11 Rabiul Akhir 1442

Seberapa Efektif Aksi Boikot Produk Prancis?

Kamis , 29 Oct 2020, 06:05 WIB Reporter :Puti Almas/ Redaktur : Esthi Maharani
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

IHRAM.CO.ID, ANKARA — Boikot tidak resmi terhadap produk-produk Prancis yang dilakukan oleh negara-negara Muslim dalam beberapa waktu terakhir telah menarik perhatian dunia. Terlebih, aksi yang didukung penuh oleh Presiden Turki Recep Tayip Erdogan ini telah mendorong banyak orang di negaranya untuk tidak akan memperhatikan barang berlabel Prancis.

Beberapa jam setelah berpidato tentang Prancis, Yayasan Pemuda Turki (TÜGVA), sebuah organisasi yang dekat dengan pemerintah, telah mengedarkan daftar boikot merek negara Eropa Barat tersebut. Banyak nama dari produk hingga perusahaan, mulai dari  jaringan supermarket Carrefour, Total, Danone, dan pembuat mobil Peugeot dan Renault.

Meski langkah yang dilakukan Erdogan terlihat cukup banyak mendapat dukungan dari warganya, seperti yang juga terlihat di media sosial, tak sedikit yang juga mengejek. Beberapa mengatakan bahwa mata uang Turki telah merosot ke level terendah yaitu 8,55 terhadap Euro pada Selasa (27/10).

Bahkan, dikatakan bahwa Turki tidak perlu memboikot merek-merek mewah Prancis karena mereka sama sekali tidak mampu membelinya. Selain itu, tidak ada tanda langsung bahwa boikot akan menjadi kebijakan resmi di negara itu.

Baca Juga

Dilansir Euro News, Ali Babacan, mantan Menteri Keuangan yang bergabung dengan oposisi, mengatakan seruan boikot dari Erdogan sangat kekanak-kanakan. Ia menyebut bahwa ada produk yang membawa merek Prancis yang diproduksi di Turki, tetapi mereknya adalah produk Prancis.

“Apa yang akan dilakukan, memboikot mereka juga? Warga kita bekerja di sana. Percayalah, di dunia global ini hanyalah hal-hal yang kekanak-kanakan,” ujar Babacan.

Keputusan konsumen Turki untuk menolak barang-barang Prancis dalam jumlah besar dapat berdampak signifikan dan kedua negara akan terpengaruh. Lembaga statistik Turki mencantumkan Prancis sebagai sumber impor terbesar ke-10 dan pasar ekspor terbesar ketujuh untuk Turki.

Salah satu perusahaan Prancis besar yang berbasis di Turki adalah Renault, yang mengoperasikan pabrik pembuat mobil terbesar di luar Eropa Barat di barat laut Turki. Lebih dari 6.000 orang bekerja di sana. Kemudian ada Carrefour, yang anak perusahaannya di Turki menjalankan 643 toko di seluruh negeri dan mempekerjakan 10.500 orang.

Tanda-tanda pertama boikot terlihat di negara-negara Muslim lainnya selama akhir pekan. Pengadopsi awal kebijakan ini adalah diantaranya termasuk staf di toko swalayan Al-Meera dan Souq al-Baladi di Qatar, yang berjalan di sepanjang lorong pada Sabtu (24/10) mengeluarkan produk Prancis yang dapat mereka temukan dari rak.

Paket ragi instan dan bubuk coklat, toples selai dan kotak berisi pasta tomat, semuanya dengan tulisan "Made in France" termasuk di antara barang-barang yang dibuang ke troli dan dibawa pergi. Beberapa toko di Kuwait menghapus produk Prancis seperti keju Kiri, air soda Perrier, dan yogurt Activia.

Universitas Qatar menunda pekan budaya Prancis tanpa batas waktu, dengan mengatakan bahwa mereka memandang penghinaan terhadap Islam dan simbol-simbolnya tidak dapat diterima. Ada juga tindakan pencegahan dari Majid Al Futtaim, konglomerat yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki toko grosir yang membawa merek Carrefour di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dlawer Ala'Aldeen, profesor, sekaligus presiden Institut Penelitian Timur Tengah di Erbil, Irak, mengatakan penting bahwa belum ada negara Muslim yang mengumumkan boikot resmi. Ia menyebut beberapa negara yang mungkin mendukung Turki, seperti Qatar, dan banyak organisasi atau bisnis yang dimiliki oleh sekutunya seperti Ikhwanul Muslimin dan lainnya, mereka dapat mulai menerapkan ini tanpa deklarasi resmi atau adopsi kebijakan resmi.

"Tetapi sebagian besar negara di Timur Tengah tidak ingin melangkah sejauh itu,” jelas Ala'Aldeen.

 

widget->kurs();?>