Ahad 20 Jun 2021 06:19 WIB

Cerita Dokter yang Tangani Putri Diana dari Kecelakaan Maut

Untuk pertama kalinya dokter yang menangani Putri Diana buka suara.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah
Untuk pertama kalinya dokter yang menangani Putri Diana buka suara.
Foto: Huffington post
Untuk pertama kalinya dokter yang menangani Putri Diana buka suara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 31 Agustus 1997, seorang dokter muda memikul beban yang besar untuk menyelamatkan nyawa Putri Diana yang baru saja mengalami kecelakaan mobil. Akan tetapi, kisah mengenai sang dokter tak banyak diketahui hingga saat ini.

Dokter bernama Monsef Dahman itu sedang bertugas sebagai dokter bedah umum muda di Pitie-Salpetriere Hospitals, Paris. Panggilan gawat darurat untuk menangani pasien perempuan korban kecelakaan datang ketika Dr Dahman sedang beristirahat di ruang tugas.

Baca Juga

"Saya mendapatkan panggilan dari Bruno Riou, dokter spesialis anastesi senior, meminta saya untuk ke ruang gawat darurat," papar Dr Dahman, seperti dilansir Independent, Ahad (20/6).

Saat itu, Dr Dahman belum mengetahui bahwa pasien yang akan dia tangani adalah Putri Diana. Dr Dahman hanya mengetahui bahwa pasien yang akan dia tangani merupakan seorang perempuan muda.

"Saya tak diberitahu bahwa itu Lady Diana, tetapi (hanya diberitahu) bahwa ada kecelakaan serius yang melibatkan seorang perempuan muda," lanjut Dr Dahman.

Dr Dahman mengatakan organisasi di rumah sakit tersebut sangat hierarkis. Panggilan yang datang dari kolega dengan posisi lebih tinggi menunjukkan keseriusan sebuah kasus.

Dr Dahman yang kala itu berusia 33 tahun baru menyadari betapa seriusnya kasus yang akan dia tangani sesaat setelah tiba di IGD. Saat itu, Dr Dahman melihat Profesor Riou sedang menangani langsung pasien perempuan yang disebutkan dalam telepon.

"Perlu waktu beberapa saat bagi saya untuk melihat situasi tak biasa ini dengan lebih jelas," jelas Dr Dahman.

Dr Dahman menolak untuk memberikan gambaran rinci terkait perawatan yang diberikan kepada Putri Diana. Akan tetapi, Dr Dahman mengatakan hasil pemindaian X-ray menunjukkan bahwa ibu dari Pangeran William dan Harry tersebut mengalami peradarahan internal yang serius.

Kondisi tersebut membuat Putri Diana harus melalui sebuah prosedur untuk membantu mengeluarkan kelebihan cairan dari rongga dadanya. Putri Diana juga menjalani transfusi darah selama perawatan.

Akan tetapi, Putri Diana yang saat itu berusia 36 tahun mengalami henti jantung pada pukul 2.15 dini hari. Putri Diana sempat mendapatkan pertolongan berupa pijat jantung eksternal dan operasi darurat saat masih terbaring pada stretcher di instalasi gawat darurat.

"Saya melakukan (prosedur) ini untuk memungkinkannya bernapas. Jantungnya tak bisa berfungsi dengan baik karena kekurangan darah," jelas Dr Dahman.

Operasi berhasil menunjukkan bahwa Putri Diana mengalami sobekan signifikan pada perikardium. Padahal, perikardium berfungsi untuk melindungi jantung.

Dr Dahman mengatakan ketidakmampuannya untuk menyelamatkan Putri Diana memberikan dampak yang sangat besar bagi dirinya. Dr Dahman memutuskan untuk membuka suara saat ini untuk meluruskan teori-teori konspirasi yang tak benar seputar kematian Putri Diana. Dr Dahman memastikan bahwa semua hal telah dicoba sebaik mungkin untuk bisa menyelamatkan sang putri.

"Tak ada strategi lain yang dapat mempengaruhi hasil akhirnya," pungkas Dr Dahman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement