Kalah di Final Euro 2020, Tim Inggris Terkena Rasisme

Senin , 12 Jul 2021, 18:40 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Reaksi penyerang Inggris Marcus Rashford setelah dia gagal mencetak gol dalam adu penalti
Reaksi penyerang Inggris Marcus Rashford setelah dia gagal mencetak gol dalam adu penalti

IHRAM.CO.ID, Asosiasi Sepak Bola Inggris dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengutuk pelecehan rasis melalui online terhadap pemain menyusul kekalahan adu penalti tim dari Italia di final Euro 2020.

 

Terkait

Pada hari Ahad Malam (Senin dihari di Indonesia, 11/7), kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu pertandingan normal. Namun, setelah perpanjangan waktu dan kemudian terjadi adu penalti, Italia memenangkan dengan skor 3-2. Pemain Inggris berkulit hitam, Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka, gagal mencetal skor dalam tendangan penalti.

"FA mengutuk keras segala bentuk diskriminasi dan terkejut dengan rasisme online yang ditujukan kepada beberapa pemain Inggris kami di media sosial," demikian pernyataan yang diposting FA pada Senin dini hari. “

"Kami tidak dapat menjelaskan bahwa siapa pun di balik perilaku menjijikkan seperti itu tidak diterima untuk mengikuti tim. Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mendukung para pemain yang terkena dampak sambil mendesak hukuman seberat mungkin bagi siapa pun yang bertanggung jawab,” lanjutnya.

Tim Inggris juga merilis pernyataan mengutuk pelecehan yang ditujukan kepada para pemainnya di media sosial. “Kami merasa jijik bahwa beberapa skuat kami – yang telah memberikan segalanya untuk timnas pada musim panas ini – telah menjadi sasaran pelecehan diskriminatif secara online setelah pertandingan malam ini,” cuit tim tersebut.

photo

Bukayo Saka dari Inggris terlihat sedih setelah kalah dalam adu penalti saat rekan setimnya menghiburnya - (Al Jazeera.com)

Perdana Menteri Johnson juga berdiri di belakang para pemain, mengatakan bahwa tim pantas dipuji sebagai pahlawan. "Mereka yang bertanggung jawab atas pelecehan yang mengerikan ini seharusnya malu pada diri mereka sendiri," tweetnya. Menyusul tweetnya, Johnson dikritik karena awalnya gagal mengutuk penggemar Inggris karena mencemooh tim sepak bola mereka karena berlutut sebagai protes terhadap ketidakadilan rasial.