jengis Khan, pada 10 April 1370 M. Sepuluh tahun pertama pemerintahannya, ia berhasil menaklukkan Jata dan Khawarizm dengan sembilan ekspedisi.

Setelah Jata dan Khawarizm dapat ditaklukkan, kekuasaannya mulai kokoh. Ketika itulah Timur Lenk mulai menyusun rencana untuk mewujudkan ambisinya menjadi penguasa besar, dan berusaha menaklukkan daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Jengis Khan.

Pada tahun 1381 M ia menyerang dan berhasil menaklukkan Khurasan, setelah itu serbuan ditujukan ke arah Herat. Di sini ia juga keluar sebagai pemenang. Ia tidak berhenti sampai di situ, tetapi terus melakukan serangan ke negeri-negeri lain dan berhasil menduduki negeri-negeri di Afghanistan, Persia, Fars dan Kurdistan.

Di setiap negeri yang ditaklukkannya, ia membantai penduduk yang melakukan perlawanan. Di Sabzawar, Afghanistan, bahkan ia membangun menara, disusun dari 2000 mayat manusia yang dibalut dengan batu dan tanah liat. Di Ispaha, ia membantai lebih kurang 70.000 penduduk. Kepala-kepala dari mayat-mayat itu dipisahkan dari tubuhnya dan disusun menjadi menara.

Dari sana ia melanjutkan ekspansinya ke Irak, Syria dan Anatolia (Turki). Tahun 1393 Mia menghancurkan dinasti Muzhaffari di Fars dan membantai Amir-amirnya yang masih hidup. Pada tahun itu pula Baghdad dijarahnya, dan setahun kemudian ia berhasil menduduki Mesopotamia. Penguasa Baghdad itu, Sultan Ahmad Jalair, melarikan diri ke Syria. Ia kemudian menjadi Vassal dari Sultan Mesir, Al-Malik al-Zahir Barquq.

Penguasa dinasti Mamalik yang berpusat di Mesir ini adalah satu-satunya raja yang tidak mau dan tidak berhasil ditundukkannya. Utusan-utusan Timur Lenk yang dikirim ke Mesir untuk perjanjian damai, sebagian dibunuh dan sebagian lagi diperhinakan, kemudian disuruh pulang ke Timur Lenk. Mesir, sebagaimana pada masa serangan-serangan Hulagu Khan, kembali selamat dari serangan bangsa Mongol.

Karena Sultan Barquq tidak mau mengekstradisi Ahmad Jalair yang berada dalam perlindungannya, Timur Lenk kemudian melancarkan invasi ke Asia Kecil menjarah kota-kota, Takrit, Mardin dan Amid. Di Takrit, kota kelahiran Salahuddin al-Ayyubi, ia membangun sebuah piramida dari tengkorak kepala korban-korbannya.