Kisah Kaum yang Bertobat Karena Hampir Terkena Azab

Ahad , 01 Aug 2021, 04:53 WIB Reporter :Fuji E Permana/ Redaktur : Esthi Maharani
Nabi Yusuf AS (ilustrasi)
Nabi Yusuf AS (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kisah-kisah para Nabi dan Rasul, diceritakan kaum-kaum yang terkena azab karena mereka telah berbuat dosa secara berlebihan atau melampaui batas. Dikisahkan pula kaum yang hampir terkena azab, namun mereka segera bertobat ketika melihat azab.

 

Terkait

Allah SWT mengutus Nabi Yunus Alaihissalam kepada penduduk Ninawa (suatu wulayah di Irak). Seperti Nabi-nabi yang lainnya, Nabi Yunus menyeru mereka agar beribadah hanya kepada Allah SWT, namun penduduk Ninawa mendustakannya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah Wan-Nihayah yang diringkas Ahmad Al Khani menceritakan, proses Nabi Yunus mengajak penduduk Ninawa kembali ke jalan yang benar yang diridhoi Allah cukup panjang. Namun mereka tetap saja tidak mau mendengarkan ajakan dan nasihat Nabi Yunus.

Hingga pada akhirnya Nabi Yunus meninggalkan mereka dengan ancaman akan adanya azab setelah tiga malam berlalu. Setelah Nabi Yunus berhasil keluar dari kalangan mereka, penduduk Ninawa menyaksikan kebenaran turunnya azab kepada mereka.

Namun, Allah SWT meletakkan dalam hati penduduk Ninawa rasa untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Penduduk Ninawa juga menyesali perbuatan mereka kepada Nabi mereka. Kemudian, mereka mengenakan pakaian dari bulu dan memohon dan bertobat kepada Allah SWT.

Laki-laki, perempuan, anak laki-laki, anak perempuan, dan para ibu sama-sama menangis. Unta, sapi, dan kambing mengeluarkan suara. Hari itu menjadi sangat dahsyat dan menakutkan bagi penduduk Ninawa.

Dengan kekuatan, kekuasaan, kasih sayang, dan rahmat-Nya, Allah Yang Maha Agung membebaskan mereka dari azab. Mereka berjumlah 100 ribu orang.

Kisah kaum yang berobat sebelum tertimpa azab ini juga dijelaskan dalam Alquran dan Tafsir Kementerian Agama.

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu. (QS Yunus: 98)

Ayat ini menerangkan bahwa sikap yang paling baik dilakukan oleh suatu kaum ialah bila seorang Nabi/ Rasul menyeru kepada mereka untuk beriman kepada Allah dengan mengemukakan bukti-bukti kebenaran seruannya, lalu mereka berkenan menyambut seruan Nabi/ Rasul itu dengan beriman dan melaksanakan risalah yang dibawanya. Iman yang seperti itu adalah iman yang bermanfaat dan menguntungkan, karena itu dilakukan di saat seseorang dalam keadaan mampu memikul beban yang dipikulkan Allah kepadanya (taklif).

Iman itu tidak berfaedah bagi seseorang bila dia dalam keadaan tidak taklif, seperti iman Firaun di saat ia akan tenggelam di tengah lautan dan seperti iman orang-orang kafir di saat mereka diazab dalam neraka. Iman di saat itu tidak diterima lagi.

Kaum Nabi Yunus adalah kaum yang beriman dalam keadaan taklif, sehingga iman itu berfaedah bagi mereka.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini