Perancis Selidiki Kebocoran Dokumen Intelijen

Selasa , 23 Nov 2021, 17:39 WIB Reporter :Rizky Jaramaya/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Salah pengeboman di pembatasan Libya pada 2016-2018.
Salah pengeboman di pembatasan Libya pada 2016-2018.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Menteri Pertahanan Perancis, Florence Parly menyerukan penyelidikan terkait kebocoran data intelijen rahasia yang disalahgunakan oleh Mesir.

 

Terkait

Situs web investigasi Disclose, melaporkan transaksi rahasia antara Paris dan Kairo.

 

Situs website Disclose menerbitkan puluhan dokumen rahasia intelijen Perancis yang diberikan kepada Mesir. Dokumen tersebut diserahkan oleh tim intelijen yang terdiri dari empat tentara Perancis dan enam mantan personel militer.

 

Tim tersebut dikirim ke Mesir dalam sebuah misi dengan nama sandi Operasi Sirli pada  2016.  Pada saat itu, militer Prancis sedang melakukan penerbangan pengintaian di Libya. Ketika itu pejuang ISIS masih aktif dan Prancis khawatir pengaruh mereka dapat menyebar.

 

Disclose mengatakan, setidaknya 19 pemboman terhadap warga sipil terjadi antara 2016 hingga 2018. Pemboman ini terkait dengan dokumen intelijen Perancis yang diberikan ke Kairo. Perancis mengatakan, informasi mereka telah disalahgunakan oleh Mesir untuk melakukan pemboman yang menewaskan warga sipil.

 

Kementerian Pertahanan mengatakan, Mesir adalah mitra Perancis. Sejauh ini Perancis menjaga hubungan di bidang intelijen dan perang melawan terorisme.

 

“Selain itu, menteri pertahanan telah menuntut agar penyelidikan dilakukan terhadap informasi yang disebarluaskan oleh Disclose,” ujar pernyataan Kementerian Pertahanan Perancis.

 

Menurut Disclose, tim intelijen Perancis yang didampingi oleh seorang perwira Mesir mendengarkan percakapan tingkat tinggi secara langsung.  Disclose mengatakan, tim Perancis dengan cepat menyadari bahwa ancaman teroris sangat minim. Mesir menyalahgunakan informasi yang didapatkan untuk menargetkan penyelundupan manusia, penyelundupan barang seperti rokok dan makanan hingga senjata dan obat-obatan.

 

Satu catatan rahasia yang diterbitkan pada 22 Januari 2019 yang ditujukan kepada Menteri Angkatan Bersenjata Florence Parly menjelang kunjungan Macron ke Mesir, mengatakan, ada kasus penghancuran target yang terdeteksi oleh pesawat Perancis. Penting untuk mengingatkan Mesir bahwa, pengintaian pesawat bukanlah alat penargetan. 

 

 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini