14 Rabiul Akhir 1442

Charlie Hebdo Sangat Bangga Mengolok-olok Islam

Sabtu , 31 Oct 2020, 11:00 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Elba Damhuri
Polisi Prancis berjaga di dekat Gereja Notre Dame di Nice, selatan Prancis, Kamis, 29 Oktober. Presiden Prancis Emmanuel Macron menambah hingga 7.000 tentara untuk berjaga usai serangan pisau yang menewasakn tiga orang, Kamis.
Polisi Prancis berjaga di dekat Gereja Notre Dame di Nice, selatan Prancis, Kamis, 29 Oktober. Presiden Prancis Emmanuel Macron menambah hingga 7.000 tentara untuk berjaga usai serangan pisau yang menewasakn tiga orang, Kamis.

IHRAM.CO.ID, PARIS -- Berulang kali diancam, dibom dan diserang dalam serangan yang menewaskan belasan anggota staf, tetapi surat kabar Prancis satir Charlie Hebdo tidak berhenti mengolok-olok Islam.

Banyak kritikus surat kabar di seluruh dunia mengatakan staf editorialnya selalu berusaha menyerang Islam. Orang-orang yang bekerja untuk Charlie Hebdo selalu menyerukan intoleransi, penindasan, dan bentuk politik Islam yang mengancam demokrasi. 

Dengan dalih kebebasan berekspresi, publikasi tersebut masih rutin mendorong batas-batas undang-undang ujaran kebencian Prancis dengan karikatur seksual eksplisit yang menyerang atau menyinggung hampir semua orang. 

Charlie Hebdo telah banyak menerbitkan konten yang mencela para migran anak yang meninggal, korban virus, pecandu narkoba yang sekarat, para pemimpin dunia, neo-Nazi, paus, uskup, pemimpin Yahudi, dan tokoh agama, politik, dan hiburan lainnya. 

Baca Juga

Mingguan ini menampilkan kartun pemakaman guru yang dipenggal, menunjukkan petugas membawa dua peti mati, satu untuk tubuh, satu untuk kepala. Sejak persidangan dibuka bulan lalu atas serangan 2015 yang menewaskan 12 kartunisnya, surat kabar tersebut mencatat persidangan setiap hari dan menghabiskan hampir setengah dari sampul mingguannya untuk mengejek ekstremisme.

“Kami membutuhkan tindakan yang kuat untuk menghentikan ekstremisme, tetapi juga untuk mengutuk tindakan sekecil apa pun, kata-kata yang tidak toleran atau penuh kebencian terhadap orang-orang Prancis dari latar belakang imigran. Karena Prancis tidak terbagi antara Muslim dan non-Muslim, antara beriman dan non-Muslim, antara orang-orang dengan akar Prancis dan orang Prancis dari latar belakang imigran. Tidak, Prancis terbagi antara demokrat dan anti-demokrat,” tulis salah seorang editor Charlie Hebdo, Riss dalam editorialnya, Rabu (28/10).

Sebenarnya sirkulasi surat kabar ini terbilang kecil, ditambah banyak orang Prancis menganggapnya menjijikkan atau ekstrem, tetapi tetap mempertahankan haknya untuk hidup. Edisi Charlie Hebdo yang paling ditentang dan menimbulkan kemarahan karena mencetak ulang karikatur Nabi Muslim Muhammad yang awalnya diterbitkan oleh majalah Denmark pada 2005. 

Kartun-kartun itu dipandang sebagai penghinaan dalam Islam. Banyak Muslim di seluruh dunia merasa benar-benar terluka olehnya tetapi mengutuk kekerasan yang datang sebagai tanggapannya.

Pada 2011, kantor Charlie Hebdo dibom setelah menerbitkan edisi spoof yang "mengundang" nabi untuk menjadi editor tamu. Karikaturnya ada di sampulnya.

Setahun kemudian, surat kabar tersebut menerbitkan lebih banyak gambar Muhammad di tengah keributan atas film anti-Muslim. Kartun-kartun itu menggambarkan Muhammad dalam keadaan telanjang dan dalam pose-pose yang merendahkan atau porno.  Pemerintah Prancis membela kebebasan berbicara bahkan ketika menegur Charlie Hebdo karena mengipasi ketegangan.

Pada Januari 2015, dua ekstremis Alqaidah kelahiran Prancis yang marah karena karikatur itu menyerbu ruang redaksi dan menewaskan 12 orang, termasuk pemimpin redaksi dan beberapa kartunis. Charlie Hebdo belum mundur.  Pada hari persidangan serangan 2015 dibuka, mereka mencetak ulang karikatur nabi yang asli.

Beberapa minggu kemudian, seorang pemuda Pakistan menikam dua orang di luar kantor Charlie Hebdo, mengutip kartun yang diterbitkan ulang. Pada 16 Oktober, seorang pengungsi Chechnya memenggal kepala seorang guru di luar Paris yang telah menunjukkan karikatur ke kelasnya, untuk debat tentang kebebasan berekspresi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron hingga kini dengan tegas membela kebebasan Charlie Hebdo untuk mencetak karikatur dan berbicara menentang Islamisme, menarik protes dan seruan untuk boikot di seluruh dunia Muslim, serta seruan untuk kekerasan terhadap Prancis dari beberapa suara ekstremis.

Sonia Mejri, janda komandan ISIS asal Prancis yang kecewa merekrut salah satu penyerang tahun 2015, bersaksi dari penjara selama persidangan. Di akhir kesaksiannya, dia menyampaikan pesan kepada jurnalis Charlie Hebdo, termasuk mereka yang duduk di ruang sidang.

“Jangan berhenti. Ini penting. Itu benar-benar yang paling mereka benci. Anda mewakili kebebasan. Apa yang mereka inginkan adalah menciptakan rasa tidak enak di masyarakat," kata Mejri. 

BACA JUGA: Ulama Iran Bicara Penghianatan Muslim dan Kekuatan Besar Islam

Link Awal: https://republika.co.id/berita/qj0ckz366/banyak-dikecam-charlie-hebdo-tetap-bangga-provokasi-islam-part1

 

widget->kurs();?>