4 Rabiul Awwal 1442

Sumbangan Kekaisaran Mongol Bagi Peradaban Islam

Sabtu , 23 May 2020, 13:24 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Penggembala rusa di Mongolia.
Penggembala rusa di Mongolia.

REPUBLIKA.CO.ID, Berikut ini kami akan muat secara serial khazanah peradaban Islam. Tulisan ini kami cuplik dari buku 'Sejarah Islam' karya Dr. Siti Zubaidah, M.Ag. Beliau adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan Pasca Sarjana Universitas Islam Sumatra Utara, Medan.

 

Kali ini kisah berlanjut pada soal yang bertajuk 'HASIL PERADABAN MONGOL MASA ISLAM'.Dalam tulisan ini terkuak bila dibalik kesan kekasaran dan  ketidakberadaban Kekaisaran Mongol, ternyata dinasti ini menymbangkan jasa begitu besar bagi peradaban Islam. Begini tulisannya.

A. MASA DINASTI CHAGHATAI

Di balik sejarah gelap terdapat titik terang bagi kemajuan bangsa, setidaknya bangsa-bangsa pada waktu itu. Pada masa Timuriah, terutama masa Timur, peradaban maju pesat. Pada masa ini tercatat Undang- undang dan kebijakan-kebijakan Timur di antaranya:

a. Pemberian tunjangan tetap bulanan kepada para vikhari (pengemis) agar tidak mengemis lagi. 


b.Penegakan hukum yang tidak pandang bulu. 


c. Pembangunan Masjid, rumah sakit, sarai khana (tempat istirahat para pelancong) dan sekolah. 


d. Fasilitas-fasilitas untuk para petani dan fasilitas-fasilitas untuk para pedagang. 


e. Pada masa Shakhrukh, Ilmu pengetahuan dan seni maju pesat, ia mendirikan sebuah Observatorium di Samarkhand.


B.MASA DINASTI GOLDEN HORDE

Pada Dinasti ini terutama pada masa Barka Khan, telah dibangun rumah-rumah ibadah dan perguruan-perguruan tinggi Islam pada kota-kota belahan Utara.2 Barka Khan mengganti UUD Mongol dengan

Syari’at Islam.

Selanjutnya semasa Uzbeg Khan, administrasi kenegaraan diterapkan sesuai dengan Syari’at Islam. Kesenian dan sastra berkembang pesat pada masanya. Masjid-masjid dan sekolah-sekolah dibangun dengan gaya arsitektur yang indah. Menurut Ibnu Bathutah: pada periodenya Golden Horde menjadi Negara Islam yang paling sempurna.

Hancurnya Baghdad, Ibu Hulagu: Peradaban Islam di Mongol ...

C. MASA DINASTI ILKHAN

Di bawah pemerintahan Mahmud Ghazan dan atas kecakapan Menterinya bernama Rashid al Din at Tabib, terjadi kemajuan pesat di bidang pertanian dan pembaharuan kebijakan keuangan, pembentukan petugas pencatat pajak, dan semangat dalam perencanaan program pembangunan fisik, termasuk di antaranya adalah pembangunan pusat- pusat perdagangan, jembatan dan seluruh kota.

Selain yang disebutkan di atas pada periode ini, Umat Islam melahirkan ilmuwan internasional di antaranya:

a. Ibnu Taimiyah. 


b. Nasir al-Din Tusi, (w. 1274 M), ahli astronomi, ahli geometri, ahli matematika. Ia mendirikan sebuah observatorium di Maragha, sebuah tempat yang terletak di Asia Kecil.3 


c. Al-Juwaini, dengan karyanya History of the World Conquerors, memaparkan kisah Jenghis Khan dan penaklukan Iran. 


d. Rasyid al-Din Fazlullah, seorang ilmuwan fisika dan seorang menteri, menulis karya Compendium of Histories , yang mengintegrasikan sejarah Bangsa Cina, India, bangsa Eropa, Muslim, dan sejarah Mongol ke dalam sebuah perspektif kosmopolitan mengenai nasib umat manusia.4 


D. BELAJAR DARI SEJARAH

Allah SWT. Berfirman yang artinya: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Rasulullah bersabda: “Hampir saja, bangsa-bangsa berbondong-bondong mengerubuti kamu, sebagaimana hidangan mengundang selera pemangsanya. Kami (para Sahabat) bertanya, “Apakah waktu itu kami minoritas, Ya Rasulullah?. Tidak, bahkan pada waktu itu kamu mayoritas, tetapi keadaan kamu hanyalah laksana buih. Rasa gentar tercerabut dalam hati musuh- musuhmu dan (sesuatu) telah menjadikan dalam hatimu “Al Wahn”. Kami bertanya, “Apa “Wahn” itu? Rasul menjawab: Mencintai kehidupan/ harta (dunia) dan takut mati.

Sejarah mencatat bagaimana sabda Rasulullah tersebut terbukti pada mayoritas umat Islam pada masa menjelang penyerangan Mongol. Muhammad Sayyid Al-Wakil7 setelah dengan panjang lebar menerangkan kisah penyerangan bangsa Tartar terhadap dunia Islam, beliau memberikan komentar dan analisa sebab-sebab kekalahan telak umat Islam, di antaranya:

a. Perpecahan dan konflik internal kaum Muslimin melicinkan jalan bagi pasukan Tartar untuk menginvasi negeri-negeri Islam tanpa rintangan yang berarti. 


b. Perpecahan menyebabkan hilangnya nyali dari kaum Muslimin dan sebaliknya membuat nyali orang-orang Tartar semakin kuat.

c. Fanatik Madzhab dan adu domba dari orang munafik, Ibnu 
Al Qami, saorang Syi’ah Rafidhah.

Catatan yang cukup menarik tentang kekalahan tentara kaum Muslimin Baghdad itu terdapat dalam buku Tarikh al-Islam, karya Muhyiddin al-Khayyat:8 “Sejak bertahun-tahun lamanya telah timbul pertentangan tajam antara pengikut Sunni dan Syi ’ah, juga antara pengikut mazhab Syafi’i dan Hanafi.

Pertumpahan darah telah sering pula terjadi dalam pertikaian yang timbul di antara golongan-golongan yang saling bertentangan itu. Pada saat itu khalifah yang berkuasa ialah Al-Mu’tasim, sedangkan Wazir-nya Muayyad al-Din al-Qami, seorang tokoh Syi’ah terkemuka.”

Penyebab lainnya yang tidak kalah penting untuk dijadikan pelajaran ialah Umat Islam ketika itu terlena dengan harta benda (hubb dunya) dan lemahnya ruhul jihad mereka karena takut mati (karahiyatul maut). Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa al-Nihayah, menyebutkan bagaimana sepak terjang Ibnu Taimiyah terus-terusan berdakwah untuk memotivasi mereka untuk berjihad yang pada waktu itu mereka hobi minum-minuman keras.

 

widget->kurs();?>