Ahad 10 Oct 2021 05:05 WIB

Ulama Ikut Mempertahankan Pancasila

Ulama tak hanya hadir dalam membidani lahirnya Pancasila tapi juga mempertahankannya

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Esthi Maharani
Ketua Majelis Syuro PKS Salim Assegaf Aljufrie
Foto: Republika
Ketua Majelis Syuro PKS Salim Assegaf Aljufrie

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Syura PKS, Salim Segaf Al-Jufri, mengungkapkan, peran ulama tidak hanya hadir dalam membidani lahirnya Pancasila tetapi juga juga ikut berjuang mempertahankan Pancasila melawan penjajah kolonial.

“Para ulama kita tidak hanya membidani lahirnya Pancasila. Sejarah telah mencatat bahwa para ulama berada pada garda terdepan saat mempertahankan Pancasila,” ujar Salim dalam siaran pers, Sabtu (9/10).

Hal itu dia sampaikan saat mengisi webinar bertajuk “Peran Ulama Dalam Membela dan Mempertahankan Pancasila". Webinar tersebut dilaksanakan oleh Bidang Pembinaan Pembangunan Keumatan dan Dakwah Partai Keadilan Sejahtera pada Jumat (8/10) malam.

Lebih lanjut Salim menyatakan, peran ulama dalam melahirkan dan menjaga ideologi Pancasila tidak perlu diragukan. Menueut Salim , sangat tidak tepat apabila terdapat anggapan bahwa umat Islam tidak setuju dengan keberadaan Pancasila di Indonesia.

"Sangat tidak tepat jika kemudian umat Islam dianggap tidak sependapat dengan keberadaan Pancasila, atau bahwa dikatakan melawan Pancasila,” pungkasnya.

Salim menceritakan, Hadharatus Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945. Fatwa resolusi jihad yang dikeluarkan Hasyim Asyari itu berhasil membangkitkan semangat para pemuda di seluruh Indonesia sehingga terjadi peristiwa Pertempuran 10 November di Surabaya.

“Perjuangan para santri dalam mempertahankan NKRI dan Pancasila ini akhirnya dicatat sebagai hari Pahlawan,” kata Salim.

Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional itu juga mengatakan, ulama tidak hanya berperan dalam membela ideologi Pancasila. Dia mengatakan, para ulama juga berada di garda terdepan dalam melawan paham komunisme yang sempat tumbuh subur di Indonesia.

“Perlawanan terhadap PKI ini dilakukan di berbagai pesantren di Jawa, mulai dari Pesantren Gontor, Pesantren Takeran, sampai dengan Pesantren Tegal Rejo,” tutur dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, KH Syukron Makmun menambahkan, peran ulama dalam mengusir kolonial dari Nusantara sudah dimulai ratusan tahun sebelum ada gerakan nasional. Itu dapat terlihat dari perjuangan Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan Imam Bonjol.

"Lihat Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Imam Bonjol sudah berjuang lebih dulu agar Nusantara tidak di bawah kekuasaan kolonial," ujar dia.

Perjuangan umat Islam dan ulama juga istikamah, termasuk dalam upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. "Silakan survei di Taman Makam Pahlawan di setiap kabupaten/kota. Silakan sensus siapa yang paling banyak berbaring di situ. Itu tanda bukti kontibusi ulama dan umat Islam terhadap NKRI," ungkap Syukran.

Sementara itu, sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara meminta agar para penguasa tidak melupakan ulama dalam perannya bagi NKRI. Ia menyebut, di depan Monas ada patung Pangeran Diponegoro yang menghadap Istana. Ia menyebut, simbol itu adalah pengingat jika penguasa di istana tidak boleh melupakan ulama dalam perjuangan nasional.

"Dari situ saja kita mengerti ulama sebagai garda terdepan mennjaga Indonesia, disimbolkan menjaga monumen nasional. Istana harus paham ini," papar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement