Indonesia Harus Serius Tangani Covid-19 Sebelum Haji 2022

Senin , 14 Jun 2021, 17:17 WIB Reporter :Fuji E Permana/ Redaktur : Ani Nursalikah
Indonesia Harus Serius Tangani Covid-19 Sebelum Haji 2022. Jamaah haji berjalan menuju lokasi lempar jumrah di Mina, Selasa (13/8).
Indonesia Harus Serius Tangani Covid-19 Sebelum Haji 2022. Jamaah haji berjalan menuju lokasi lempar jumrah di Mina, Selasa (13/8).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto mengingatkan semua pihak serius menangani pandemi Covid-19 sebelum musim haji 1443 H/ 2022 M. Yandri juga menilai penyelenggaraan haji tahun depan tergantung pada penanganan Covid-19 di Tanah Air dan di Arab Saudi.

 

Terkait

Yandri menjelaskan, untuk penyelenggaraan haji tahun depan, penting melakukan persiapan di dalam negeri dan di Arab Saudi. Di dalam negeri, faktor penunjang pelayanan haji harus lebih ditingkatkan, seperti asrama haji, manasik haji dan vaksinasi haji.

Baca Juga

"Tapi yang paling penting menurut saya, keseriusan bangsa Indonesia ini atau pemerintah termasuk rakyat kita ini untuk menangani Covid-19, karena itu inti masalah selama ini," kata Yandri kepada Republika.co.id, Senin (14/6). 

Ia mengingatkan, jangan sampai nanti Arab Saudi menafsirkan Indonesia tidak serius menangani Covid-19. Hal ini bisa mengakibatkan tidak mendapatkan kuota haji.

Ia mengatakan, Arab Saudi juga jangan sampai merasa khawatir kalau jamaah dari negara lain masuk ke Arab Saudi akan terpapar Covid-19. Jadi, Arab Saudi dan Indonesia harus sama-sama serius menangani Covid-19.

Yandri juga menyampaikan dalam waktu dekat yang harus dilakukan pemerintah Indonesia adalah melobi pemerintah Arab Saudi supaya larangan terbang dicabut. Hal ini sehingga jamaah umroh Indonesia bisa terbang ke Tanah Suci untuk mengobati rasa rindu ke Tanah Suci.

"Itu penting membangun kepercayaan seperti itu dengan Arab Saudi, disamping itu komisi delapan (DPR RI) juga akan bersungguh-sungguh persiapkan haji lebih awal dan lebih siap," ujarnya.

Yandri menegaskan, terkait penyelenggaraan haji tahun depan tidak bisa bergantung pada satu pihak saja, misalnya pemerintah Indonesia. Ini juga bergantung kepada pemerintah Arab Saudi.

"Kalau Arab Saudi aman dari Covid-19, Insya Allah, kita bisa mendapat kuota (haji) dengan maksimal. Tapi kalau Indonesia dianggap tidak aman dari Covid-19, Saudi juga tidak mau. Sebaliknya, kalau di Saudi Covid-19 merajalela seperti di India, kita juga tidak mau kirim jamaah (haji), jadi dua-duanya saling terkait," kata Yandri.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini