Nasaruddin Latif Penasihat Perkawinan Pertama Indonesia (2)

Rabu , 22 Sep 2021, 18:41 WIB Reporter :Ratna Ajeng Tedjomukti/ Redaktur : Agung Sasongko
Ilustrasi Suami Istri
Ilustrasi Suami Istri

IHRAM.CO.ID, Perjalanan tugas ke Amerika Serikat pada bulan Agustus 1957 memberi arti penting bagi karier dan pengabdiannya. Nasaruddin Latif bersama K H Z Arifin Datuk memenuhi undangan sidang tahunan Moral Re-Armament (MRA) Movement di Mackinac Island di tepi Danau Michigan dengan agenda membangun kembali moral dunia yang rusak.

 

Terkait

Dalam sidang tahunan MRA Nasaruddin Latif berkenalan dengan Prof Dr David Mace, tokoh dan pakar penasihat perkawinan (marriage counselor) terke muka di Amerika Serikat. Dengan reko mendasi David Mace, Nasaruddin memperoleh beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk memperdalam studi mengenai pernikahan dan keluarga di lembaga American Counseling Service New York Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Baca Juga

Sepulang dari Amerika Serikat tahun 1958, Nasaruddin menyusun buku Teori dan Praktik Nasehat Perkawinan yang diterbitkan tahun 1959. Buku tersebut ditulis sebagai pegangan bagi para penghulu, naib, dan pekerja sosial yang bergerak di bidang penasihatan perkawinan. Selain itu, dia juga menulis buku Ilmu Perkawinan (1962).

Sewaktu menjabat Kepala Kantor Urusan Agama Kotapraja Jakarta Raya Nasaruddin merintis pembentukan organisasi yang bergerak di bidang penasihatan perkawinan pertama di Indonesia. Bagi kita di Indonesia, selama masih memandang keluarga sebagai unit sosial yang fundamental bagi kehidupan nasional, maka ketidakstabilan perkawinan yang ditandai banyaknya perceraian tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Adanya Undang-Undang Perkawinan sekalipun, belum cukup menjamin seratus persen keteguhan perkawinan dan keharmonisan keluarga, sebab dapat dilihat buktinya di negara-negara lain yang sudah ada Undang-Undang Perkawinan, misalnya Amerika Serikat angka perceraian masih tinggi. Kita harus berusaha dengan segala jalan dan daya upaya yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki keadaan demikian," dalam salah satu pidatonya.