12 Jumadil Akhir 1442

Dongshin Park, Mualaf yang Temukan Makna Hidup di Islam

Sabtu , 05 Dec 2020, 07:25 WIB Reporter :Ratna Ajeng Tejomukti/ Redaktur : Elba Damhuri
Abdullah Dongshin Park
Abdullah Dongshin Park

IHRAM.CO.ID -- Di Islam, mualaf Korsel ini menemukan makna hidup.

Pria yang kini berusia 34 tahun ini berasal dari Busan, Korea Selatan. Dongshin Park, demikian namanya, terlahir dari keluarga yang taat beragama.

Ayah dan ibunya cukup religius dalam membesarkan buah hati mereka. Lelaki yang kini aktif sebagai youtuber itu pun mengenang masa kecilnya.

"Mereka mengajari saya banyak tentang agama, itulah sebabnya mereka ingin saya menjadi seorang pendeta atau biarawan sejak saya muda," ujar Dongshin dalam video yang diunggah di saluran @Abdullah Al-Kory, belum lama ini.

Baca Juga

Tak heran jika sejak kecil dirinya terus mendalami kitab suci agama itu. Ia juga berupaya menuruti kata-kata gurunya, yakni agar selalu menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Lelaki kelahiran tahun 1986 ini juga mendaftar di sebuah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai sekolah misionaris.

Seiring waktu, ia pun tumbuh menjadi seorang remaja yang kritis. Ia mulai merasakan keresahan pribadi, terutama sejak berada di sekolah menengah. Ia berpikir secara mendalam tentang ajaran dan kitab suci yang selama ini dibacanya.

Dalam berbagai kesempatan, ia pun sering bertanya kepada pemuka agama yang dihormati. Sebab, Dongshin merasa dirinya mulai ragu-ragu dengan berbagai doktrin yang ada.

"Saya terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa?" ujar dia.

Waktu itu, ia telah mengenal sedikit tentang Islam melalui berbagai bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan sekolah. Dalam Islam, ada penuturan tentang nabi-nabi, seperti Nabi Musa, Daud, Ibrahim, dan Isa AS. Dikatakan, semua utusan itu menyembah hanya kepada satu Tuhan. Ini berlainan dengan pernyataan kitabnya, yakni bahwa Isa adalah anak Allah. 

"Tetapi, Isa mengatakannya dengan jelas, 'Jangan katakan bahwa aku adalah Tuhan, kamu tidak bisa pergi ke surga karena mengatakan bahwa aku adalah Tuhan. Hanya mereka yang mengikuti firman Tuhan yang akan pergi ke Surga.' Isa menyatakan secara tegas bahwa dirinya bukan Allah. Dia mengatakan kepada orang- orang untuk tidak menyembahnya," kata Dongshin mengenang hasil pembacaannya kala itu.

Baginya, kesesuaian antara perkataan Nabi Isa dan ajaran Islam menimbulkan semacam keguncangan batin. Ia merasa dirinya harus menggali lebih dalam tentang agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini.

Melalui berbagai bacaan, Dongshin akhirnya mengetahui tentang beberapa aspek dasar dalam Islam. Sebagai contoh, Rukun Islam dan Rukun Iman. Ia pun akhirnya mengenal tentang ibadah shalat, yakni gerakan-gerakan doa yang disertai rukuk dan sujud.

Baginya, gerakan sujud itu sungguh-sungguh menandakan kepasrahan yang total dari seorang manusia kepada Penciptanya. Menurut buku-buku yang dibacanya, Nabi Isa pun selalu bersujud kala berdoa kepada Tuhan.

"Perasaanku waktu itu terasa berat sehingga aku pun berdoa, 'Ya Tuhan, jika Engkau ada di sana, tolong jawab doaku. Tolong katakan kepadaku apa alasan hidupku, apa kebenarannya? Tuhan, siapakah engkau? Tuntunlah aku agar sampai ke jalan kebenaran'," tutur dia.

Beberapa hari kemudian, Dongshin merasa mendapatkan keajaiban. Yang dimaksudkannya, ia menemukan suatu kalimat yang sangat menyentak pikiran dan hatinya. Kalimat itu ditemukan dalam suatu buku kecil tentang Islam. "Tidak ada Tuhan selain Allah, hanya Allah yang layak disembah," demikian bunyi kalimat itu.

Saat itu, ia perlu rehat sejenak dari membaca buku. Jeda untuk merenungi tentang apa yang telah diperolehnya selama ini. Ia merasa, kalimat tersebut begitu efektif dalam menegaskan kepercayaan akan Tuhan Yang Maha Esa. Baginya, inilah kebenaran yang tak terbantahkan.

Pada 30 Desember 2009, Dongshin Park kemudian memeluk Islam. Ikrar syahadat diucapkannya di hadapan imam dan sejumlah jamaah masjid di Korea Selatan. Baginya, menjadi seorang Muslim tak ada urusan dengan mencari simpati. Sebab, ia menyadari, Islam-lah jalan kebenaran sejati.

"Sekarang, saya telah menemukan makna hidup saya. Seperti yang Anda ketahui, firman-Nya dalam Alquran, 'Dan tidaklah Aku (Allah)menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah'," jelas dia.

Menjadi qari

Tujuan hidup manusia sudah ditetapkan-Nya. Dongshin mengatakan, sejak memeluk Islam dirinya akhirnya menyadari alasan dilahirkan di dunia ini. Dan, kesadaran itu membuatnya kini menjadi orang yang berbahagia. Setelah menjadi mualaf, ia memutuskan untuk memakai nama baru: Abdullah.

Abdullah Dongshin Park tidak setengah-setengah dalam memeluk Islam. Dia terus memperdalam belajar ilmu agama, baik dari segi ibadah ritual maupun akhlak islami. Bahkan pada 2010, Abdullah mendapat juara pertama kompetisi membaca Alquran yang diselenggarakan pihak Masjid Pusat Seoul.

Setelah memenangkan ajang qari nasional di Korea Selatan, Abdullah mulai melakukan perjalanan dari satu majelis ke majelis ilmu lainnya. Akan tetapi, ahli-ahli agama Islam di Korea Selatan cukup terbatas. Maka, Dongshin pun mulai berkelana ke mancanegara.

Pada 27 Januari 2012, ia tiba di Arab Saudi. Setelah menunaikan haji di Tanah Suci, ia pun memulai pengembaraannya dalam menuntut ilmu. Di Amman, Yordania, ia mengikuti kursus bahasa Arab. Dengan bekal kemampuan bahasa itu, ia pun mendaftar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Akhirnya, ia lulus dengan baik. Sejak saat itu, namanya disapa orang-orang dengan sebutan Abdullah al-Kory (Abdullah dari Korea).

"Setelah saya selesai menempuh pendidikan di sana, saya berharap dapat memberikan lebih banyak untuk dakwah tentang Islam kepada masyarakat Korea," ujarnya.

Di kampung halamannya, Abdullah mendirikan Masjid Al Salam Incheon. Dirinya menjadi imam sekaligus qari setempat. Bagaimanapun, lanjut dia, tantangan dakwah di Negeri Gingseng tidaklah mudah.

Ia dan rekan-rekannya sesama dai saling mendukung dan bekerja sama. Bersama dengan mereka, Abdullah mulai merintis proyek K-Quran di Alkory TV. Inilah program pembelajaran Alquran yang dilakukan melalui saluran YouTube. Dengan begitu, masyarakat Korea Selatan di manapun berada dapat mengenal dan mempelajari Kitabullah.

Ia telah menikah. Istrinya, Ola Ahmed, berasal dari Mesir. Pasangannya itu pun terus mendukung perjuangan dakwah. Di Korea Selatan, Ola membuka kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pada saat momen liburan musim panas, Abdullah dan Ola kadangkala menjadi pemandu wisata bagi para turis Arab yang berlibur di Korea Selatan. Pekerjaan sebagai tour guide halal itu kini tertunda lantaran pandemi Covid-19.

Bersyukur

Satu hal yang begitu disyukurinya ialah keislaman ibundanya. Ya, itu terjadi atas hidayah Allah SWT. Abdullah menuturkan, waktu ia pertama kali mengucapkan dua kalimat syahadat, kedua orang tuanya tak langsung diberi tahu.

Hingga akhirnya, ia mengungkapkan keputusannya memeluk Islam kepada ayahnya. Bapaknya sempat terkejut. Bahkan, Abdullah dilarangnya untuk terus menjadi Muslim sebab dirinya khawatir buah hatinya itu akan menjadi teroris.

Waktu itu, Abdullah merasa sedih. Sebab, orang-orang terdekatnya mudah terpengaruh berbagai hoaks dan labelling yang buruk tentang Islam. Ia pun menjelaskan kepada ayahnya, ajaran agama ini justru menentang kekerasan dan terorisme. Lebih lanjut, ia menerangkan tentang keterkaitan ajaran Islam dengan Nabi Isa --sosok yang begitu dihormati dalam ajaran agama ayahnya.

Dia berharap, ayahnya dapat menerima keislamannya. Akan tetapi, tepat sebelum Abdullah kembali dari Mesir, ayahnya telah meninggal dunia.

Sebaliknya dari sang ayah, ibundanya menerima Abdullah dengan tangan terbuka. Ia pun memperkenalkannya kepada Islam. Setelah beberapa lama, sosok yang dicintainya itu lantas mengikuti jejaknya, memeluk agama Islam. Ia sangat bersyukur begitu mendengar kabar tersebut.

BACA JUGA: Beda Perlakuan Proses Hukum Ustadz Maaher dan Denny Siregar, Ini Pembelaan Polisi

 

widget->kurs();?>