14 Zulqaidah 1441

Terminal Selatan Bandara Jeddah Ditutup Setelah 40 Tahun

Selasa , 30 Jun 2020, 04:57 WIB Reporter :Rossi Handayani/ Redaktur : Ani Nursalikah
Terminal Selatan Bandara Jeddah Ditutup Setelah 40 Tahun. Terminal selatan di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dengan bentuk atapnya yang ikonik.
Terminal Selatan Bandara Jeddah Ditutup Setelah 40 Tahun. Terminal selatan di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah dengan bentuk atapnya yang ikonik.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Terminal selatan Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah akan ditutup. Tempat tersebut merupakan pintu gerbang ke Kerajaan selama hampir 40 tahun.

Baca Juga

Terminal selatan dan layanannya akan dipindahkan ke tujuan global terbaru bandara, T1 yang jauhnya hanya beberapa mil. Ada banyak kenangan tentang pintu terminal selatan. Terminal selatan dikenal dengan desain atapnya yang ikonik yang mirip dengan atap tenda.

Mantan wakil presiden keselamatan dan keamanan di Saudi Arabian Airlines, Saad Al-Shehri mengatakan, peresmian bandara pada April 1981 merupakan momen kebanggaan nasional. Selain itu, juga menjadi perubahan budaya dalam layanan penerbangan dan logistik di Kerajaan.

"Bandara ini adalah salah satu yang paling indah yang pernah dirancang. Itu dibedakan oleh pergerakannya yang lebih halus," kata Al-Shehri, dilansir dari Arab News, Senin (29/6).

Dia mengatakan, Bandara Internasional King Abdul Aziz ditandai dengan ukurannya yang besar dan keindahan desainnya. Lounge keberangkatan terpisah dari kedatangan, dan ruang penerbangan Saudi Airlines terpisah dari maskapai asing.

"Jembatan jet yang modern dan nyaman digunakan bagi penumpang untuk naik dan turun. Ini hanya digunakan di tiga bandara di seluruh dunia sepengetahuan saya, Bandara King Abdul Aziz, Bandara Internasional Dulles di Washington, DC, dan Bandara Internasional Montreal-Pierre Elliott Trudeau," ucap Al-Shehri.

Al-Shehri mengungkapkan, bandara ini juga ditandai dengan bangunan modern, yang melengkapi layanan operasional, teknis, dan dukungan. Ini terkait dengan General Authority of Civil Aviation (GACA), dan manajemen bandara atau yang berkaitan dengan Saudi Airlines.

Dia mengatakan, untuk pertama kalinya di Kerajaan, bangunan modern dan luas dialokasikan untuk manajemen bandara, serta bangunan untuk operasi Saudi Airlines. Ini meliputi manajemen pilot, manajemen layanan udara, manajemen penerbangan kerajaan, dan banyak lagi.

 

Mantan kapten pilot, Ali Badeeb bertugas di sana hampir 40 tahun yang lalu ketika pembukaan bandara. Menurut Badeeb, itu merupakan salah satu momen paling indah dalam hidupnya.

"Saya sangat senang ketika saya pindah ke bandara baru, yang dilengkapi dengan teknologi terbaru yang berkaitan dengan operasi, pemeliharaan, layanan penumpang, dan sistem navigasi udara pada saat itu," kata dia.

Badeeb mengungkapkan, ia memiliki perasaan yang campur aduk, antara kesedihan, dan kegembiraan saat berpisah dengan terminal selatan. "Kami meningkatkan kemampuan orang-orang setia yang mengabdikan hidup mereka untuk melayani negara mereka, dan bangunan ini menyaksikan lompatan besar ke depan dalam sektor penerbangan di Timur Tengah," ucap Badeeb.

 

Mantan asisten manajer umum Saudi Arabian Airlines, Ali Malat mengatakan, pada awalnya pembukaan bandara menginspirasi semua orang Arab Saudi. Hal ini karena sebagai tanda ekspansi, dan pengembangan, yang kemudian diikuti oleh Bandara King Khalid di Riyadh, dan Bandara King Fahd di Dammam.

 

Malat mengatakan, bahwa bandara pada waktu itu berukuran kecil, dan berada di jantung kota-kota. Ia menggambarkan Bandara Internasional Raja Abdul Aziz sebagai terobosan yang nyata.

 

"Kami sangat menunggu gedung bandara. Itu diselesaikan dengan sangat cepat, pada saat Jeddah memiliki wilayah geografis yang sempit dan kota itu tidak sebesar sekarang," kata Malat.

 

Malat mengatakan, Bandara Internasional King Abdul Aziz menciptakan revolusi dalam penerbangan di Timur Tengah dan, lebih khususnya Saudi Arabian Airlines. 

"Berdasarkan pekerjaan saya di bidang pemeliharaan pesawat, saya dapat memberi tahu Anda pemeliharaan, dan rekayasa pesawat beroperasi dari dalam bandara, dan memiliki ruang yang membantu mereka melakukan tugas mereka secara efektif dan efisien," ucapnya.

 

Sementara itu, Kapten Essam Yeslam mengatakan, sejarah penerbangan di Arab Saudi telah dikaitkan dengan pelatihan kader yang bekerja di fasilitas, dan departemen sektor untuk penggunaan sipil dan militer. "Ketika kami masih muda, kami biasa melihat dengan kagum dan terpesona pada segala hal baru di bidang ini, dan kami berterima kasih atas perhatian khusus yang dibayarkan negara dan kepemimpinan kami ke sektor ini, memberikan minat khusus untuk semua perkembangan dan inovasi di seluruh dunia," kata Yeslam.

Yeslam mengatakan, sebanyak 30 juta penumpang melewati bandara dalam fase ekspansi pertamanya. Selain itu, ada rencana untuk menampung 80 juta penumpang pada tahap ketiga, salah satu perkembangan paling penting yang telah ia saksikan sejak memulai layanan dengan Saudia pada 1977.

 

 

 

 

widget->kurs();?>