Regulator Kesehatan Brasil Tolak Vaksin Sputnik

Selasa , 27 Apr 2021, 23:53 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Regulator Kesehatan Brasil Tolak Vaksin Sputnik. Seorang petugas kesehatan memegang jarum suntik vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat seorang wanita menunggu untuk mendapatkan suntikan pertamanya di quilombo Kalunga Vao de Almas di pinggiran Cavalcante, negara bagian Goias, Brasil, Selasa, 16 Maret 2021.
Regulator Kesehatan Brasil Tolak Vaksin Sputnik. Seorang petugas kesehatan memegang jarum suntik vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat seorang wanita menunggu untuk mendapatkan suntikan pertamanya di quilombo Kalunga Vao de Almas di pinggiran Cavalcante, negara bagian Goias, Brasil, Selasa, 16 Maret 2021.

IHRAM.CO.ID, BRASILIA -- Regulator kesehatan Brasil, Anvisa, pada Senin (26/4) menolak impor vaksin Covid-19 Sputnik V buatan Rusia. Sebelumnya, para gubernur negara bagian mengajukan permintaan izin impor vaksin tersebut dalam upaya melawan gelombang kedua virus corona yang mematikan di negara terbesar Amerika Latin itu.

 

Terkait

Dewan Anvisa yang beranggotakan lima orang itu sepakat tidak menyetujui vaksin Rusia setelah staf teknis menyoroti risiko bawaan dan kecacatan serius, merujuk pada informasi yang menjamin keamanan, kualitas, dan keefektifannya.

Baca Juga

Manajer umum untuk pengawasan kesehatan, Ana Carolina Moreira Marino Araujo, mengatakan setelah pertimbangan terkait dokumentasi yang diberikan, data yang dikumpulkan dalam inspeksi langsung dan informasi dari regulator lain, risiko bawaan yang ada terlalu besar.

Isu yang begitu krusial adalah kehadiran adenovirus di dalam vaksin yang dapat bereproduksi, sebuah kecacatan serius, menurut manajer produk biologis dan obat-obatan Anvisa, Gustavo Mendes. Suntikan Sputnik V telah disetujui di sejumlah negara di dunia.

Para ilmuwan Rusia mengatakan vaksin itu 97,6 persen efektif melawan COVID-19 dalam penilaian dunia nyata berdasarkan data dari 3,8 juta orang, kata Institut Gamaleya Moskow dan Dana Investasi Langsung Rusia pekan lalu. Meski demikian, sama seperti Anvisa, Uni Eropa belum menyetujui vaksin tersebut, mengatakan dibutuhkan lebih banyak informasi terkait proses uji coba dan manufakturnya.

Program vaksinasi Brasil telah dikacaukan oleh penundaan dan sejumlah kegagalan pembelian, menjadikan negara tersebut sebagai salah satu zona merah Covid-19 paling mematikan tahun ini dan mendorong sistem kesehatan nasional ke ambang keruntuhan.

Sejauh ini, 27,3 juta orang di Brasil, sekitar 13 persen dari populasi, telah menerima dosis pertama, menurut data kementerian kesehatan. Brasil telah melaporkan 14,4 juta kasus virus corona yang terkonfirmasi dan hampir 400 ribu kematian sejak pandemi dimulai lebih dari satu tahun yang lalu, kebanyakan dalam beberapa bulan terakhir.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini