Muhammadiyah: Indonesia Gagal Bangkit Bila Bercerai Berai

Kamis , 18 Nov 2021, 12:38 WIB Reporter : Fuji E Permana/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof DR Haedar Nashir.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof DR Haedar Nashir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, menyampaikan pidato Milad Muhammadiyah ke-109 yang mengusung tema "Optimis Hadapi Covid-19: Menebar Nilai Utama." Dalam pidatonya, dia mengingatkan, Indonesia akan gagal bangkit dan maju jika para pihak bercerai berai.

 

Terkait

Prof Haedar mengatakan, bangsa Indonesia harus bangkit dari pandemi dan sigap menyelesaikan masalah-masalah negeri. Indonesia memiliki potensi dan peluang yang positif untuk bangkit dari pandemi dan menyelesaikan persoalan negeri. Kecintaan, kebersamaan, dan pengkhidmatan berbagai komponen bangsa masih bertumbuh dengan baik, sebagaimana ditunjukkan Muhammadiyah dan umat Islam maupun golongan keagamaan dan kebangsaan yang lain. 

"Banyak potensi anak negeri yang hebat dan berprestasi di dalam negeri maupun mancanegara, kekayaan alam dan budaya Indonesia sangatlah kaya sebagai anugerah Tuhan," kata Prof Haedar saat pidato Milad Muhammadiyah ke-109, Kamis (18/11).

Ia menyampaikan, Indonesia tahun ini bahkan memperoleh kepercayaan dunia. Presiden Joko Widodo dimandati memimpin Presidensi G20 tahun 2021-2022. Muhammadiyah menyampaikan apresiasi dan selamat atas pencapaian yang positif dan konstruktif di ranah global tersebut. 

Ia berharap, kepercayaan dari G20 (Group of Twenty) tersebut dijadikan modal penting membangun optimisme dan peluang positif. Agar Indonesia makin berkiprah proaktif di tingkat global sekaligus melakukan konsolidasi nasional untuk bangkit dan bergerak dinamis menjadi negara berkemajuan.

Prof Haedar menegaskan, sikap optimistik disertai ikhtiar bangkit niscaya dilakukan oleh pemerintah dan seluruh rakyat. Pandemi dan masalah negeri dapat diselesaikan secara simultan, jika semua pihak bersatu dalam bingkai Indonesia milik bersama. Disertai sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kehendak diri, kroni, golongan, dan kepentingan sendiri-sendiri.

"Indonesia akan gagal bangkit dan maju manakala para pihak bercerai-berai dan silang-sengketa tak berkesudahan dalam sangkar-besi keangkuhan kuasa dan anāniyyah-ḥizbiyyah (egoisme kelompok) yang merah menyala," ujarnya.

Menurutnya, Indonesia harus dibawa maju bersama dalam semangat persatuan Indonesia dan kepribadian bangsa. Kemajuan dan keunggulan Indonesia haruslah memiliki pondasi yang kokoh berlandaskan konstitusi, dasar negara Pancasila, serta nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan yang hidup dan mendarah-daging dalam jatidiri bangsa. Indonesia dengan nilai luhur serta potensi dan kekuatan yang dimilikinya harus mampu menjawab tantangan zaman di tengah dinamika perubahan yang kompleks saat ini dan ke depan.

"Khusus dalam menghadapi pandemi Covid-19, sikap optimistik disertai usaha-usaha yang maksimal penting untuk terus dilakukan agar Indonesia dapat mengatasi wabah ini dengan langkah yang semakin terencana," jelas Prof Haedar. 

Prof Haedar mengatakan, segala kebijakan dan ikhtiar kolektif mesti dilakukan secara simultan dan perencanaan ke depan yang matang. Termasuk dalam melakukan recovery dan penanganan dampak yang diakibatkan oleh pandemi selama dua tahun ini. Segala ikhtiar yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-rohaniah harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhiri pandemi ini. Allah memberikan jalan lapang bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh sebagaimana firman-Nya.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Ankabut: 69).

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini