5 Jumadil Akhir 1442

Maradona, Palestina dan Simpatinya untuk Timur Tengah

Jumat , 27 Nov 2020, 18:27 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
Mantan pelatih timnas sepak bola Palestina, Jamal Mahmoud, membagikan foto pertemuan terakhirnya dengan Maradona
Mantan pelatih timnas sepak bola Palestina, Jamal Mahmoud, membagikan foto pertemuan terakhirnya dengan Maradona

IHRAM.CO.ID, ARGENTINA -- "Dalam hatiku, aku orang Palestina". Inilah yang terjadi saat Diego Maradona bertemu PM Palestina Mahmoud Abbas di FIFA 2018 Piala Dunia di Rusia dikutip dalam Twitter Middle East Eye, Jumat (27/11).

Dalam unggahan di twitter tersebut, terlihat Maradona masih sehat bugar saat berjumpa dengan Perdana Menteri Palestina, Mahmoud Abbas. Usai berpelukan, seketika Maradona mengungkapkan "Dalam hatiku, aku orang Palestina," seraya menunjuk kedalam dadanya. PM Palestina tentu saja menyambut ungkapannya dengan senyum hangat dan kembali memeluk sang legenda itu.

Di Timur Tengah ungkapan duka cita masih terus mengalir kepada sang legenda sepak bola Argentina. Maradona hingga di ujung hembusan napasnya masih setia mendukung rakyat Palestina. Maradona juga dielu-elukan sebagai seorang sosialis sayap kiri anti-imperialis yang telah mendukung gerakan-gerakan progresif dan mendukung Palestina. Maradona bahkan menyebut dirinya sebagai penggemar nomor satu rakyat Palestina.

Pada 2014 selama serangan Israel di Jalur Gaza, yang menewaskan lebih dari 2.200 warga Palestina, Maradona mengungkapkan kemarahannya dan menyindir Israel. Ia mengatakan pengeboman yang dilakukan Israel terhadap Palestina adalah hal memalukan.

Pada 2015, Maradona dikabarkan sedang bernegosiasi dengan Asosiasi Sepak Bola Palestina untuk melatih tim nasional Palestina selama Piala Asia AFC.

Penyair Palestina Mahmoud Darwish, yang menggambarkan sepak bola sebagai "arena ekspresi ... di penjara bawah tanah demokrasi Arab" dan "ruang bernafas yang memungkinkan negara yang runtuh untuk pulih di sekitar tempat umum", menulis sebuah artikel tentang pemain Argentina itu setelah final Piala Dunia 1986.

Dalam artikel tersebut, Darwish berbicara tentang masa kecil Maradona yang malang, kecintaannya pada sepak bola, dan pengorbanan ayahnya. Ia menggambarkan Maradona sebagai seseorang yang "Anda tidak akan menemukan darah di pembuluh darahnya, tetapi misil."

Mantan pelatih timnas sepak bola Palestina, Jamal Mahmoud, membagikan foto pertemuan terakhirnya dengan bintang yang diberi jersey tim sepak bola Palestina itu.

"Yang terbaik untuk menghibur dunia dengan sepak bola sudah tidak ada. Maradona menerima jersey tim nasional sepak bola Palestina di acara lama tempat saya bertemu dengannya," tulis Jamal Mahmoud di akun twitternya.

Juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri juga turut menyampaikan duka cita kepada keluarga Maradona dan penggemar di seluruh dunia. “Kami sangat sedih atas kematian salah satu pesepakbola terhebat, Maradona, yang dikenal atas dukungannya pada perjuangan #Palestina,” tulisnya .

Pada tahun ketujuh perang saudara Suriah, Maradona juga mengungkapkan pendapatnya tentang peran AS di Suriah. Bahkan dalam sebuah wawancara dia terang-terangan menyebutkan, “Anda tidak perlu kuliah untuk mengetahui bahwa Amerika Serikat ingin menghapus keberadaan Suriah. ”

Di kota Binnish, Suriah, di Provinsi Idlib, seniman Aziz Asmar memberi penghormatan dengan memasang mural untuk menghormati pesepakbola tersebut.

Sejumlah orang memberikan penghormatan kepada legenda sepak bola tersebut dengan mengingat kembali kunjungannya ke Tunisia pada 2015. Saat itu, Maradona bertemu dengan wasit Ali Bennaceur, yang pernah menjadi wasit pertandingan antara Argentina dan Inggris, dan menghadiahinya sebuah kaos bertuliskan “untuk teman abadiku Ali."

"Kami bersenang-senang, saya katakan padanya hari itu, bukan Argentina yang menang, tapi dia, Maradona," kata Bennaceur.

"Dia jenius, legenda sepak bola. Sebagai wasit, saya tidak membiarkan diri saya menutup mata bahkan sedetik pun saat mengikutinya, karena dia mampu melakukan apa saja," sambungnya lagi mengenang permainan Maradona.

Setahun setelah Piala Dunia, Maradona mengenakan seragam klub Saudi Al-Ahli di Jeddah untuk membantu merayakan ulang tahun ke-50 klub dalam pertandingan melawan Brondby dari Denmark, mencetak dua dari lima gol untuk mengamankan kemenangan Al-Ahli.

Klub memberikan penghormatan kepada pesepakbola tersebut di Twitter yang menggambarkannya sebagai "ikon sepak bola legendaris".

Maradona, yang mengalami masalah kesehatan setelah bertahun-tahun penyalahgunaan narkoba dan alkohol, juga mencetak gol untuk Argentina dalam pertandingan persahabatan melawan Maroko pada 1994, yang terbukti menjadi gol terakhirnya untuk negaranya setelah gagal dalam tes narkoba di Piala Dunia 1998

 

widget->kurs();?>