13 Rabiul Akhir 1442

Delapan Amalan Lahiriah bagi Jamaah Haji dan Umroh

Jumat , 07 Aug 2020, 16:00 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Delapan Amalan Lahiriah bagi Jamaah Haji dan Umroh. Foto: Ratusan Jamaah haji bertawaf mengelilingi Ka
Delapan Amalan Lahiriah bagi Jamaah Haji dan Umroh. Foto: Ratusan Jamaah haji bertawaf mengelilingi Ka

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibadah umroh dan haji merupakan ibadah yang paling berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Karena ibadah umroh dan haji dilaksanakannya di tempat yang jauh dengan biaya tak sedikit untuk sampai di Arab Saudi sebagai tempat pusat ibadah. 

Untuk itu persiapan lahir dan batin harus benar-benar matang untuk mencapai ibadah yang maksimal di tanah Suci. Sangat disayang ketika melaksanakan umroh atau haji tidak dapat menjalankan rangkaian ibadahnya. 

Maka dari itu sangat penting mengetahui amalan apa saja yang harus dilakukan mulai diri sebelum keberangkatan ibadah umroh atau haji sampai berihram. Imam Al-Ghazali dalam Ikhtisar Ihya Ulumiddin merangkum ada delapan amalan lahiriah dari awal keberangkatan sampai Ihram.

Pertama bertobat, menunaikan kewajiban yang selama ini belum terlaksana, melunasi hutang, menyediakan biaya hidup untuk keluarga yang wajib dinafkahi selama kepergiannya ke tanah suci sampai kembali, mengembalikan barang-barang titipan dan segala sesuatu yang dibawanya adalah barang halal. 

Kedua mencari teman yang saleh supaya dapat mengambil manfaat dari ilmu agama. Ketiga melaksanakan salat dua rakaat sebelum berangkat. "Membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Sesuai shalat, kemudian mengangkat kedua tangan sambil membaca doa. 

"Ya Allah engkau adalah teman dalam perjalanan ini. Engkau adalah penjaga keluarga, anak para sahabat. Jagalah kami dan mereka dari segala marabahaya, penyakit dan bala."

Ke empat, ketika hendak melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah, kembali membaca doa. "Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Wahai Allah aku berlindung kepada-Mu agar akun tidak sesaat atau menyesatkan, tidak dihina atau menghina orang lain, tidak tergelincir atau menggelincirkan orang lain, tidak berbuat zalim atau dizalimi, tidak membodohi atau dibodohi." 

Kelima, saat menaiki kendaraan membaca doa dan lafadznya. "Dengan menyebut nama Allah dan dengan Allah. Allah maha besar. Aku bertawakal kepada Allah. Cukuplah Allah bagiku. Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

Keenam turun dari kendaraan. Disunahkan untuk tidak turun dari kendaraan sebelum siang memanas dan agar menempuh perjalanan di malam hari. Rasulullah bersabda. "Berjalanlah pada malam hari karena bumi dilipat sehingga menjadi lebih dekat pada malam hari, yang mana ia tidak dilipat pada siang hari."

Ketujuh, tidak berjalan sendiri karena dikhawatirkan tersesat. Dan kedelapan, ketika melewati dataran tinggi, hendaknya bertakbir tiga kali kemudian berdoa. "Ya Allah, kemuliaan di atas semua kemuliaan hanyalah milik-Mu dan segala puji hanya bagi-Mu dalam semua keadaan. 

Dan lalu ganti membaca tasbih apabila turun dari dataran tinggi. Jika muncul rasa takut dan gelisah, bacalah doa. "Maha Suci Dzat pemilik kerajaan, sang Mahakudus Tuhan para malaikat dan Ruh (Jibril). Langit dan bumi diagungkan dengan kemuliaan dan keperkasaan."

 

widget->kurs();?>