9 Syawwal 1441

DPRD DIY: Kapasitas RS untuk Covid-19 di DIY Perlu Ditambah

Sabtu , 23 May 2020, 09:53 WIB Reporter :Silvy Dian Setiawan/ Redaktur : Agus Yulianto
 Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji (tengah)  menjelaskan terkait dampak yang terjadi di DIY akibat penyebaran corona.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji (tengah) menjelaskan terkait dampak yang terjadi di DIY akibat penyebaran corona.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana mengatakan, perlunya Pemerintah Daerah (Pemda) DIY untuk menambah kapasitas rumah sakit (RS) dalam hal ini ruang iolasi untuk penanganan Covid-19. Hal ini mengingat kasus positif Covid-19 yang terus bertambah tiap harinya.

"Gugus tugas Covid-19 bidang kesehatan DIY perlu menambah kapasitas rumah sakit untuk perawatan Covid-19, setidaknya sampai 500 bed (tempat tidur) atau 600 bed," kata Huda dalam keterangan resminya, Jumat (22/5).

Menurutnya, saat ini di 27 rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di DIY hanya menyediakan 300 bed. Sementara, lebih dari setengahnya sudah diisi baik itu pasien positif maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19.

Ia menyebut, penambahan kapasitas ini perlu dilakukan sebagai antisipasi akan lonjakan kasus ke depannya. Sebab, pasien tidak tertangani jika nantinya lonjakan kasus terjadi mengingat kasus yang terus bertambah di DIY.

"Jangan sampai ketika kejadian kita tidak siap, sehingga kondisi semakin memburuk dan pasien tidak tertangani. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan sangat tidak kita inginkan, tetapi harus dilakukan," ujarnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, saat ini kapasitas rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 sudah terpakai setidaknya 80 persen. Walaupun begitu, tidak semua pasien positif dan PDP yang ditangani di rumah sakit.

"Kita masih punya 20 persen, harapannya PDP yang saat ini ada di rumah sakit bisa kita kurangi dan dipindahkan ke shelter yang sudah disiapkan," kata Aji.

Aji menjelaskan, seluruh pemerintah kabupten/kota memang memaksimalkan isolasi di tempat-tempat yang sudah disiapkan tersebut. Seperti di balai-balai diklat, hotel hingga Asrama Haji yang ada di Sleman.

Bahkan, pasien positif maupun PDP yang menempati tempat tersebut merupakan orang yang tidak membutuhkan perawatan intensif, dalam artian tidak memiliki gejala yang berat. Dengan begitu, kapasitas rumah sakit yang sudah disediakan teap mencukupi.

"Sekarang yang kita kembangkan justru yang di shelter-shelter itu. Karena semakin hari ke sini itu, yang psoitif justru orang yang tidak menunjukkan gejala, dia baik-baik saja. Itu pengobatannya tidak perlu ke rumah sakit, dia tidak butuh ventilator," ujar Aji.

 

widget->kurs();?>