Tafsir Prof Quraish Shihab tentang Istithaah 

Selasa , 03 Aug 2021, 14:18 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Tafsir Prof Quraish Shihab tentang Istitaah. Foto: Jamaah haji sedang wukuf di Arafah (Ilustrasi)
Tafsir Prof Quraish Shihab tentang Istitaah. Foto: Jamaah haji sedang wukuf di Arafah (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Dalam surah Ali Imran Ayat 97 Allah SWT menegaskan kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi yang memiliki kemampuan. Dihukumi kafir seorang yang beriman dia tidak mengerjakan haji padahal dia mampu.

 

Terkait

"....mengerjakan haji menuju Bait Allah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana, barang siapa mengingkari (kewajiban haji), makasesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam."

Baca Juga

Prof Quraish Shihab menjelaskan tentang redaksi dalam ayat 97 " Wallilahi ala an-nas" .

"Sungguh teliti edaksi ayat ini," tulis Prof Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah.

Ayat itu, kata beliau, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia. Demikian semua manusia dipanggil ke sana. Tetapi Allah Maha Bijaksana. Segera setelah menjelaskan kewajiban itu atas semua manusia, Yang Maha Bijaksana itu mengecualikan sebagian mereka dengan firman-Nya: Bagi yang sanggup mengadakan perjalananke sana. 

"Ini berarti yang tidak sanggup Allah memaafkan mereka," katanya.

Allah memaklumi keadaan mereka. Bagaimana dengan yang telah memenuhi syarat wajib melaksanakan haji, yakni yang sehat jasmani dan ruhani, memiliki kemampuan materi berupa biaya perjalanan dan selama perjalanan, serta biaya hidup untuk keluarga yang ditinggal, jalan menuju ke sana dan kembali pun aman, tidak ada perang tidak juga wabah penyakit? 

Mereka pastilah berdosa. Mereka berdosa karena menolak panggilan Allah swt. Itulah yang ditunjuk oleh  firman-Nya: 

"Wa man kafara/dan barang siapa kafir maka Allah Maha kaya, tidak butuh kepada seluruh alam."

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini