Satgas Covid-19 Kota Yogya Sebut Lockdown Jadi Warning Keras

Sabtu , 19 Jun 2021, 20:42 WIB Reporter : Silvy Dian Setiawan / Redaktur : Muhammad Subarkah
Anak-anak mengikuti pengambilan sampel tes Covid-19 dengan swab antigen massal di Turi, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/6).
Anak-anak mengikuti pengambilan sampel tes Covid-19 dengan swab antigen massal di Turi, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/6).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta menyebut wacana lockdown menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat untuk mengurangi lonjakan kasus positif Covid-19. Wacana lockdown saat ini dipertimbangkan oleh Pemda DIY sebagai langkah satu-satunya menekan lonjakan kasus yang bahkan mencapai lebih dari 500 kasus per hari di seluruh kabupaten/kota se-DIY. 

 

Terkait

"Wacana lockdown bisa menjadi warning (peringatan) keras bagi kita semua agar ada perubahan untuk mengurangi peningkatan sebaran Covid-19," kata Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi dalam pesan tertulisnya kepada wartawan, Jumat (18/6) malam. 

Heroe menegaskan, opsi lockdown dikeluarkan karena kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya sudah tidak efektif. Pasalnya, kasus Covid-19 naik ketika pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro dilakukan. 

Bahkan, kata Heroe, selama PPKM mikro penindakan terhadap pelanggar protokol kesehatan pencegahan Covid-19 juga dilakukan dengan ketat. Begitu pun dengan berbagai sosialisasi hingga berbagai pembatasan interaksi dan aktivitas warga mulai dari tingkat RT/RW juga sudah dilakukan. 

"Upaya-upaya agar kerumunan warga tidak terjadi di tempat layanan umum atau destinasi wisata dan upaya lain sudah dilakukan. Tetapi jika hasilnya masih tidak optimal, kasus masih terus berkembang dan pelaksanaan prokes masih diabaikan, maka ya wacana lockdown," ujarnya. 

Dilihat dari keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di Kota Yogyakarta sudah cukup tinggi, walaupun Heroe mengklaim masih mencukupi. Untuk BOR ICU (critical), katanya, sudah terisi 85 persen. 

Sedangkan, untuk BOR isolasi (non critical) sudah terisi 69 persen. Untuk shelter penanganan Covid-19 juga sudah terisi 84 persen dengan 12 kamar masih dalam perbaikan. 

"Saat ini masih tercukupi (BOR), meskipun sudah cukup mengkhawatirkan. Sebab Kota Yogyakarta sebagai ibu kota provinsi yang banyak rumah sakitnya menjadi rujukan dari kabupaten-kabupaten lainnya. Maka otomatis akan menanggung lonjakan dari daerah sekitar, Kota Yogya ada delapan rumah sakit yang menjadi rawat inap bagi Covid-19," jelas Heroe. 

Untuk menekan lonjakan kasus Covid-19 ini, Heroe menegaskan agar masyarakat bekerja sama dalam menjalankan protokol kesehatan. Sebab, kata Heroe, pelaksanaan protokol kesehatan dengan disiplin menjadi upaya utama untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. 

"Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menghentikan sebaran Covid-19. Protokol kesehatan mutlak harus dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun," katanya.