Pesepak Bola Muslimah Prancis Lawan Larangan Hijab

Selasa , 22 Jun 2021, 12:38 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Pesepakbola Muslimah
Pesepakbola Muslimah

IHRAM.CO.ID, PARIS -- Founé Diawara berusia 15 tahun saat dia pertama kali diberitahu dia tidak bisa mengenakan jilbabnya dalam pertandingan sepak bola. Bagi Diawara, sepak bola adalah hal penting di hidupnya. Dia masuk tim sepak bola di Meaux, kota timur laut Paris. Selama latihan, dia selalu mengenakan jilbabnya. Namun, saat dia mau bertanding, wasit mengatakan dia harus melepaskan jilbab.

 

Terkait

Badan pengatur sepak bola di Prancis atau Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), melarang wanita mengenakan jilbab di pertandingan resmi klub dan selama pertandingan internasional. Ini adalah aturan yang tidak sejalan dengan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) yang mencabut larangan hijab pada tahun 2014.

Mendengar tanggapan wasitnya, Diawara menolak untuk melepaskan jilbabnya. “Jilbab adalah sesuatu yang saya pilih untuk dipakai, sesuai dengan agama saya,” kata Diawara. Wasit menolak untuk mengalah dan akhirnya Diawara harus menghabiskan pertandingan di bangku cadangan. Dia menyaksikan timnya bermain tanpa dirinya.

Sekarang umur Diawara sudah 21 tahun dan sedang menempuh pendidikan magister di Paris. Dia mengungkapkan perasaannya saat itu yang membuat dia marah. “Saya terjebak antara hasrat saya untuk sepak bola dan sesuatu yang merupakan bagian besar dari identitas saya. Sepertinya mereka mencoba memberi tahu saya bahwa saya harus memilih di antara keduanya,” ucap dia.

Agar bisa memenuhi hobi sepak bola dan identitas agamanya tidak hilang, ia menjadi Wakil Les Hijabeuses, sekelompok pesepak bola wanita muda berhijab yang berkampanye menentang larangan FFF. Dibentuk pada Mei 2020 oleh pengorganisir komunitas dari Aliansi Warga yang berkampanye melawan ketidakadilan sosial di Prancis, Hijabeuses yang berbasis di Paris kini memiliki lebih dari 100 anggota.

Mereka bermain sepak bola bersama yang terhubung dengan tim lain di seluruh Prancis dan mengadakan sesi pelatihan untuk mendorong wanita muda berhijab masuk ke klub sepak bola. Salah seorang anggota, Hawa Doucouré (19 tahun) yang belajar ilmu komputer di universitas mengatakan Les Hijabeuses sudah seperti keluarga.

“Sepak bola selalu menjadi bagian besar dalam hidup saya. Sebagai wanita, kemampuan sepak bola saya tidak pernah berkembang. Jadi, saat saya menemukan Hijabeuses, saya lebih mudah melatih kemampuan saya,” ujar dia.

Dikutip The Guardian, Selasa (22/6), bagi banyak anggota, Les Hijabeuses terasa seperti tempat perlindungan. Karthoum Dembélé seorang siswa berusia 18 tahun di bidang komunikasi digital bergabung untuk menjadi bagian dari kampanye dan bermain dengan bebas tanpa takut terhadap apa pun. Kakak laki-lakinya adalah orang yang memicu minatnya pada sepak bola.

“Saya pikir jika dia bisa bermain, saya juga bisa. Saya menyukai segala sesuatu tentang sepak bola. Saya suka kompetisi dan saya suka menang. Saya suka berbagi semua emosi ini bersama-sama,” ucap dia.

Dembélé menggambarkan Les Hijabeuses sebagai ruang aman baginya. “Ada banyak kebaikan di antara semua pemain. Kami banyak berbagi, kami banyak tertawa,” tambah dia.

Dalam dua dasawarsa terakhir, sudah termanifestasi pelarangan simbol agama, termasuk pelarangan hijab di sekolah negeri. Pada tahun 2011, Prancis menjadi negara Eropa pertama yang melarang wanita mengenakan niqab atau kerudung seluruh wajah di luar rumah mereka.

Sebuah RUU kontroversial melalui parlemen diterbitkan yang mencakup larangan perempuan di bawah usia 18 tahun mengenakan jilbab di tempat umum. Para kritikus berpendapat bahwa undang-undang tersebut akan membatasi kebebasan sipil dan semakin menstigmatisasi sekitar 5,7 juta Muslim Prancis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini