Jumat 30 Apr 2021 22:43 WIB

Survei KIC: Marketplace Bantu UMKM Bertahan di Masa Pandemi

Pelaku UMKM yang beralih ke marketplace memiliki proporsi paling besar.

Belanja daring (ilustrasi).
Foto: Needpix
Belanja daring (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengalami penurunan penjualan dan omzet selama pandemi Covid-19. Namun, kehadiran online marketplace di Indonesia telah melahirkan pelaku usaha baru, membantu UMKM bertahan selama pandemi, hingga membuka peluang bagi pelaku usaha menembus pasar ekspor.

Peran marketplace terhadap UMKM tersebut tercermin dalam hasil survei Katadata Insight Center (KIC) berjudul "MSME Study Report 2021: Peran Marketplace bagi UMKM". Survei ini dilakukan terhadap 392 UMKM di sejumlah kota di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Medan pada periode 24 Maret hingga 9 April 2021.

Hasil survei menunjukkan adanya pandemi selama lebih dari satu tahun terakhir ini telah berdampak pada penurunan volume penjualan dan omzet bisnis offline. Penurunan penjualan offline ini dialami lebih dari 70% UMKM. Akibatnya, UMKM yang sebelum pandemi hanya berjualan offline mulai beralih membuka usaha online pada masa pandemi.

“Beberapa pelaku usaha bahkan menutup usaha offline, beralih ke online atau setidaknya memadukan penjualan offline dengan online,” kata Manajer Survei Katadata Insight Center (KIC), Vivi Zabkie di Jakarta, Jumat (30/4).

Berdasarkan kanal penjualan, perbandingan pada masa pandemi dan sebelum pandemi, pelaku UMKM yang beralih ke marketplace memiliki proporsi paling besar, diikuti peralihan ke media sosial (Instagram, Facebook dan sebagainya), website serta aplikasi lainnya.

Sebanyak 72% pelaku UMKM yang disurvei merasakan manfaat utama dari berjualan di marketplace berupa meluasnya jaringan pasar, lalu 68% merasakan keamanan bertransaksi, serta 65% mendapat kemudahan berinteraksi dengan pelanggan secara online dan melayani mereka secara real time (65%).

Lalu, sebanyak 54% UMKM yang disurvei menjawab dengan adanya marketplace bisa menghemat biaya promosi, 48% mendapat manfaat peningkatan omzet, 29% lebih kompetitif serta 19% mengaku mendapat kemudahan untuk mengakses pasar ekspor.

Sementara itu, 57% UMKM yang disurvei menjawab menghasilkan omzet atau nilai penjualan terbesar berasal dari Shopee, 28% dari Tokopedia, 6% Lazada, 3% Bukalapak, 2% Blibli dan 3% dari marketplace lainnya.

Selain mendapatkan eksposur atau jaringan usaha lebih luas (77%), hasil survei juga menunjukkan alasan UMKM bergabung ke marketplace. Sebanyak 70% responden menilai platform online praktis serta bisa menjalankan usaha dimana saja. Kemudian 69% responden juga menjawab marketplace memiliki banyak promo, serta gratis ongkir untuk menarik konsumen.

Dari semua program promosi di marketplace, gratis ongkos kirim (ongkir) dianggap paling membantu bisnis UMKM (50%), diikuti program diskon (38%). Adapun ketika berjualan di marketplace, terdapat 66% responden yang memberikan promosi gratis ongkir di tokonya, diikuti 57% yang memberikan diskon, 32% memberikan cashback, 18% flash sale dan 8% tidak memberikan promosi apapun di tokonya.

Sedangkan dari seluruh program yang pelaku UMKM ikuti di marketplace, promosi hari khusus dari Shopee (seperti Shopee 12.12, Shopee 3.3, Gajian Sale) dinilai 50% responden paling membantu di masa pandemi. 

Promosi khusus dari Tokopedia seperti Waktu Indonesia Belanja juga dinilai 12% responden turut membantu, Bukalapak-Diskon cashback untuk pelanggan fitur super seller 5% dan Lazada-hari promosi khusus (Lazada 12.12, dan Lazada 3.3) sebanyak 4%.

Dengan beragam dukungan tersebut, kehadiran marketplace di Indonesia berperan penting mendukung pertumbuhan bisnis UMKM.

“Hal ini sebagaimana yang tercermin dari jawaban responden, dari skala 1-10 rata-rata memberi nilai 8 terkait besarnya peran marketplace dalam membantu UMKM bertahan di masa pandemi,” ujar Vivi. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement