11 Rabiul Akhir 1442

Turki Buka Pintu Bagi Turis, Masuk Tanpa PCR

Ahad , 22 Nov 2020, 09:29 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Masjid karya arsitek Mimar Sinan di Istambul, Turki.
Masjid karya arsitek Mimar Sinan di Istambul, Turki.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Negara Turki membuka pintu masuk selebar-lebarnya bagi wisatawan asing. Seorang pemandu wisata lokal, Kenan, menyebut untuk masuk negara tersebut wisatawan tidak perlu melakukan tes PCR maupun SWAB.

"Saat datang ke Turki, tidak perlu tes. Kecuali mau kembali ke Indonesia, pemerintah mewajibkan tes PCR. Tes dilakukan satu hari sebelum pulang di rumah sakit," kata dia dalam webinar yang digelar Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), Jumat (20/11).

Dalam webinar yang bertajuk "Global Halal Tourism Series : Menelisik Pariwisata Turki dan Dubai di Masa New Normal", ia menyebut Turki mulai menerima wisatawan asing sejak Juni 2020.

Kenan melanjutkan, di masa new normal ini tidak banyak perubahan yang wajib diikuti oleh pelancong, di luar mengikuti protokol kesehatan dari Pemerintah Turki. Satu hal yang harus dimiliki wisatawan selain visa masuk adalah asuransi.

Asuransi ini disebut bermanfaat jika sewaktu-waktu pemerintah Turki mengumumkan kebijakan karantina wilayah. Tak hanya itu, asuransi juga berguna jika di tengah perjalanan wisatawan terdeteksi terpapar Covid-19.

Satu kali tes PCR disebut seharga 250 hingga 350 Lira atau setara Rp 460ribu hingga 650 ribu. Jika diketahui terpapar Covid-19 saat di tengah perjalanan, Kenan menyebut wisatawan bisa langsung menghubungi KJRI atau KBRI untuk diberikan bantuan.

"Yang paling bagus, sebelum datang harus punya asuransi. Kalau lockdown, semua ongkos ditanggung asuransi itu. Turki sudah buka semua pintu bagi wisatawan laur negeri," lanjutnya.

Terkait kondisi terkini pasca terjadi kenaikan jumlah kasusu terkonfirmasi Covid-19 di Turki, pemerintah melarang restoran melayani pelanggan yang makan di tempat. Semua pesanan harus dibawa pulang. Meski demikian, ia menyebut aturan ini hanya berlaku di Kota Istanbul.

Selain itu, bagi warga lokal dilarang keluar rumah di akhir pekan. Dengan adanya kebijakan ini, pelancong diharap dapat menikmati waktunya berwisata tanpa khawatir menghadapi keramaian.

Kenan mengaku jumlah wisatawan yang memakai jasanya kini berkurang drastis. Biasanya, dalam satu kelompok ia menemani 45 hingga 50 wisatawan. Kini, satu kelompok wisata dibatasi hanya 20-25 orang.

"Tapi ada baiknya juga, dengan kelompok kecil saya bisa lebih memantau. Lebih gampang diatur juga," kata dia.

Sejauh ini, ia menilai pelaku bisnis di Turki masih berjalan dengan lancar meski ada penurunan. Untuk tahun ini tercatat sudah ada 3,5 juta wisatawan mendatangi Turki yang kebanyakan berasal dari Rusia, Ukraina dan Indonesia.

Hagia Sophia, sebuah museum yang dialih fungsi sebagai masjid, menjadi lokasi wisata yang sangat diminati wisatawan Muslim, termasuk dari Indonesia. Kenan menyebut saat ini belum 100 persen bangunan ini siap digunakan untuk tempat shalat.

Beberapa ruangan di bangunan tersebut masih dipenuhi dengan gambar Yesus dan Bunda Maria. Tak hanya itu, hanya ruang inti yang sudah terpasang karpet dan bisa dipakai shalat.

"Shalat di lantai dua ke atas belum bisa. Belum semua tempat ditutup dengan karpet. Beberapa mozaik gambar Yesus atau Bunda Maria masih terlihat, belum ditutup kain," lanjutnya.

 

 

widget->kurs();?>