Upaya Sayap Kanan India Terus Berusaha Runtuhkan Masjid

Selasa , 15 Jun 2021, 15:00 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Para demontran saya kanan Hindu berada di kubah masjid Babri pada beberapa tahun lalu saat meminta masjid ini dibongkar. (ilustrasi)
Para demontran saya kanan Hindu berada di kubah masjid Babri pada beberapa tahun lalu saat meminta masjid ini dibongkar. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI – Bagi Aktivis Negara Bagian Uttar Pradesh (UP), Muniza Khan, permohonan terbaru di pengadilan untuk menyelidiki asal-usul tiga masjid menjadi bab buruk dalam politik India. “Masjid-masjid kali ini tidak boleh dirobohkan seperti Masjid Babri,” kata Khan.

 

Terkait

Sebuah masjid era Mughal abad ke-16, Masjid Babri, dihancurkan oleh umat Hindu pada musim dingin tahun 1992. Pembongkaran tersebut memicu perselisihan hukum selama beberapa dekade dengan kelompok Hindu sayap kanan yang mengklaim Raja Mughal Babur menghancurkan sebuah kuil Hindu Dewa Ram dan menggantinya dengan masjid.

Perselisihan hukum berakhir pada 2019 ketika Mahkamah Agung India menyerahkan seluruh tanah yang disengketakan seluas 2,77 hektare di Ayodhya kepada komunitas Hindu. Ini memungkinkan pembangunan kuil yang didedikasikan untuk Dewa Ram.

“Menyusul putusan Babri, partai-partai politik sadar jika opini publik dapat digoyahkan ke satu arah, pengadilan akan cukup gugup untuk melawan massa karena dapat memicu kerusuhan,” ujar dia.

After Babri Masjid, India's far-right seeks to raze several other mosques

Keterangan foto: Impian banyak orang Hindu India adalah melihat kuil dewa Hindu Ram yang akan didirikan di lokasi yang dulunya adalah Masjid Babri di Ayodhya. Mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan ketika pengadilan tinggi negara itu memberi lampu hijau untuk pembangunannya pada tahun 2019.

Peran sejarawan

Advokat Mahkamah Agung, Wisnu Jain (35 tahun), mengatakan jumlah masjid dan monumen yang disengketakan di seluruh India sekitar 50. Misi Jain adalah untuk menantang legalitas masjid yang disengketakan karena ia percaya banyak masjid dibangun dengan menghancurkan kuil-kuil Hindu. Permohonan terbaru didasarkan pada temuan Sejarawan India, Jadunath Sarkar, pada awal abad ke-20.

Dua pengamatan Sarkar menyoroti dua masjid UP, yakni Shahi Idgah di Mathura dan Jahanara atau Jama di Agra. Ini membentuk dua permohonan Jain yang menantang legalitas masjid. Masjid Shahi Idgah yang tanahnya seluas 13,37 hektare diduga dibangun di atas tanah tempat Dewa Hindu Krishna lahir. Dalam karya lain, Anecdotes of Aurangzib and Historical Essay (1917), Sarkar menegaskan, kuil Mathura tempat Dewa Hindu Krishna lahir diratakan demi pembangunan Masjid Jahanara.