14 Rabiul Akhir 1442

Dongkrak Ekspor Produk Halal, Data Ekonomi Halal Diperkuat

Senin , 26 Oct 2020, 06:35 WIB Reporter :Lida Puspaningtyas/ Redaktur : Elba Damhuri
Ekonomi Halal - Penjaga stan menata produk fesyen halal yang dipamerkan pada Jogja Halal Fest (JHF) di Jogja Expo Centre, DI Yogyakarta.
Ekonomi Halal - Penjaga stan menata produk fesyen halal yang dipamerkan pada Jogja Halal Fest (JHF) di Jogja Expo Centre, DI Yogyakarta.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah berkomitmen untuk memperjelas dan memperkuat data ekonomi halal Indonesia. Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Afdhal Aliasar, mengatakan upaya tersebut akan dipimpin oleh Kementerian Koordinator Perekonomian.

"Saya setuju semua itu harus ada ukuran dan validitas yang jelas dalam strategi pengembangan industri halal Indonesia. Nah, saat ini kita belum punya itu," katanya kepada Republika.co.id, Ahad (25/10).

Afdhal mengatakan hal inilah yang harus dibangun terlebih dahulu. Kemarin, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menyampaikan perlu adanya link antara data perdagangan, data ekonomi dengan data sertifikasi halal.

Ia sudah menginstruksikan kementerian dan lembaga terkait untuk mengembangkan kodefikasi untuk pendataan produk halal. Dengan adanya kodefikasi manajemen informasi produk halal Indonesia akan terdata dengan baik, tervalidasi dan akurat angkanya.

Ini akan sangat dibutuhkan untuk monitoring dan penargetan perdagangan dan industri serta monitoring penggunaan APBN dan rancangan target-target ekonomi lainnya. Dengan data ini, strategi Indonesia akan terukur dengan data yang akurat ke depannya.

Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan ekspor produk halal Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Pemilihan sektor unggulan menyasar sektor yang paling besar dan berkaitan dengan halal yaitu makanan dan minuman, serta sektor bahan dasar pangan dan protein.

Afdhal mengatakan ekspor produk halal Indonesia saat ini sebenarnya cukup baik. Bahkan kategori terbesar ekspor  non-migas Indonesia berasal dari produk-produk yang berpotensi untuk disertifikasi kehalalannya.

Pada dasarnya produk tersebut berasal dari bahan halal, namun belum dilakukan sertifikasi halal pada saat produk tersebut di ekspor. Contohnya, adalah produk sawit dan turunannya, hasil perkebunan lain dan turunannya, termasuk juga hasil laut, ikan dan seafood serta olahan dan banyak lagi lainnya.

"Yang perlu kita lakukan adalah selain membangun lebih kuat Industri industri yang berbasis bahan halal, namun juga industri halal dikembangkan secara terintegrasi sehingga produk yang dihasilkan merupakan produk yang halal certified," katanya.

BACA JUGA: Ini Tanda-Tanda Kiamat dari Rasulullah SAW

 

widget->kurs();?>