Jalur Dagang Menjadi Inspirasi Nabi Muhammad Rancang Nabawi

Jumat , 11 Jun 2021, 18:30 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Jalur Dagang Menjadi Inspirasi Rasulullah Rancang Nabawi. Foto: Masjid Nabawi tempo dulu.
Jalur Dagang Menjadi Inspirasi Rasulullah Rancang Nabawi. Foto: Masjid Nabawi tempo dulu.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA--Masjid Nabawi menjadi saksi perjuangan Nabi Muhammad SAW mendidik para sahabatnya untuk menjadi seorang Muslim yang tangguh. Jalur dagang yang dilewati Rasulullah menginspirasi model bangunan masjid Nabawi kala itu.

 

Terkait

Prof Dr Husain Mun'is dalam karyanya 'Al-masajid', mangatakan bahwa Rasulullah telah memiliki pengetahuan tentang berbagai bentuk gereja dan sinagog yang beliau temui selama perjalanan kedua beliau ke Syam.

Baca Juga

Ketika itu Rasulullah membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid. Kala itu beliau berusia 24 tahun dan didampingi hamba sahaya Khadijah bernama Maisarah.

"Ketika merancang pembangunan masjid Nabawi, beliau tak terpengaruh sama sekali dengan bentuk-bentuk bangunan itu. Bentuk dan rancangan bangunan masjid tersebut berdasarkan Ilham semata," katanya.

Ahmad Rofi Usmani dalam bukunya Makkah dan Madinah menuliskan, ketika Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi itu beberapa lama selepas kehijriahan beliau ke Madinah. Pembangunan masjid itu berlangsung sekitar dua bulan dan rampung pada 622 Masehi.

Luas Masjid Nabawi yang dibangun Rasulullah SAW kalau itu cukup luas. Pada awalnya luasnya adalah 70 × 63 hasta. Atap masjid tersebut disangga dua barisan batang pohon kurma, setiap barisan terdiri dari enam batang pohon kurma, tiga di sebelah kanan dan tiga di sebelah kiri.

Masjid ini kemudian diperluas, 10 hasta pada lebarnya dan 20 hasta pada panjangnya. Jumlah batang kurma di tambah dia di sisi lebarnya. Sedangkan pada atap sebelah utara dan selatan ditambah satu baris batang pohon kurma. Dengan kata lain, pada tahun-tahun kehidupan beliau, masjid Nabawi memiliki luas 5.670 hasta persegi atau sekitar 2.475 meter persegi.

"Ukuran Masjid Nabawi tersebut cukup representative untuk sebuah masjid raya," katanya.

Apalagi di Madinah telah dibangun pula sejumlah masjid. Menurut catatan sejarah, kalau itu di kota nabi telah ada 20 masjid. Sebagian di antara masjid-masjid itu dibangun di pinggiran pinggiran kota dan sebagian yang lain di perumahan suku-suku.

"Dengan kata lain Masjid Nabawi merupakan masjid raya bagi masyarakat Islam yang baru berkembang," katanya.

Di sebelah tenggara shahn (ruang terbuka di dalam) masjid Nabawi, Rasulullah SAW mendirikan kamar-kamar yang dijadikan tempat tinggal beliau bersama para istri.

Beberapa ahli arkeologi berpendapat, kamar-kamar tersebut dibangun di luar masjid, tetapi menempel di dindingnya.

Namun kata Ahmad Rofi, pendapat tersebut tidak tepat, sebab, berdasarkan bukti-bukti kuat yang ada, pintu kamar kamar beliau berada di dalam masjid ke arah sebelah kiri bagian dalam dari pintu Abu Bakar al-shiddiq. Lagipula kamar-kamar tersebut tak memiliki daun pintu  yang menutup bagian dalam, sehingga tampak dari luar.

"Hal itu tak akan demikian, kecuali jika kamar-kamar tersebut berada di tembok-tembok mesjid," katanya.

Selain itu, seperti diketahui, beliau senantiasa bertemu dengan para sahabat di luar kamar-kamar tersebut, tepatnya di shahn masjid. Tembok-tembok masjid Nabawi kala itu hanya memiliki beberapa pintu. Salah satunya adalah pintu Abu Bakar al-shiddiq berdampingan dengan kamar tempat beliau tempat menetap beliau.

"Di masjid itulah salat berjamaah dilaksanakan," katanya

Di masjid itu kata Ahmad Rofi Usmani Rasulullah bertemu dengan para sahabat dan orang-orang yang ingin menemuinya.  Setiap saat di Masjid Nabawi penuh oleh para sahabat, mereka mendekat kepada Rasulullah untuk mendengar nasihat, muzakarah dan meminta solusi atas persoalan yang terjadi.

"Masjid Nabawi kala itu telah menjadi pusat rohaniah, pemikiran, dan politik masyarakat Islam serta simbol kesatuan," katanya