Digertak AS Soal Kebebasan Agama, Turki: AS Ngaca Dululah

Senin , 16 Nov 2020, 06:46 WIB Reporter :Anadolu/ Redaktur : Elba Damhuri
Patung Presiden ke-32 Amerika Serikat Theodore Roosevelt di depan American Museum of Natural History, di New York,  Senin (22/6). Keberadaan patung ini kini dipermasalahkan karena isu rasisme. Roosevelt digambarkan menunggang kuda sementara diiringi penduduk asli Amerika dan pria Afrika di belakangnya.  Patung yang dipasang pada tahun 1940 ini akan diturunkan karena dianggap melambangkan kolonialisme dan diskriminasi ras.
Patung Presiden ke-32 Amerika Serikat Theodore Roosevelt di depan American Museum of Natural History, di New York, Senin (22/6). Keberadaan patung ini kini dipermasalahkan karena isu rasisme. Roosevelt digambarkan menunggang kuda sementara diiringi penduduk asli Amerika dan pria Afrika di belakangnya. Patung yang dipasang pada tahun 1940 ini akan diturunkan karena dianggap melambangkan kolonialisme dan diskriminasi ras.

IHRAM.CO.ID, ANKARA--Turki pada Rabu mengecam Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) karena menyampaikan kekhawatiran "atas masalah agama" menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Istanbul.

 

Terkait

Pernyataan dari Departemen Luar Negeri pada Selasa mengungkapkan Setelah dari Paris, Menteri Luar Negeri Pompeo akan bertolak ke Istanbul, Turki untuk bertemu dengan Uskup Agung Konstantinopel Bartolomeus I, dan membahas masalah-masalah agama di Turki dan wilayah tersebut.

Baca Juga

Otoritas AS menyatakan pihaknya juga akan mempromosikan pendiriannya tentang kebebasan beragama di seluruh dunia.

Menyoroti kemajuan Turki di bidang kebebasan beragama selama 20 tahun terakhir, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan mengatakan "bahasa yang digunakan dalam pernyataan pers soal kunjungan Menlu Pompeo sama sekali tidak relevan."

"Akan lebih cocok bagi AS untuk pertama kali melihat ke cermin dan menunjukkan kepekaan yang diperlukan terhadap pelanggaran hak asasi manusia di negara itu seperti rasisme, Islamofobia dan kejahatan rasial," tambah Aksoy.

Dalam pernyataannya, Aksoy juga menggarisbawahi bahwa Turki "tidak keberatan jika tamu resmi asing bertemu dengan perwakilan komunitas agama di negara yang mereka kunjungi" dan mengingat catatan sejarah Turki tentang keanekaragamannya dan menampung berbagai agama selama berabad-abad.

“Sedangkan agama minoritas di seluruh dunia, dan terutama Muslim, dipaksa untuk melakukan ibadah mereka dalam kondisi yang tidak baik dan terus-menerus mendapatkan ancaman, warga Turki non-Muslim mendapatkan kebebasan untuk menjalankan ritual keagamaan mereka,” tutur dia.

Aksoy melanjutkan bahwa kebebasan beribadah bagi warga Turki dari berbagai agama dilindungi.

Aksoy menyarankan AS harus fokus pada peningkatan kerja sama antara negara-negara terkait masalah regional dan global.

Pompeo akan berkunjung ke tujuh negara ke Prancis, Turki, Georgia, Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi antara 13-23 November.

sumber : Anadolu/Republika.co.id
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini